FIFA Tolak Gugatan Belgia Terkait Penangguhan Hukuman Folarin Balogun
Komite Banding FIFA menolak gugatan Federasi Sepak Bola Belgia (RBFA) terkait keputusan penangguhan hukuman larangan bertanding penyerang Amerika Serikat Folarin Balogun menjelang laga babak 16 besar Piala Dunia 2026 di Seattle pada Selasa, 7 Juli 2026.
Keputusan penangguhan tersebut membuat Balogun tetap bisa bermain menghadapi Belgia setelah mendapat kartu merah langsung saat melawan Bosnia dan Herzegovina pada pertandingan sebelumnya. FIFA menyatakan gugatan RBFA tidak dapat diterima karena federasi tersebut bukan merupakan pihak dalam proses disiplin penyerang berusia 25 tahun itu.
Presiden FIFA Gianni Infantino menegaskan bahwa keputusan dari badan yudisial tersebut diambil secara independen dan bebas dari intervensi politik maupun pihak luar lainnya. Infantino juga membenarkan adanya komunikasi via telepon dari Presiden Amerika Serikat Donald Trump mengenai kasus kartu merah striker yang membela USMNT itu.
"Badan yudisial FIFA bekerja secara independen tanpa campur tangan pihak mana pun. Independensi mereka sangat penting bagi kredibilitas dan integritas sepak bola, dan hal itu harus selalu dihormati," ujar Gianni Infantino, Presiden FIFA yang dilansir dari FIFA Media.
Menurut Infantino, penegakan regulasi dan Kode Disiplin FIFA didasarkan pada fakta-fakta hukum yang ada di lapangan. Ia menjelaskan kepada Trump bahwa sistem di internal badan sepak bola dunia tersebut memiliki mekanisme baku yang harus dipatuhi semua pihak.
"Saya memang menerima telepon dari Presiden Donald Trump, sebagaimana saya juga menerima telepon dari kepala negara, pejabat pemerintah, dan para pemangku kepentingan sepak bola dari berbagai belahan dunia," tutur Gianni Infantino, Presiden FIFA.
Infantino menambahkan bahwa ia secara pribadi tidak selalu sependapat dengan hasil sidang atau keputusan yang dikeluarkan oleh Komite Disiplin FIFA. Namun, supremasi hukum dan otonomi lembaga harus tetap dijaga demi integritas kompetisi global.
"Terkadang saya setuju, terkadang saya tidak setuju. Namun, saya selalu menghormati keputusan tersebut dan otonomi badan yang membuatnya," kata Gianni Infantino, Presiden FIFA.
Di sisi lain, pihak RBFA mengecam keras penangguhan hukuman tersebut karena menganggap proses penentuan kelayakan pemain berjalan tidak transparan. Melalui rilis resminya, Belgia mengklaim belum mendapatkan salinan dokumen resmi ataupun laporan dari wasit pertandingan.
"Hingga saat ini, RBFA masih belum menerima dasar keputusan tersebut. Kami juga belum memperoleh salinan keputusan, penjelasan yang menyatakan pemain tersebut memenuhi syarat untuk tampil, maupun laporan wasit yang telah kami minta sejak awal proses. Hal ini merupakan pelanggaran terhadap regulasi FIFA," demikian pernyataan resmi RBFA.
Federasi Belgia juga telah mengirimkan nota keberatan tertulis kepada Federasi Sepak Bola Amerika Serikat (US Soccer). Langkah hukum lanjutan tetap dipertimbangkan jika nama Balogun masuk dalam susunan pemain resmi di lapangan.
"RBFA telah memberi tahu Federasi Sepak Bola Amerika Serikat bahwa kami menggugat kelayakan pemain tersebut apabila namanya tercantum dalam daftar pemain. Dengan demikian, seluruh langkah hukum lebih lanjut tetap terbuka," lanjut pernyataan resmi RBFA.
Pelatih kepala tim nasional Belgia Rudi Garcia ikut angkat bicara mengenai kontroversi penangguhan sanksi setahun untuk Balogun berdasarkan Pasal 27 Kode Disiplin FIFA ini. Garcia mempertanyakan etika di balik keputusan yang dinilai pertama kali terjadi dalam sejarah Piala Dunia.
"The Belgian federation isn't just defending itself or the national team; it's defending football in general — its integrity and its ethics," kata Rudi Garcia, Pelatih Belgia dalam konferensi pers.
Meskipun mengkritik situasi eksternal tersebut, Garcia menegaskan fokus utamanya tetap mempersiapkan strategi tim di lapangan hijau. Target utama Belgia adalah mengamankan kemenangan untuk melaju ke babak perempat final.
"As far as I recall, I think this is the first time in World Cup history that a decision like this has been made. Anyway, I'm the coach, so I'm going to focus on my team and the match — it doesn't matter who makes up the USA's starting lineup. What matters to me is the pitch, my team, winning, and reaching the quarterfinals," tambah Rudi Garcia, Pelatih Belgia.
Sementara itu, pelatih Amerika Serikat Mauricio Pochettino membela keputusan FIFA dan menganggap penolakan banding tersebut sudah adil. Pochettino menilai kartu merah yang diterima Balogun saat laga melawan Bosnia tidak seharusnya diberikan oleh wasit Raphael Claus.
"For me, there isn't much debate here, though I do understand Belgium's perspective and Rudi's point of view," kata Mauricio Pochettino, Pelatih Amerika Serikat yang dilansir dari The Athletic.
Pochettino menyangkal anggapan bahwa tim nasional Amerika Serikat diuntungkan oleh relasi politik dalam keputusan penangguhan sanksi kartu merah ini. Menurutnya, kerugian justru sudah dialami timnya karena harus bermain dengan 10 orang selama lebih dari 30 menit pada laga fase gugur sebelumnya.
"I understand why people conflate issues — people always do, because there's often an agenda to mix things up — but in this case, I don't think it's right," tutur Mauricio Pochettino, Pelatih Amerika Serikat.
Mantan manajer Chelsea itu juga menegaskan posisi timnya yang berada di tengah badai kritik publik sepak bola internasional. Ia menolak jika skuad asuhannya dilabeli sebagai pihak yang berbuat curang dalam polemik kelayakan tampil Balogun.
"If anyone was harmed in this whole situation, it was the United States. Can anyone justify the idea that we weren't punished? I mean, playing 30 or 35 minutes a man down in a World Cup knockout match?
It's not as if we're benefiting. No, no. There's no extraordinary gain we're getting out of all this.
I mean, ultimately, we aren't victims, but we aren't the villains of this story either," tegas Mauricio Pochettino, Pelatih Amerika Serikat.
What's Your Reaction?
-
0
Like -
0
Dislike -
0
Funny -
0
Angry -
0
Sad -
0
Wow