Casey Stoner Tolak Bagikan Ilmu Balap Secara Gratis Ke Pembalap Lain

Smallest Font
Largest Font

Mantan juara dunia MotoGP Casey Stoner menegaskan tidak akan lagi membagikan ilmu serta pengetahuannya tentang dunia balap secara gratis kepada siapa pun di paddock kejuaraan. Sikap tersebut diambil lantaran ia merasa pengorbanannya selama ini sering kali tidak mendapatkan penghargaan yang setimpal.

Pernyataan tersebut disampaikan legenda balap asal Australia itu usai menghadiri ajang World Ducati Week di Misano dan Festival of Speed di Goodwood. Meskipun pembalap Ducati Pecco Bagnaia dan manajer tim Davide Tardozzi menyampaikan terima kasih atas bantuan nasihatnya, Stoner memilih untuk menutup pintu bantuan cuma-cuma di masa depan.

Stoner menilai banyak pihak yang mendekatinya hanya saat membutuhkan saran, namun langsung melupakannya setelah mendapatkan apa yang diinginkan.

"Saya sudah terlalu banyak berkorban, tapi berkali-kali saya tidak menerima balasan seperti yang saya harapkan. Rasanya tidak ada penghargaan ketika melakukan hal-hal seperti ini. Merupakan kehormatan besar bagi saya mendengar Pecco berterima kasih kepada saya, dan saya melakukannya hanya untuk membantunya. Tapi kedepannya, saya tidak akan melakukan hal seperti itu untuk siapa pun," kata Casey Stoner, mantan pembalap MotoGP.

Kekecewaan tersebut membuat legenda balap berusia 40 tahun itu enggan kembali ke paddock MotoGP sebagai manajer maupun penasihat tim tanpa adanya imbalan yang jelas.

"Saya tidak akan berbagi pengetahuan saya dengan siapa pun, tanpa imbalan. Sayangnya, dulu saya sudah terlalu sering melakukannya. Awalnya mereka mendekati kita karena butuh bantuan, tapi setelah mereka mendapatkan apa yang diinginkan, mereka akan melupakan kita begitu saja.

Saya tidak akan membuat kesalahan yang sama lagi. Saya tidak akan membantu tanpa alasan, dan saya tidak akan melakukannya secara cuma-cuma. Itulah alasan utama saya," tegas Casey Stoner, mantan juara dunia MotoGP dua kali.

Penolakan membagikan ilmu secara gratis ini juga berdampak pada niatnya membantu pembinaan pembalap muda di tanah airnya, Australia.

"Saat ini dunia balap motor di Australia benar-benar sedang sulit, nyaris tidak ada apa-apa. Tidak ada anggaran yang cukup untuk melakukan 'sesuatu', semuanya sangat rumit. Bahkan keinginan untuk membantu pembalap muda pun juga sulit. Dan masalahnya selalu sama, semua itu menghabiskan banyak waktu," ungkap Casey Stoner, mantan pembalap MotoGP.

Ia menegaskan prioritas utamanya saat ini adalah keluarga, sehingga tidak ingin membuang energi untuk hal yang dianggap sia-sia.

"Saya tidak ingin membuang waktu dan energi saya untuk hal-hal yang tidak penting, ketika ada keluarga yang harus saya prioritaskan. Saya akan menunggu kesempatan yang tepat, dan mungkin kedepannya saya akan mengabdikan diri untuk membantu. Tetapi saya tidak akan memberikan pengetahuan saya secara gratis kepada orang-orang yang kemudian berpaling dari saya dan menganggap itu hal biasa. Sekarang cara pandang saya berbeda," lanjut Casey Stoner, mantan pembalap MotoGP.

Selain masalah pembinaan dan bantuan teknis, Stoner melontarkan kritik keras terhadap hilangnya Sirkuit Phillip Island dari kalender MotoGP mulai tahun depan, yang akan digantikan sirkuit jalanan di Adelaide.

"Ini benar-benar menyedihkan. Pada saat yang sama, ini menunjukkan kepada kita ke mana arah MotoGP kedepannya. Ini bukan lagi tentang kemurnian balapan, padahal inilah yang saya perjuangkan selama ini. MotoGP mulai mengulangi kesalahan yang pernah dilakukan F1," tegas Casey Stoner, legenda balap motor asal Australia.

Menurutnya, dominasi teknologi dan perangkat aerodinamika di MotoGP modern justru mengikis esensi dasar dari kemampuan alami pembalap.

"Kita mengalami masalah yang sama dengan aerodinamika yang semakin mendominasi. Saat ini semakin banyak perangkat yang dipasang pada motor, yang sebenarnya tidak dibutuhkan. Beberapa tahun yang lalu, sebenarnya F1 sudah menyadari hal-hal ini.

Secara teknologi memang sangat maju, tetapi tidak sebanding dengan MotoGp yang terus menambahkan berbagai perangkat baru. Harus ada batasan," tambah Casey Stoner, mantan juara dunia MotoGP.

Stoner juga meragukan aspek keamanan jika perlombaan MotoGP dipindahkan ke sirkuit jalan raya kota.

"Sepertinya mereka akan mencoba balapan di sirkuit dalam kota. Menurut saya, mustahil membuat sirkuit jalanan yang benar-benar aman. Seperti yang terjadi pada Marco Bezzecchi di Assen, ketika dia nyaris menabrak dinding pembatas. Bahkan di trek permanen yang punya area run-off yang luas, pembalap tetap masih bisa menabrak dinding," tegas Casey Stoner, mantan pembalap MotoGP.

Ia menilai karakter trek Phillip Island yang ikonik tidak bisa digantikan oleh lokasi balapan baru mana pun.

"Phillip Island berada di lokasi yang fantastis. Memang tidak mudah untuk mencapai tempat itu dan fasilitas di sekitar trek juga tidak memadai. Tetapi justru sepadan dengan kualitas treknya.

Trek tersebut selalu menyuguhkan balapan terbaik setiap musim, selalu memberikan sesuatu yang istimewa. Dan sekarang kita kehilangan semua itu, yang benar-benar sangat saya sesalkan," pungkas Casey Stoner, mantan pembalap MotoGP.

Kritik Stoner turut menyasar rencana perubahan regulasi mesin 850cc pada musim 2027. Ia mengkhawatirkan penggunaan fitur elektronik seperti anti-highside dan stability control akan memperpendek zona pengereman serta membuat aksi menyalip semakin sulit, sehingga mengurangi peran keterampilan murni pembalap di atas lintasan.

Follow pdiperjuanganbali.id Add to preferred sources on Google
Editors Team
Daisy Floren

What's Your Reaction?

  • Like
    0
    Like
  • Dislike
    0
    Dislike
  • Funny
    0
    Funny
  • Angry
    0
    Angry
  • Sad
    0
    Sad
  • Wow
    0
    Wow

Most viewed