IHSG Anjlok 3,56 Persen Akibat Sentimen MSCI di Bursa Efek Indonesia
Aksi hindari aset berisiko memicu kemerosotan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) sebesar 3,56 persen ke level 5.883,88 pada penutupan perdagangan Rabu (24/6).
Berdasarkan data Bursa Efek Indonesia yang dilansir dari ANTARA, indeks LQ45 ikut melemah 3,39 persen ke posisi 578,17. Sebanyak 646 saham terkoreksi, sementara nilai transaksi mencapai Rp15,13 triliun dengan pelemahan terdalam di sektor barang baku sebesar 6,26 persen.
Laporan berkala Morgan Stanley Capital International (MSCI) yang membuka opsi penurunan kelas pasar modal Indonesia ke Frontier Market menjadi pemicu utama kecemasan investor.
"Hal ini direspons negatif oleh investor, di tengah minimnya katalis positif di bursa," tulis Phintraco Sekuritas, lembaga riset bursa.
Senior Technical Analyst Mirae Asset Sekuritas Indonesia Nafan Aji Gusta menjelaskan bahwa investor asing mengantisipasi adanya perbaikan regulasi.
"Asing kerap mengantisipasi adanya perbaikan bobot (weighting) atau kejelasan regulasi yang lebih akomodatif. Ketika hasil review tidak membawa katalis positif baru atau justru menyoroti isu struktural, aliran dana keluar (capital outflow) jangka pendek menjadi respons alami akibat aksi ambil untung (profit taking) atau rebalancing portofolio," jelas Nafan Aji Gusta, Senior Technical Analyst Mirae Asset Sekuritas Indonesia.
Nafan menambahkan bahwa tekanan eksternal dari dinamika geopolitik Timur Tengah serta kebijakan suku bunga global turut memengaruhi pasar global.
"Ditambah lagi dengan narasi market bergeser menjadi higher for longer, bahkan sebagian pelaku pasar mulai menunda ekspektasi pemangkasan Fed Rate. Kondisi ini biasanya kurang ideal untuk emerging market termasuk Indonesia," ungkap Nafan Aji Gusta, Senior Technical Analyst Mirae Asset Sekuritas Indonesia.
Sementara itu, Pengamat Pasar Modal Elandry Pratama menilai sentimen pasar tertekan oleh pergerakan yield US Treasury dan pelemahan rupiah yang mendekati Rp18.000 per dolar AS.
"Dari eksternal, pasar masih mencermati arah suku bunga global, pergerakan yield US Treasury, serta penguatan dolar AS yang mendorong investor lebih berhati-hati terhadap aset berisiko di emerging markets. Dari domestik, pelemahan rupiah yang sempat menyentuh level Rp18.000 per dolar AS turut menekan market sentiment dan memicu aksi profit taking," ujar Elandry Pratama, Pengamat Pasar Modal.
Elandry mengemukakan bahwa hasil tinjauan berkala dari MSCI belum memberikan sentimen positif yang baru bagi pergerakan bursa saham dalam negeri dalam jangka pendek.
"Hasil review MSCI yang belum membawa perubahan status Indonesia juga membuat pasar belum memperoleh katalis positif baru dalam jangka pendek," ujar Elandry Pratama, Pengamat Pasar Modal.
Menurut Elandry, situasi tersebut menyebabkan aliran modal asing cenderung menahan diri dan lebih memilih bersikap selektif terhadap portofolio mereka.
"Kondisi tersebut membuat aliran dana asing belum masuk secara agresif dan cenderung selektif pada saham-saham berfundamental kuat dan likuiditas tinggi," ujar Elandry Pratama, Pengamat Pasar Modal.
Namun, pasar masih memiliki peluang membaik apabila kondisi mata uang rupiah kembali bergerak stabil dan kebijakan fiskal nasional memberikan kepastian.
"Namun, apabila tekanan eksternal mulai mereda, rupiah kembali stabil, dan terdapat kejelasan arah kebijakan ekonomi pemerintah yang mampu meningkatkan kepercayaan pasar, peluang terjadinya technical rebound dan perbaikan market sentiment tetap terbuka," ujar Elandry Pratama, Pengamat Pasar Modal.
Penutupan perdagangan saham mencatat pelemahan bursa regional Asia, di mana indeks Nikkei melemah 0,88 persen, sementara bursa domestik membukukan frekuensi perdagangan sebanyak 2.009.000 kali transaksi.
What's Your Reaction?
-
0
Like -
0
Dislike -
0
Funny -
0
Angry -
0
Sad -
0
Wow