BMKG Memprediksi Puncak Musim Kemarau 2026 Terjadi pada Agustus
Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika atau BMKG memprediksi sebagian besar wilayah Indonesia akan mengalami puncak musim kemarau pada Agustus 2026. Prediksi yang dirilis Direktorat Perubahan Iklim BMKG pada Rabu, 20 Mei 2026, mencatat sebanyak 429 Zona Musim atau 61,4 persen wilayah tanah air terdampak pada bulan tersebut.
Wilayah yang diprediksi mengalami puncak kemarau pada Agustus meliputi Sumatera bagian tengah dan selatan, Jawa bagian tengah hingga timur, Bali, NTB, sebagian NTT, sebagian besar Kalimantan, sebagian besar Sulawesi, sebagian Maluku, Maluku Utara, dan sebagian Pulau Papua. BMKG menyebut musim kemarau tahun ini datang lebih cepat dengan 184 ZOM telah memulainya sejak Mei 2026.
Selain Agustus, sebagian wilayah lain akan mengalami puncak kemarau pada Juli sebanyak 88 ZOM dan September sebanyak 100 ZOM. Meski sudah memasuki kemarau, Deputi Bidang Klimatologi BMKG Ardhasena Sopaheluwakan menjelaskan bahwa pada 18 hingga 24 Mei 2026 sebagian besar wilayah Indonesia masih berpotensi mengalami hujan ringan hingga lebat.
Untuk mengantisipasi risiko kekeringan serta kebakaran hutan dan lahan, BMKG mengembangkan layanan prediksi cuaca berbasis data yang akurat. Langkah antisipasi ini disampaikan oleh Sekretaris Utama BMKG Guswanto yang menekankan pentingnya kesiapsiagaan sejak dini dari tingkat pemerintahan hingga sektor teknis.
Akurasi informasi cuaca diperkuat dengan pemanfaatan radar cuaca dan sistem prakiraan berbasis nowcasting untuk memantau potensi hujan ekstrem. Plt Deputi Bidang Meteorologi BMKG Andri Ramdhani menyatakan layanan informasi ini kini sengaja dibuat agar lebih mudah diakses oleh masyarakat luas.
"Informasi mengenai prediksi, sekarang ini sudah sampai level desa. Jadi kalau lihat di aplikasi itu kan sudah bisa per kelurahan atau per desa, kita berusaha agar forecasting itu akurat," kata Andri Ramdhani, Plt Deputi Bidang Meteorologi BMKG.
Langkah penanggulangan kemarau juga diperkuat melalui rencana pelaksanaan Operasi Modifikasi Cuaca yang terkoordinasi secara ketat di lapangan. Deputi Bidang Modifikasi Cuaca BMKG Tri Handoko Seto menyebutkan bahwa pemantauan kondisi awan dan cuaca di wilayah sasaran akan terus dilakukan secara berkala sebelum operasi tersebut dieksekusi.
Sementara itu, kondisi di tingkat daerah menunjukkan beberapa wilayah selatan Jawa Tengah sudah mulai memasuki awal musim kemarau sejak dasarian pertama Mei 2026. Berdasarkan laporan BMKG Stasiun Meteorologi Tunggul Wulung Cilacap, indikator penetapan musim kemarau merujuk pada batas intensitas curah hujan yang terukur.
"Suatu wilayah dinyatakan memasuki musim kemarau apabila curah hujannya di bawah 50 milimeter per dasarian selama tiga dasarian berturut-turut," ujar Teguh Wardoyo, Ketua Tim Kerja Pelayanan Data dan Diseminasi Informasi BMKG Stasiun Meteorologi Tunggul Wulung Cilacap.
Teguh menjelaskan bahwa satu dasarian merupakan periode sepuluh harian, sehingga batas akumulasi kemarau setara dengan kurang dari 150 milimeter per bulan. Berdasarkan data BMKG, wilayah seperti Kecamatan Maos telah mencatat curah hujan di bawah ambang batas tersebut.
"Dalam musim kemarau tetap masih ada hujan, hanya saja jumlahnya kurang dari 50 milimeter per dasarian atau kurang dari 150 milimeter per bulan," kata Teguh Wardoyo, Ketua Tim Kerja Pelayanan Data dan Diseminasi Informasi BMKG Stasiun Meteorologi Tunggul Wulung Cilacap.
Sejumlah kecamatan di Kabupaten Cilacap seperti Binangun, Kroya, dan Sidareja tercatat telah mengalami penurunan curah hujan selama dua dasarian berturut-turut. BMKG memprakirakan musim kemarau 2026 di Jawa Tengah bagian selatan akan berlangsung dengan kondisi curah hujan di bawah normal.
What's Your Reaction?
-
0
Like -
0
Dislike -
0
Funny -
0
Angry -
0
Sad -
0
Wow