BEI Ungkap Penyebab Pelemahan IHSG Akibat Tekanan Bursa Global dan Rupiah
Bursa Efek Indonesia (BEI) menjelaskan penyebab Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) ditutup melemah tajam sebesar 2,32 persen ke level 6.567,44 pada perdagangan Senin (18/5/2026). Penurunan ini dipicu oleh akumulasi koreksi dari bursa Asia yang tetap beroperasi saat pasar domestik libur pada akhir pekan sebelumnya.
Faktor ketidakpastian di pasar global dan liburnya pasar domestik menjadi sorotan utama otoritas bursa. Pelaksana tugas Direktur Utama BEI Jeffrey Hendrik memaparkan kondisi tersebut saat ditemui di Gedung BEI.
"Kalau kita melihat angka IHSG hari ini, pertama tentu ini karena pasar kita banyak ketidakpastian di pasar. Tetapi kita juga mencermati bahwa Kamis dan Jumat pasar Indonesia libur, sedangkan pasar global khususnya pasar Asia tetap buka," terang Jeffry kepada media termasuk jurnalis KompasTV, di Gedung BEI, Senin (18/5).
Koreksi yang terjadi pada indeks saham domestik dinilai masih sejalan dengan pergerakan yang dialami oleh pasar internasional. Dampak dari akumulasi hari libur tersebut langsung terlihat begitu perdagangan dalam negeri dibuka kembali.
"Nah, ditambah dengan sedikit lagi koreksi di hari ini, jadi sebenarnya koreksi kita hari ini in line dengan koreksi tiga hari yang ada di pasar global," ujarnya.
Kompas.tv memberitakan bahwa ketidakpastian geopolitik di Timur Tengah dan Rusia, fluktuasi harga minyak dunia, serta tekanan nilai tukar rupiah turut memperburuk kondisi pasar modal domestik. Meski koreksi berlangsung dalam, BEI memastikan tidak akan mengintervensi harga dan tetap menerapkan kebijakan trading halt jika penurunan menyentuh 8 persen.
"Yang kami pastikan berjalan dengan baik adalah infrastruktur perdagangan, kemudian pengaturan dan pengawasan perdagangan berjalan secara teratur dan efisien," ucap Jeffry.
Terkait rencana evaluasi MSCI pada Juni mendatang, pihak otoritas menghormati keputusan lembaga indeks global tersebut. Langkah ini dipandang sebagai konsekuensi jangka pendek dari reformasi pasar yang sedang berjalan.
"Kami menghormati sepenuhnya independensi dari global provider. Tetapi itu sudah kita antisipasi sebagai konsekuensi jangka pendek dari upaya-upaya reformasi yang kita lakukan bersama OJK dan SRO," terangnya.
Dalam menghadapi situasi pasar yang memiliki volatilitas tinggi, pergerakan investor diharapkan tetap mengutamakan analisis yang matang. Pihak bursa mengingatkan pelaku pasar untuk selalu menyesuaikan langkah dengan profil risiko individual.
"Pesan kami kepada seluruh investor tentu adalah agar seluruh investor tetap memperhatikan faktor fundamental, kemudian melakukan analisis secara cermat dan menyesuaikan strategi investasi sesuai dengan profil risiko masing-masing," tutur Jeffry.
What's Your Reaction?
-
0
Like -
0
Dislike -
0
Funny -
0
Angry -
0
Sad -
0
Wow