Fenomena Job Hugging Bayangi Generasi Z dan Milenial
Tantangan baru di dunia kerja membuat Generasi Z dan milenial memilih bertahan dalam posisi yang tidak lagi sesuai keinginan. Kondisi ini dikenal dengan istilah job hugging.
Seperti dikutip dari Detik Health, perilaku tersebut berbeda dari job hopping. Job hopping merupakan kebiasaan berganti pekerjaan secara berkala demi kenaikan gaji, pengalaman baru, serta perkembangan karier yang lebih cepat.
Job hugging menggambarkan keadaan saat seorang karyawan tetap bertahan pada peran tertentu meski tidak bahagia atau kurang merasa puas. Dilansir dari NDTV, pekerja cenderung memilih tetap bertahan walau kurang tertantang dan kurang terlibat akibat takut terhadap risiko perubahan posisi.
Fenomena ini menunjukkan pergeseran dari lonjakan perekrutan pascapandemi, saat berpindah tempat kerja sering dianggap sebagai bukti ambisi serta pertumbuhan karier.
Pendiri BoldHR, Rebecca Houghton, memberikan penjelasannya terkait kondisi tersebut.
"Para pekerja tidak 'berpegangan' pada pekerjaan mereka karena mereka menyukainya. Mereka 'berpegangan' pada pekerjaan mereka karena, terus terang, alternatifnya terlihat lebih buruk," kata Rebecca Houghton.
Dikutip dari News.com.au, prioritas utama sebagian besar pekerja saat ini adalah keamanan. Keandalan gaji tetap menjadi pilihan utama daripada mengejar peluang baru di luar.
Langkah ini mencerminkan sikap hati-hati dibandingkan bentuk loyalitas kepada perusahaan. Di tengah situasi ekonomi yang tidak pasti, mempertahankan peran yang sudah dipahami dinilai lebih aman ketimbang mengambil risiko di tempat baru.
Melansir laporan CNBC, maraknya fenomena ini dipengaruhi oleh perubahan ekonomi global serta dinamika pasar kerja.
Aktivitas perekrutan dilaporkan mengalami perlambatan signifikan hingga menyentuh level terendah sejak 2013. Minimnya kesempatan baru mendorong para pekerja lebih berhati-hati sebelum mengambil keputusan karier.
Kesadaran akan situasi ekonomi yang tidak menentu juga semakin meningkat. Menurut ekonom ketenagakerjaan ZipRecruiter AS, Nicole Bachaud, ketidakpastian pasar menjadi alasan utama pekerja memilih untuk mempertahankan posisi mereka.
Psikolog klinis, Dr Kaitlin Harkess, mengingatkan adanya risiko di balik perilaku ini. Meskipun memberikan rasa lega sesaat melalui stabilitas dan keamanan, dampaknya bisa lebih berat dalam jangka panjang.
Dr Kaitlin Harkess turut memaparkan bahaya dari lingkungan kerja yang kurang sesuai.
"Pekerjaan dan lingkungan kerja yang tidak sesuai dapat mengikis kepercayaan diri dan motivasi. Mulai dari kehilangan keterlibatan hingga burnout, kesehatan kita ikut terdampak," ujar Dr Harkess.
Dr Harkess menilai kecenderungan bertahan akibat rasa takut dan sunk cost berpotensi memunculkan rasa ketidakberdayaan.
"Dari sudut pandang psikologis, bahayanya adalah semakin lama seseorang bertahan karena rasa takut dan sunk cost, semakin merasa tidak berdaya dan terjebak," katanya.
Kondisi ini dapat memicu peningkatan gejala kecemasan, depresi, serta penurunan rasa percaya diri. Dampak lanjutannya adalah kesulitan untuk beralih dan kehilangan makna dari pekerjaan itu sendiri.
Meski begitu, tidak semua tindakan bertahan di satu tempat kerja tergolong sebagai job hugging yang tidak sehat. Seseorang bisa saja memilih bertahan demi stabilitas agar memiliki kebebasan fokus pada keluarga atau minat pribadi.
Dalam skenario tersebut, individu secara sadar siap menghadapi ketidaknyamanan untuk mencapai tujuan penting baginya. Sebaliknya, job hugging yang tidak sehat didorong oleh ketidakmampuan menoleransi ketidakpastian dari suatu perubahan.
"Perilaku ini mungkin terlihat sama dari luar, tetapi motivasi psikologis di baliknya, yakni antara rasa takut dan pilihan, membuat perbedaan besar terhadap kualitas hidup," ujarnya.
What's Your Reaction?
-
0
Like -
0
Dislike -
0
Funny -
0
Angry -
0
Sad -
0
Wow