Keputusan MSCI Tekan Rupiah Hingga Dekati Rp18.000 per Dolar AS
Nilai tukar rupiah merosot tajam hingga mendekati level Rp18.000 per dolar AS akibat tekanan pasar setelah MSCI menunda keputusan final terkait status pasar saham Indonesia hingga November 2026 pada perdagangan Rabu (24/6).
Berdasarkan data Bloomberg yang dikutip IDNFinancials.com, mata uang rupiah melemah 0,52 persen atau 93 poin ke posisi Rp17.952 per dolar AS, yang memperparah akumulasi penurunan sejak awal tahun menjadi 7,63 persen. Tekanan ini terjadi bersamaan dengan pelemahan mata uang emerging market Asia Pasifik lainnya terhadap dolar AS, di mana won Korea mencatat penurunan terdalam sebesar 0,87 persen.
Penundaan evaluasi oleh MSCI tersebut juga memicu aksi jual di pasar modal, menyebabkan seluruh indeks sektoral melemah dengan koreksi terdalam di sektor barang baku sebesar 6,64 persen. Head of Research Phintraco Sekuritas, Ratna Lim, menjelaskan bahwa sentimen negatif bersumber dari langkah MSCI yang tetap membuka peluang reklasifikasi pasar saham Indonesia ke Frontier Market jika reformasi pasar modal tidak konsisten.
"Itu tadinya mungkin investor sudah optimis, habis ini sudah bebas. Tapi ternyata ada hal itu," jelas Ratna.
Kendati demikian, Ratna melihat adanya sisi positif karena MSCI memilih tidak mengubah status Indonesia saat ini dan mengapresiasi reformasi pasar sejak awal tahun. Selain itu, faktor eksternal seperti ketidakpastian global dinilai tetap menjadi sentimen positif bagi pasar saham domestik seiring meredanya ketegangan antara Amerika Serikat dan Iran di Timur Tengah.
Terkait pergerakan nilai tukar, fokus pelaku pasar kini tertuju pada kebijakan moneter bank sentral Amerika Serikat yang dapat memicu depresiasi mata uang lebih lanjut.
"Bagi domestik sendiri kalau suku bunga The Fed naik, USD meningkat, rupiah kembali terdepresiasi," imbuhnya.
What's Your Reaction?
-
0
Like -
0
Dislike -
0
Funny -
0
Angry -
0
Sad -
0
Wow