Industri Pergadaian Tumbuh 33% di Tengah Ketidakpastian Ekonomi

Smallest Font
Largest Font

Industri pergadaian nasional mencatat pertumbuhan pesat dengan penyaluran pinjaman melonjak lebih dari 33% secara tahunan (YoY), menembus Rp103,36 triliun, dilansir dari data Otoritas Jasa Keuangan (OJK).

PT Pegadaian (Persero) sebagai pemain utama mencatat kenaikan outstanding loan gross lebih dari 58% YoY, dengan rasio kredit macet (NPL) di bawah 1%, lebih rendah dibanding sektor keuangan lainnya.

Di outlet Pegadaian Kramat Raya, Jakarta Pusat, antrean nasabah terlihat padat. Rahmawati (42), pemilik usaha katering, menggadaikan kalung emas 5 gram untuk mendapatkan modal usaha.

"Bahan-bahan pokok lagi naik semua, sementara saya dapat pesanan katering untuk acara akhir pekan ini. Kalau nunggu pembayaran dari klien minggu depan, modalnya tidak muter. Ke sini cuma butuh 15 menit, uang modal langsung cair ke rekening," ujar Rahmawati.

Bagi Rahmawati, gadai bukan pilihan terakhir, melainkan solusi likuiditas cepat saat birokrasi pinjaman bank terlalu rumit.

Lanskap pergadaian kini tak lagi didominasi BUMN. Pemain swasta berizin OJK seperti Pusat Gadai Indonesia dan Gadai Top tumbuh di berbagai wilayah, didukung aturan POJK Nomor 39 Tahun 2024 dan UU P2SK.

Skema penjaminan berbasis aset (collateral-based lending) menjadi kunci daya tarik pergadaian. Saat perbankan selektif dan pinjaman online (pinjol) berhadapan dengan persepsi bunga tinggi, gadai menawarkan alternatif pendanaan cepat.

Fenomena ini tak hanya terjadi di kalangan masyarakat menengah ke bawah. Segmen kelas atas dan pengusaha kini juga memanfaatkan gadai untuk aset mewah seperti jam tangan Patek Philippe, tas Hermès Birkin, hingga logam mulia.

PT Lesca Gadai Premier, salah satu pemain pergadaian premium, menawarkan pendanaan hingga miliaran rupiah dengan jaminan aset bernilai tinggi. Direktur Lesca Gadai Premier, Bastian Purnama, menjelaskan keunggulan skema ini.

"Kenaikan harga emas perhiasan dan logam mulia di pasar global saat ini adalah kesempatan emas bagi para kolektor dan pengusaha. Melalui skema pendanaan berbasis aset yang kami tawarkan, mereka dapat memanfaatkan nilai laten dari koleksi premium tersebut secara maksimal. Mereka bisa mendapatkan pencairan dana hingga miliaran rupiah berdasarkan taksiran harga pasar terkini yang sedang tinggi, namun aset fisik mereka tetap utuh di bawah kepemilikan mereka," ujar Bastian.

Lesca Gadai Premier mengusung konsep Discreet Liquidity dengan layanan White Glove Service, memungkinkan nasabah premium mendapatkan pencairan dana tanpa mendatangi kantor.

"Bagi para pemimpin bisnis, waktu dan reputasi adalah komoditas yang paling berharga. Menunggu proses persetujuan kredit perbankan konvensional yang memakan waktu berminggu-minggu tentu akan membuat momentum ekspansi hilang. Di sisi lain, mereka tidak ingin pasar mencium bahwa mereka sedang membutuhkan dana taktis. Di sinilah konsep Discreet Liquidity yang kami tawarkan menjadi solusi mutlak," tegas Bastian.

Perusahaan ini mendukung layanannya dengan sertifikasi internasional ISO 9001:2015 untuk Manajemen Mutu dan ISO/IEC 27001:2022 untuk Sistem Manajemen Keamanan Informasi.

Ekonom Senior Prasasti Center for Policy Studies, Piter Abdullah, menilai pergeseran persepsi masyarakat terhadap pergadaian.

"Bagi segmen kelas atas, efisiensi biaya modal dan perlindungan reputasi adalah kunci. Meminjam dana dengan jaminan aset mewah yang sedang menguat nilainya jauh lebih efisien dibandingkan harus menarik deposito berjangka lebih awal atau menjual kepemilikan saham di saat pasar saham sedang bergejolak," ujar Piter.

Industri pergadaian kini hadir sebagai jaring pengaman bagi masyarakat kecil dan alternatif pengelolaan arus kas bagi pelaku usaha di tengah ketidakpastian ekonomi.

Follow pdiperjuanganbali.id Add to preferred sources on Google
Editors Team
Daisy Floren

What's Your Reaction?

  • Like
    0
    Like
  • Dislike
    0
    Dislike
  • Funny
    0
    Funny
  • Angry
    0
    Angry
  • Sad
    0
    Sad
  • Wow
    0
    Wow

Most viewed