Film Pesta Babi Sorot Ekspansi Lahan Keluarga Martias Fangiono
Kontroversi penayangan film dokumenter berjudul Pesta Babi: Kolonialisme di Zaman Kita memicu sorotan publik terhadap jaringan bisnis perkebunan milik keluarga konglomerat Martias Fangiono di wilayah Papua Selatan pada Senin, 18 Mei 2026.
Film tersebut memantik diskusi luas mengenai konflik lahan, proyek strategis nasional (PSN), serta dugaan kerusakan lingkungan hutan adat akibat ekspansi industri sawit dan tebu. Publik kini menyoroti keterkaitan sejumlah nama besar dan perusahaan konsesi lahan berskala luas yang beroperasi di Merauke.
Salah satu figur yang ramai diperbincangkan di media sosial adalah Angelia Bonaventure Sudirman, pengusaha yang dilaporkan memiliki hubungan kekeluargaan dengan pendiri Grup Surya Dumai, Martias Fangiono. Laporan investigasi lingkungan menyebut Angelia sebagai pemegang saham mayoritas pada beberapa perusahaan konsesi lahan di Papua, seperti PT SHL dan PT SHE.
Selain aktif sebagai pebisnis gaya hidup dan pemegang saham, nama Angelia terseret dalam polemik ini karena korporasi tempatnya bernaung dituding merambah kawasan hutan adat masyarakat setempat. Isu penguasaan lahan ini kian memanas setelah beberapa agenda nonton bareng film dokumenter tersebut dibubarkan secara paksa di sejumlah daerah.
Di sisi lain, gurita bisnis keluarga Martias Fangiono dipimpin oleh generasi kedua, termasuk Ciliandra Fangiono yang menjabat sebagai CEO First Resources. Grup bisnis yang telah berdiri sejak era 1980-an ini mengelola ratusan ribu hektare sawit di Sumatra dan Kalimantan, serta tercatat di Bursa Singapura.
Nama keluarga Fangiono dikaitkan dengan proyek food estate dan gula nasional melalui konsorsium perkebunan tebu serta bioetanol di Merauke. Kendati demikian, laporan dari sawitku.id menyebutkan bahwa pihak First Resources sebelumnya telah membantah memiliki hubungan dengan perusahaan-perusahaan yang menjalankan proyek tebu di wilayah tersebut.
What's Your Reaction?
-
0
Like -
0
Dislike -
1
Funny -
0
Angry -
0
Sad -
0
Wow