BMKG Sebut El Nino Menguat Modifikasi Cuaca Dipercepat di Enam Provinsi
Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) mengonfirmasi fenomena iklim El Nino telah memasuki intensitas kuat pada Selasa, 28 Juli 2026. Kondisi ini memicu percepatan operasi modifikasi cuaca guna mengantisipasi ancaman kekeringan serta kebakaran hutan dan lahan di berbagai daerah.
Penguatan El Nino ditunjukkan oleh Indeks Nino 3.4 yang mencatatkan angka +2,26 serta nilai Southern Oscillation Index sebesar -28,2. Hasil pemantauan BMKG pada Dasarian II Juli 2026 mencatat sebanyak 72,8 persen wilayah Indonesia atau 509 Zona Musim telah memasuki musim kemarau. Wilayah yang terdampak curah hujan kategori rendah mencakup 92,93 persen, sementara Hari Tanpa Hujan kategori ekstrem panjang atau lebih dari 60 hari terdeteksi di 70 titik pengamatan kawasan Jawa, Bali, dan Nusa Tenggara, dengan durasi terpanjang mencapai 80 hari di Kabupaten Purworejo, Jawa Tengah.
Kepala BMKG Teuku Faisal Fathani menjelaskan bahwa kondisi suhu permukaan laut di wilayah tengah Samudra Pasifik telah meningkat melebihi 0,5 derajat Celsius dari kondisi normal sehingga memerlukan kewaspadaan tinggi.
"Untuk saat ini kondisinya sudah masuk ke El Nino kuat. Jadi kita perlu mengantisipasi khususnya pada 2 hal. Yang pertama, antisipasi terkait dengan kekeringan, dan yang kedua terkait dengan kebakaran hutan dan lahan," kata Kepala BMKG Teuku Faisal Fathani.
Langkah penyemaian awan dilakukan BMKG bersama Badan Nasional Penanggulangan Bencana serta pihak swasta untuk memulihkan cadangan air waduk nasional demi menjaga pasokan irigasi, air bersih, dan pembangkit listrik.
"Kita punya 240 waduk, beberapa memang tidak semua itu kita coba isi agar bisa difungsikan untuk PLTA, bisa difungsikan untuk irigasi, dan air bersih," ujar Kepala BMKG Teuku Faisal Fathani.
Selain pengisian waduk, penyiraman buatan secara berkala diarahkan ke wilayah rawan kebakaran hutan dan lahan guna membasahi kawasan gambut. Enam provinsi prioritas pencegahan karhutla tersebut meliputi Riau, Jambi, Sumatera Selatan, Kalimantan Barat, Kalimantan Tengah, dan Kalimantan Selatan.
"Itu juga dilakukan secara berkala operasi modifikasi cuaca untuk menjenuhkan tanah di sana, tanah gambut di sana, agar dia tidak mudah terbakar. Termasuk kita melakukan di Kepulauan Riau juga untuk modifikasi cuaca, dan juga di Aceh, beberapa tempat secara situasional tergantung situasi dan kondisi," kata Kepala BMKG Teuku Faisal Fathani.
Kendati dominasi cuaca kering memicu munculnya titik panas di Jawa Tengah, Jawa Timur, Kalimantan, dan Sulawesi Selatan, BMKG mencatat potensi hujan lokal sedang hingga lebat masih dapat terjadi akibat dinamika atmosfer seperti Gelombang Kelvin, MJO, dan Bibit Siklon Tropis 92W di Laut Filipina.
What's Your Reaction?
-
0
Like -
0
Dislike -
0
Funny -
0
Angry -
0
Sad -
0
Wow