Buku Pengabdian Ginandjar Kartasasmita Ungkap Rekam Jejak Nasionalisme Ekonomi

Smallest Font
Largest Font

Gagasan penguatan industri dalam negeri dan pembinaan pengusaha pribumi menjadi benang merah dalam perjalanan karier Ginandjar Kartasasmita. Dilansir dari Detik Finance, catatan perjalanan tersebut dirangkum dalam buku berjudul Ginandjar Kartasasmita: Pengabdian dari Masa ke Masa karya Suhartono dkk.

Kiprah mendorong produksi domestik dimulai saat Ginandjar dipercaya menjabat Menteri Muda Urusan Peningkatan Penggunaan Produksi Dalam Negeri pada 1983. Langkah tersebut melahirkan sejumlah pengusaha nasional yang dikenal sebagai "Ginandjar Boys", seperti Aburizal Bakrie, Arifin Panigoro, Fadel Muhammad, dan Fahmi Idris.

Mantan Wakil Presiden Jusuf Kalla memberikan kesaksian dalam pengantar buku terbitan Penerbit Buku Kompas setebal sekitar 500 halaman itu.

"Usaha peningkatan produksi domestik benar-benar dilakukan saat itu oleh Ginandjar secara optimal sehingga mendorong kemajuan usaha produksi dalam negeri," tulis Kalla.

Kalla menambahkan bahwa pembinaan terhadap pelaku usaha pribumi dilakukan secara tulus tanpa meminta balas jasa. Perlindungan industri nasional dirancang sebagai jembatan pembentukan kapasitas teknologi dan daya saing pasar, bukan tujuan akhir.

Prinsip ekonomi tersebut terus dibawa ketika Ginandjar menjabat Menteri Pertambangan dan Energi serta Kepala Bappenas. Rekam jejaknya merekam dinamika sejak 1965, melintasi era Soekarno, Soeharto, hingga Reformasi.

Momen krusial terjadi pada 20 Mei 1998 di tengah krisis politik dan ekonomi. Ginandjar bersama 13 menteri mengundurkan diri melalui Deklarasi Bappenas dan menolak bergabung dalam kabinet baru bentukan Presiden Soeharto.

Keputusan tersebut sempat memicu tudingan pengkhianatan. Namun, hubungan baik tetap terjalin pascamundurnya Soeharto dari kursi kepresidenan.

Soeharto mengirimkan ucapan selamat usai Ginandjar dilantik Presiden BJ Habibie sebagai Menko Ekuin Kabinet Reformasi Pembangunan.

"Selamat atas pengangkatannya sebagai Menteri pada Kabinet Reformasi Pembangunan. Semoga sukses dalam pengabdian," tulis Soeharto dalam surat tertanggal 22 Mei 1998.

Surat balasan dikirimkan Ginandjar lima hari kemudian untuk menjelaskan alasan di balik keputusan bersama para menteri.

"...sama sekali tidak ada niat di hati kami sekecil apa pun untuk berkhianat kepada Bapak," tulisnya.

Fase pasca-Orde Baru juga menghadirkan tantangan hukum bagi pria kelahiran 9 April 1941 ini. Saat pemerintahan Presiden Abdurrahman Wahid, Ginandjar bergegas kembali dari Boston, Amerika Serikat, untuk memenuhi panggilan Kejaksaan Agung terkait dugaan korupsi.

Pemeriksaan di Gedung Bundar dijalani menggunakan kursi roda dan penyangga leher sebelum sempat ditahan. Status tersangka tersebut akhirnya dibebaskan melalui praperadilan Pengadilan Negeri Jakarta Selatan dan resmi dicabut Kejaksaan Agung pada 2009.

Pengabdian publik alumni Universitas Pertanian dan Teknologi Tokyo ini berlanjut sebagai Wakil Ketua MPR (1999–2004), Ketua DPD RI pertama (2004–2009), serta anggota Dewan Pertimbangan Presiden era SBY-JK.

Buku ini menegaskan keberadaan negara pada masa itu dalam membangun kapasitas pelaku ekonomi nasional melalui pemberian kesempatan belajar, pembinaan teknologi, dan penyiapan daya saing pasar.

Follow pdiperjuanganbali.id Add to preferred sources on Google
Editors Team
Daisy Floren

What's Your Reaction?

  • Like
    0
    Like
  • Dislike
    0
    Dislike
  • Funny
    0
    Funny
  • Angry
    0
    Angry
  • Sad
    0
    Sad
  • Wow
    0
    Wow

Most viewed