Pemerintah dan Pakar Evaluasi Literasi Nasional pada Hari Buku 2026
Pemerintah Kota Pontianak, para pakar pendidikan, dan pegiat literasi merefleksikan kondisi minat baca masyarakat yang memprihatinkan dalam peringatan Hari Buku Nasional pada Minggu, 17 Mei 2026.
Data UNESCO tahun 2023 menunjukkan indeks baca masyarakat Indonesia hanya 0,001 yang berarti hanya satu dari 1.000 orang yang rajin membaca, serta menempatkan Indonesia di urutan ke-60 dari 61 negara terkait minat baca.
Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah Abdul Mu’ti menyatakan bahwa 75 persen anak usia 15 tahun berada di bawah standar kompetensi minimum karena mampu membaca namun kurang memahami isi bacaan.
Berdasarkan survei Program for International Student Assessment (PISA) tahun 2022, kemampuan membaca siswa Indonesia berada di peringkat ke-63 dari 81 negara atau posisi ke-6 di Asia Tenggara.
Kepala Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Kota Pontianak Rendrayani menyatakan bahwa buku cetak tetap memegang peranan krusial untuk membangun pola pikir kritis di tengah gempuran informasi instan internet.
"Tantangan terbesar saat ini adalah kebiasaan masyarakat yang lebih banyak mengakses informasi secara cepat tanpa memahami inti bacaan secara menyeluruh," ujar Rendrayani, Sabtu, 16 Mei 2026.
Pemerintah Kota Pontianak kini mengimplementasikan penguatan literasi berbasis inklusi sosial untuk menghidupkan kembali budaya membaca lintas sektor.
"Upaya tersebut diperkuat melalui Surat Keputusan Wali Kota Pontianak Nomor 35 Tahun 2025 yang melibatkan keluarga, sekolah, pemerintah hingga dunia usaha dalam membudayakan membaca," imbuh Rendrayani.
Gedung Layanan Perpustakaan Kota Pontianak menggelar serangkaian acara seperti lomba bercerita siswa sekolah dasar hingga program Night at Library untuk memperingati momen ini.
Seorang penggemar buku Fitrah Rhama Diansyah menilai bahwa Hari Buku Nasional menjadi bentuk apresiasi besar bagi para pembaca dan pegiat literasi untuk menjadikan buku sebagai sarana refleksi diri.
"Melalui hari buku ini merupakan apresiasi tersendiri dari bagi kita. Udah sebanyak ini, ta kita baca buku, " jelas Fitrah Rhama Diansyah.
Fitrah juga mengajak publik membangun konsistensi membaca dari tahapan paling sederhana seperti menyelesaikan satu paragraf terlebih dahulu.
Di tingkat nasional, Prof Dr Hj Evi Fatimatur Rusydiyah melalui tulisan di duta.co menyoroti rendahnya kunjungan ke perpustakaan fisik yang hanya mencapai 3,99 persen, serta minimnya pemenuhan kebutuhan pustakawan sekolah yang baru berkisar 0,1 persen.
Kompas.com mencatat sejarah Hari Buku Nasional yang dicanangkan pertama kali pada tahun 2002 oleh Menteri Pendidikan Nasional Abdul Malik Fadjar, memilih tanggal 17 Mei agar selaras dengan hari berdirinya Perpustakaan Nasional Republik Indonesia (Perpusnas RI) pada tahun 1980.
Selain Hari Buku Nasional, tanggal 17 Mei juga diperingati secara global sebagai Hari Hipertensi Sedunia yang digagas World Hypertension League semenjak 2005, serta Hari Telekomunikasi dan Masyarakat Informasi Sedunia untuk memperingati berdirinya International Telegraph Union tahun 1865.
What's Your Reaction?
-
0
Like -
0
Dislike -
0
Funny -
0
Angry -
0
Sad -
0
Wow