Javier Tebas dan Sepp Blatter Desak Gianni Infantino Mundur
Presiden La Liga Javier Tebas dan mantan Presiden FIFA Sepp Blatter mengecam kepemimpinan Gianni Infantino serta mendesaknya mundur dari jabatan Presiden FIFA pada Selasa (21/7/2026). Tebas menilai Infantino merusak industri sepak bola demi kepentingan turnamen internasional.
Kritik keras tersebut mengemuka menyusul rencana ekspansi Piala Dunia 2030 menjadi 64 tim, durasi jeda turun minum final Piala Dunia 2026 yang diperpanjang hingga 27 menit, serta keputusan kontroversial komite disiplin FIFA yang menangguhkan sanksi kartu merah pemain Amerika Serikat, Folarin Balogun.
Tebas menilai penambahan jumlah peserta Piala Dunia tidak masuk akal dan merugikan kompetisi domestik yang menjadi penopang utama industri sepak bola.
"Meningkatkan jumlah tim nasional tidak masuk akal. Industri sepak bola bukan hanya Piala Dunia, yang memang merupakan ajang terpenting. Namun, tidak semuanya bisa berputar di sekitar Piala Dunia," kata Presiden La Liga Javier Tebas.
Ia mengkritik kebijakan FIFA yang dinilai merusak ekosistem sepak bola yang mempekerjakan puluhan ribu orang demi turnamen singkat.
"Industri sepak bola bukan hanya Piala Dunia. Tidak semuanya bisa berputar di sekitar Piala Dunia. Kompetisi nasional yang menopang olahraga ini," ujar Tebas.
Tebas menegaskan bahwa perlindungan terhadap sepak bola domestik jauh lebih dibutuhkan ketimbang penambahan jadwal pertandingan internasional.
"Mereka memusnahkan industri sepak bola, yang menghasilkan puluhan ribu lapangan kerja, demi ajang yang berlangsung 40 hari dan melibatkan minoritas pemain. Kita butuh lebih sedikit tim nasional dan lebih banyak perlindungan untuk sepak bola nasional, di semua tingkatan. Mereka tidak menyadari, mereka membuat keputusan yang tidak bertanggung jawab," tutur Tebas.
Tebas juga berpendapat bahwa masa jabatan Infantino di induk organisasi sepak bola dunia tersebut sudah sepatutnya berakhir.
"Menurut pendapat saya, ya, saya rasa waktunya sudah habis," kata Tebas.
Kendati demikian, ia mengakui sistem pemilihan di FIFA membuat Infantino sulit dilengserkan karena minimnya kandidat oposisi.
"Namun, dia memiliki dukungan dari sistem, dari federasi, jadi tidak banyak lagi yang bisa ditambahkan, bukan? Tidak ada kandidat oposisi; tidak ada yang mau maju hanya untuk kalah. Ini adalah sistemnya, dan ini adalah sistem yang rusak hingga ke akarnya. Dia tidak boleh bertahan, tetapi kondisi saat ini membuat dia tidak akan pergi," ucap Tebas.
Tebas menambahkan bahwa keheningan para pihak yang menentang Infantino turut memperburuk kondisi sepak bola saat ini.
"Beberapa hari terakhir di Amerika ini, saya mendengar banyak orang yang menentang Infantino, yang tidak setuju dengan apa yang dia lakukan," ujar Tebas.
Ia mempertanyakan sikap pasif tersebut karena kerugian yang dialami industri sepak bola sudah sangat nyata.
"Mereka menyuarakannya, tetapi kemudian tidak melakukan apa-apa. Saya tidak tahu mana yang lebih buruk, keheningan atau keterlibatan, karena mereka yang tetap diam sepenuhnya sadar akan kerusakan yang dialami sepak bola," kata Tebas.
Di sisi lain, skandal penangguhan hukuman Folarin Balogun sebelum laga melawan Belgia disebut Tebas hampir mengancam posisi Infantino, sebelum akhirnya tim AS tersingkir.
"Penangguhan larangan bertanding pemain Amerika itu sangat serius; mereka beruntung Belgia mengeliminasi AS, karena jika tidak, kasus bisa muncul yang mungkin merenggut jabatan Infantino. Karena Belgia menang, mereka berhasil mengubur masalah tersebut. Namun hal-hal ini hanyalah puncak gunung es," kata Tebas.
Tebas juga menuding FIFA memanfaatkan jeda hidrasi dan jeda turun minum untuk kepentingan komersial serta iklan semata.
"FIFA mengatur segalanya sesuai keinginannya, untuk apa yang diinginkannya, untuk kepentingannya sendiri, tentu bukan untuk sepak bola. Jadi, jika mereka membutuhkan jeda turun minum 27 menit, mereka akan mengadakannya. Jeda hidrasi adalah kebohongan.
Kami memilikinya di La Liga, tetapi hanya saat cuaca benar-benar panas. Di sini, lapangan di Dallas, Los Angeles, Atlanta memiliki pendingin udara; saya harus memakai sweter di tribun. Itu adalah kebohongan, jeda untuk iklan," ujar Tebas.
Mantan Presiden FIFA Sepp Blatter turut menyuarakan kritik senada melalui akun media sosialnya usai berakhirnya turnamen.
"Piala Dunia terpanjang telah berakhir dengan juara yang tepat," tulis mantan Presiden FIFA Sepp Blatter di X.
Blatter mengkritik campur tangan politik yang dinilai merusak kredibilitas kompetisi sepak bola terbesar di dunia tersebut.
"Namun dalam perjalanan menuju peluit akhir, turnamen tersebut kehilangan kredibilitasnya. Politik tidak boleh dibiarkan membayangi pertandingan," kata Blatter.
Ia meminta seluruh pemangku kepentingan sepak bola untuk merebut kembali tata kelola olahraga ini di bawah kepemimpinan baru.
"Kini, giliran para penggemar, pemain, dan asosiasi nasional untuk merebut kembali sepak bola dan mengembalikannya ke jati diri aslinya di bawah kepemimpinan baru," ucap Blatter.
Organisasi suporter Football Supporters Europe (FSE) juga mendesak adanya reformasi struktur tata kelola di tubuh FIFA demi mengembalikan hak konsultasi klub dan suporter.
"Piala Dunia 2026 seharusnya menjadi perayaan permainan dan suporter yang memberinya kehidupan. Sebaliknya, turnamen ini terlalu sering menjadi studi kasus tentang apa yang sangat salah dengan sepak bola saat ini," tulis Football Supporters Europe dalam pernyataan resminya.
FSE menilai FIFA di bawah Infantino lebih mementingkan keuntungan finansial dan komersialisasi dibanding integritas olahraga.
"Pelajaran dari Piala Dunia ini jelas: FIFA tidak layak memimpin sepak bola global. Masa depan permainan ini tidak boleh berada di tangan seorang pria yang telah membuktikan berkali-kali bahwa ia menempatkan kepentingan finansial dan politik di atas masa depan permainan kita," tulis FSE.
Gianni Infantino dijadwalkan kembali mencalonkan diri untuk masa jabatan keempat dalam kongres pemilihan FIFA pada Maret 2027 di Maroko.
What's Your Reaction?
-
0
Like -
0
Dislike -
0
Funny -
0
Angry -
0
Sad -
0
Wow