BPBD Cirebon Distribusikan Air Bersih Hadapi Kekeringan Kemarau 2026
Dampak musim kemarau di wilayah Cirebon memicu krisis air bersih hingga membuat Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) menyalurkan bantuan ratusan ribu liter air ke wilayah kabupaten dan kota mulai Agustus 2026.
Penyaluran bantuan air bersih di Kabupaten Cirebon telah menyasar 1.252 kepala keluarga atau 3.460 jiwa di empat desa, yaitu Desa Slangit, Sampiran, Sibubut, dan Panongan Lor. Pasokan yang dikirim menggunakan armada tangki berkapasitas 4.000 liter tersebut menargetkan wilayah yang krisis air akibat kemarau.
Data BPBD Kabupaten Cirebon mencatat distribusi air bersih dialokasikan sebanyak 12.000 liter untuk Kecamatan Klangenan, serta masing-masing 4.000 liter untuk wilayah Talun, Gegesik, dan Sedong. Distribusi dilakukan secara bertahap sejak 9 Agustus 2026 dan ditingkatkan menjadi 4.000 liter per hari pada 11 hingga 13 Agustus 2026.
Sementara itu di wilayah Kota Cirebon, penyaluran bantuan air bersih terfokus di Kecamatan Harjamukti, khususnya Kelurahan Argasunya seperti kawasan Cadas Ngampar RW 05 dan RW 08. Pasokan disalurkan terjadwal setiap Senin sampai Jumat dengan volume minimal 8.000 liter per hari menggunakan dua unit mobil tangki.
Plt Kepala Pelaksana BPBD Kabupaten Cirebon Samsul Huda menjelaskan bahwa penanganan krisis air di wilayahnya memprioritaskan pemenuhan kebutuhan dasar masyarakat yang kehilangan akses sumber air.
"Bantuan air bersih telah disalurkan ke Desa Sibubut, Kecamatan Gegesik, Desa Slangit, Kecamatan Klangenan, Desa Sampiran, Kecamatan Talun, dan Desa Panongan Lor, Kecamatan Sedong," katanya.
Menurut Samsul, pemetaan tiga tahun terakhir menunjukkan ada lima kecamatan yang berpotensi tinggi mengalami krisis air bersih dengan total warga terdampak mencapai 563.000 jiwa. BPBD mengusulkan pembangunan 10 titik sumur bor ke pemerintah pusat, penambahan armada tangki, serta normalisasi embung sebagai solusi jangka panjang.
"Sumur bor menjadi salah satu solusi yang dipandang efektif karena dapat menyediakan sumber air yang lebih berkelanjutan dibandingkan hanya mengandalkan distribusi tangki," ujarnya.
Samsul juga mengingatkan agar masyarakat penerima bantuan memanfaatkan pasokan air yang dikirimkan untuk kebutuhan darurat sehari-hari secara efisien.
"Penanganan kekeringan tidak hanya dilakukan ketika warga sudah mulai kesulitan mendapatkan air, tetapi juga dipersiapkan jauh sebelum musim kemarau kembali datang," katanya.
Ia meminta warga untuk hemat dalam pemanfaatan air.
"Gunakan dengan bijak, sesuai kebutuhan sehari-hari," pesannya.
Di sisi lain, Plt Kepala Pelaksana BPBD Kota Cirebon Eko Kuswantoro menyampaikan bahwa kerawanan kekeringan di wilayah kota sejauh ini masih terkonsentrasi pada satu kecamatan.
"Untuk kerawanan hidrometeorologi saat ini, kekeringan baru terjadi di Kecamatan Harjamukti, khususnya Kelurahan Argasunya," kata Eko.
Eko menambahkan bahwa armada bantuan di lapangan turut mendapat dukungan dari pengerahan kendaraan tangki milik Kodim. Selain itu, BPBD Kota Cirebon meningkatkan kapasitas Tim Reaksi Cepat dalam menghadapi situasi darurat musim kemarau.
"Sudah dijadwalkan selama satu minggu, Senin sampai Jumat, per harinya minimal 8.000 liter," ujarnya.
Pelatihan personel difokuskan pada penanganan gangguan satwa liar yang kerap muncul di pemukiman selama kemarau.
"Peningkatan kapasitas tersebut antara lain mencakup kemampuan penyelamatan reptil atau reptile rescue untuk menghadapi laporan masyarakat terkait keberadaan satwa tersebut. Apalagi saat musim kemarau," kata Eko.
What's Your Reaction?
-
0
Like -
0
Dislike -
0
Funny -
0
Angry -
0
Sad -
0
Wow