Dokter Indonesia Terapkan Operasi Transplantasi Ginjal Robotik

Smallest Font
Largest Font

Penerapan teknologi robotik dalam layanan urologi dan uronefrologi di Indonesia kini mulai menyamai standar internasional, khususnya pada tindakan operasi tumor ginjal, kanker prostat, hingga transplantasi ginjal. Perkembangan ini disampaikan oleh Spesialis Urologi Prof Dr dr Nur Rasyid SpU(K) dalam acara The 6th Siloam Urology Nephrology Summit 2026 di Jakarta Pusat, Sabtu (8/8/2026), sebagaimana dilansir dari Detik Health.

Penggunaan instrumen robotik memungkinkan tim medis melakukan prosedur pembedahan dengan sayatan minim berukuran 1 hingga 4 centimeter. Metode ini mampu meminimalkan risiko perdarahan, mengurangi komplikasi, mempercepat masa pemulihan, serta memberikan hasil kosmetik yang lebih baik tanpa mengurangi kualitas fungsi ginjal pasien.

"Kalau kita bicara penyakit di bidang urologi bisa tumor ginjal, bisa kanker prostat, bisa kelainan bawaan dari anak masih kecil, dan kalau di Indonesia sekarang pelayanannya sebenarnya kualitasnya sudah sama dengan internasional," ujar Prof Nur Rasyid.

Siloam Hospitals Asri tercatat sebagai salah satu pusat penanganan berdisiplin tinggi di Indonesia setelah menangani sebanyak 543 kasus transplantasi ginjal. Tingginya volume tindakan medis ini menjadi syarat penting karena prosedur transplantasi membutuhkan kesiapan tim multidisiplin, mulai dari dokter anestesi hingga tim pemantau pascaoperasi di ICU.

"Kalau kita pakai robot, dibuka lubang kecil 1 cm, 3 sampai 4 cm, tangan kita di luar. Luka yang kecil itulah yang menyebabkan penyembuhan lebih baik bagi pasien dan kualitas hidup setelah operasi lebih baik," jelas Prof Nur Rasyid.

Pemanfaatan transplantasi ginjal berbasis robotik ini menempatkan Indonesia sebagai negara pelopor di kawasan Asia Tenggara, mendahului fasilitas kesehatan di Singapura dan Malaysia. Penerapan teknik pembedahan ini mengacu pada panduan European Robotic Urology Section (ERUS) serta prinsip Enhanced Recovery After Surgery (ERAS).

"Paling banyak tentu di RSCM. Tapi jumlah transplant di atas 50, di Asri itu antara 50-100 lebih setahun, itu angka yang dianggap high volume center of kidney transplant," kata Prof Nur Rasyid.

Kesiapan sumber daya manusia dan kerja tim yang solid menjadi faktor krusial sebelum sebuah pusat kesehatan mengadopsi prosedur ini. Karena itu, teknologi robotik tidak disarankan untuk diterapkan pada pusat layanan medis yang baru memulai program transplantasi.

"Kalau kita bicara robotic assisted kidney transplant, kita duluan. Sampai hari mekar di Singapura, di Malaysia belum melakukan robotic assisted kidney transplant," ujarnya.

Meski teknologi ini terus berkembang sejak pertama kali dipelajari di Eropa pada 2016, keterjangkauan akses masih menjadi tantangan utama di tanah air. Saat ini fasilitas dan layanan pembedahan robotik di Indonesia baru tersedia secara terbatas di wilayah Jakarta.

"Jadi jelas pathway-nya tadi berdasarkan European Robotic Urology Section, ERUS, ada tahapan-tahapan yang harus dilalui untuk sebuah center yang high volume," jelas Prof Nur Rasyid.

Pengembangan fasilitas dan pemerataan tenaga ahli ke berbagai daerah menjadi langkah krusial berikutnya agar manfaat penanganan medis berbasis teknologi ini dapat dirasakan lebih luas oleh masyarakat.

"Di Indonesia sekarang baru hanya ada di Jakarta. Jadi kalau untuk masyarakat memang harus datang ke Jakarta kalau ingin mendapatkan layanan robot," ujarnya.

Follow pdiperjuanganbali.id Add to preferred sources on Google
Editors Team
Daisy Floren

What's Your Reaction?

  • Like
    0
    Like
  • Dislike
    0
    Dislike
  • Funny
    0
    Funny
  • Angry
    0
    Angry
  • Sad
    0
    Sad
  • Wow
    0
    Wow

Most viewed