Iran Tegaskan Kesiapan Hadapi Perang Ekonomi Amerika Serikat
Pemerintah Iran menyatakan kesiapannya untuk menghadapi perang ekonomi yang dilancarkan Amerika Serikat setelah menilai mampu menahan tekanan di bidang militer. Pernyataan tersebut disampaikan Wakil Presiden Pertama Iran Mohammad Reza Aref saat menghadiri pertemuan Markas Besar Regulasi Pasar di Teheran pada Senin, 17 Agustus 2026. Aref menilai Washington kini sengaja mengandalkan strategi tekanan ekonomi demi menutupi kegagalan sektor militernya di kawasan tersebut.
Pemerintah Iran mengklaim akan merespons langkah AS tersebut melalui perencanaan ekonomi yang ketat dan terukur. "Musuh sekarang ingin mengimbangi kekalahannya di bidang militer melalui perang ekonomi dan pemerintah harus bersikap tegas terhadap pendekatan ini dengan perencanaan yang tepat," kata Mohammad Reza Aref, Wakil Presiden Pertama Iran.
Ia menekankan bahwa menjaga persatuan serta kohesi nasional menjadi kunci utama bagi negara dalam memenangkan konfrontasi ekonomi tersebut. Aref turut menginstruksikan jajaran regulator untuk memperketat pengawasan pasar domestik guna menindak tegas praktik penimbunan barang dan permainan harga yang merugikan masyarakat.
Tekanan ekonomi dari AS diperkuat melalui sanksi berat serta blokade angkatan laut yang berdampak langsung pada penurunan drastis ekspor minyak Iran di Pulau Kharg. Kebijakan tersebut mengikis cadangan minyak terapung Iran dari 180 juta barel menjadi sekitar 60 juta barel, memicu lonjakan inflasi tahunan di atas 80 persen, dan mendorong proyeksi kontraksi ekonomi dari IMF hingga 5,4 persen. Di sisi lain, Presiden Iran Masoud Pezeshkian membenarkan bahwa kondisi perekonomian domestik tengah memburuk akibat anjloknya pendapatan sektor migas dan rusaknya sejumlah fasilitas manufaktur. Kendala rantai pasok dan pengalihan rute logistik internasional turut memicu kenaikan harga barang-barang kebutuhan pokok di dalam negeri.
Guna menjaga stabilitas nasional, Teheran mengalokasikan subsidi valuta asing sebesar 3,5 miliar dollar AS untuk mengamankan impor komoditas vital seperti gandum, obat-obatan, dan susu formula. Pemerintah Iran juga menerapkan skema pemadaman listrik bergilir untuk sektor industri serta menyediakan program bantuan sosial tunai berbasis kredit bagi masyarakat kurang mampu. Sementara itu, laporan The Wall Street Journal menyebutkan bahwa kelompok pimpinan di Teheran memanfaatkan masa gencatan senjata sejak Juni lalu untuk mengkonsolidasikan kekuatan militer. Iran dilaporkan meningkatkan produksi rudal dan armada drone sebagai langkah antisipasi terhadap potensi eskalasi konflik di masa mendatang.
What's Your Reaction?
-
0
Like -
0
Dislike -
0
Funny -
0
Angry -
0
Sad -
0
Wow