Indika Energy Klarifikasi Isu Jual Kideco dan Fokus Proyek Emas Awak Mas

Smallest Font
Largest Font

PT Indika Energy Tbk (INDY) memberikan klarifikasi resmi terkait rumor rencana penjualan tambang Kideco yang beredar di pasar, guna menjaga kepercayaan investor di tengah upaya diversifikasi bisnis ke sektor emas dan energi hijau.

Saham INDY pada perdagangan Senin (27/7/2026) menunjukkan penguatan signifikan sebesar 2,83 persen ke level Rp2.540 per saham, dengan volume transaksi mencapai 9,2 juta saham dan nilai Rp23,49 miliar, menandakan minat pasar yang meningkat terhadap saham ini, menurut data Bursa Efek Indonesia.

Kinerja keuangan Indika Energy juga mencatat tren positif di kuartal I-2026, dengan pendapatan sebesar Rp8,31 triliun naik 2,3 persen dan laba bersih melonjak 145,9 persen menjadi Rp118,3 miliar. EBITDA tumbuh 40,7 persen menjadi Rp636 miliar, didorong efisiensi operasional dan kontribusi besar dari anak usaha batu bara, PT Kideco Jaya Agung, yang menyumbang 72,8 persen dari total pendapatan kotor perseroan.

Corporate Secretary PT Indika Energy, Adi Pramono, menjelaskan,

"Sehubungan dengan pemberitaan media baru-baru ini mengenai portofolio investasi perseroan, perseroan tidak memberikan komentar atas rumor atau spekulasi pasar."

Adi menegaskan bahwa setiap informasi material akan disampaikan secara transparan melalui saluran resmi perusahaan sesuai ketentuan keterbukaan informasi.

Di sisi lain, Indika Energy tengah menggalakkan target kontribusi pendapatan non-batu bara sebesar 50 persen pada 2028 melalui proyek tambang emas Awak Mas di Sulawesi Selatan. Proyek ini, dengan investasi US$429 juta dan kontraktor utama Macmahon, telah mencapai 43 persen progres konstruksi per Oktober 2025 dan direncanakan uji coba produksi akhir 2026 serta produksi komersial kuartal I-2027.

BRI Danareksa Sekuritas mencatat,

"Konstruksi 43% completion per Oktober 2025, target trial production akhir 2026, commercial production Q1 2027."

Capex non-batu bara tahun 2026 dialokasikan sebesar Rp445 miliar, termasuk US$20,4 juta untuk Awak Mas dan US$5,8 juta untuk inisiatif energi hijau serta pengembangan ekosistem kendaraan listrik.

BRI Danareksa Sekuritas menambahkan,

"Katalis utamanya commercial production Awak Mas Q1 2027 yang mana jadi binary trigger untuk re-rating."

Manajemen berharap komunikasi yang jelas terkait isu divestasi dan strategi diversifikasi dapat menjaga stabilitas valuasi serta kepercayaan investor di tengah tantangan transisi energi dan volatilitas pasar komoditas.

Follow pdiperjuanganbali.id Add to preferred sources on Google
Editors Team
Daisy Floren

What's Your Reaction?

  • Like
    0
    Like
  • Dislike
    0
    Dislike
  • Funny
    0
    Funny
  • Angry
    0
    Angry
  • Sad
    0
    Sad
  • Wow
    0
    Wow

Most viewed