Dosen Unair Nilzam Aly Sebut Tiket Pesawat Domestik Mahal Jadi Ancaman Nyata Wisata Lokal
Dosen Destinasi Pariwisata Fakultas Vokasi Universitas Airlangga (UNAIR) Nilzam Aly menyoroti lonjakan harga tiket pesawat domestik yang kini menjadi ancaman nyata bagi keberlangsungan sektor wisata lokal pada hari ini, Minggu (24/5/2026). Tingginya biaya transportasi udara tersebut dinilai langsung memukul perputaran ekonomi daerah akibat penurunan jumlah kunjungan wisatawan secara signifikan.
Nilzam Aly menyatakan bahwa persoalan ini merupakan masalah serius yang harus segera dievaluasi oleh pemerintah pusat. Menurut penilaiannya, tarif tinggi yang dibebankan kepada masyarakat saat ini sama sekali tidak berbanding lurus dengan kualitas layanan penerbangan yang diterima konsumen sehari-hari.
Dampak tiket pesawat mahal bagi pariwisata kini mulai dirasakan secara meluas oleh para pelaku usaha di berbagai daerah. Kondisi tersebut memicu rentetan efek domino yang merugikan ekosistem pariwisata dari hulu hingga ke hilir.
Dampak Terhadap Ekonomi Daerah dan Okupansi Penginapan
Penurunan angka kunjungan wisatawan domestik secara otomatis menekan tingkat keterisian kamar atau okupansi penginapan di berbagai destinasi. Pelaku usaha perhotelan dan homestay lokal kini kesulitan mencapai target keterisian yang disebabkan oleh keengganan masyarakat melakukan perjalanan jarak jauh.
Lebih lanjut, Nilzam Aly menegaskan bahwa situasi ini melambatkan perputaran ekonomi lokal secara masif. Sektor Usaha Mikro Kecil dan Menengah (UMKM) yang mengandalkan perbelanjaan dari pelancong domestik ikut merasakan imbas penurunan omzet yang drastis.
Kondisi ini paling parah dirasakan di wilayah kawasan Indonesia Timur. Aksesibilitas wilayah yang sangat bergantung pada transportasi udara membuat destinasi di kawasan tersebut semakin terisolasi dari jangkauan wisatawan nusantara yang memiliki anggaran terbatas.
Masyarakat sering mempertanyakan "kenapa tiket pesawat lokal mahal banget" dibandingkan dengan rute internasional. Salah satu penyebab tiket domestik mahal dipengaruhi oleh struktur biaya operasional maskapai dan komponen pajak yang dibebankan pada setiap lembar tiket penerbangan.
Saat ini terdapat komponen Pajak Pertambahan Nilai (PPN) sebesar 11 persen yang melekat pada tiket pesawat domestik. Aturan ppn tiket pesawat terbaru diatur dalam Peraturan Menteri Keuangan Nomor 24 Tahun 2026 yang memberikan sedikit kelonggaran fiskal bagi pengguna transportasi udara.
Pemerintah menetapkan kebijakan menanggung PPN 11 persen tersebut khusus untuk tiket pesawat kelas ekonomi. Regulasi keringanan pajak ini dijadwalkan berlaku terbatas sampai tanggal 23 Juni 2026 mendatang guna stimulus sementara industri penerbangan.
Rincian Komponen Beban Biaya Tiket Domestik
Berikut adalah rincian komponen utama yang membentuk struktur harga jual tiket pesawat domestik di Indonesia berdasarkan regulasi yang berlaku saat ini:
- Tarif Jarak (Tarif Batas Atas dan Tarif Batas Bawah)
- Pajak Pertambahan Nilai (PPN) sebesar 11 persen
- Iuran Wajib Jasa Raharja (IWJR)
- Fluktuasi biaya bahan bakar avtur penerbangan
- Passenger Service Charge (PSC) atau pajak bandara
Guna memberikan gambaran mengenai perbandingan beban tarif yang harus dibayarkan konsumen, berikut disajikan tabel estimasi perbandingan harga berdasarkan komponen pajak reguler dibandingkan masa pemberlakuan insentif pemerintah:
| Jenis Penerbangan | Tarif Dasar (Estimasi) | Komponen PPN Reguler (11%) | Status PPN DTP (Hingga 23 Juni 2026) |
|---|---|---|---|
| Domestik Kelas Ekonomi | Rp1.500.000 | Rp165.000 | Ditanggung Pemerintah |
| Domestik Kelas Bisnis | Rp3.500.000 | Rp385.000 | Tetap Dikenakan Beban Konsumen |
"Mahalnya tiket pesawat domestik merupakan ancaman nyata bagi wisata lokal dan masalah serius yang harus segera dievaluasi pemerintah karena harga saat ini tidak berbanding lurus dengan kualitas layanan penerbangan," kata Nilzam Aly selaku Dosen Destinasi Pariwisata Fakultas Vokasi Universitas Airlangga.
Persoalan tarif penerbangan ini memicu kekhawatiran meluas bahwa masyarakat akan lebih memilih opsi wisata luar negeri murah. Evaluasi menyeluruh terhadap tata kelola industri penerbangan nasional kini menjadi desakan utama dari berbagai akademisi dan praktisi kepariwisataan demi menyelamatkan sektor ekonomi kreatif di daerah.
What's Your Reaction?
-
0
Like -
0
Dislike -
0
Funny -
0
Angry -
0
Sad -
0
Wow