Kebakaran Hutan Kalimantan Meluas Akibat Gambut dan Musim Kemarau

Smallest Font
Largest Font

Kebakaran hutan kembali mengancam wilayah Kalimantan pada akhir Agustus ini. Fenomena karhutla tersebut menjadi perhatian serius karena proses pemadamannya yang kerap memakan waktu lama serta menghadapi kendala teknis di lapangan. Seperti dilansir dari Detikcom, sebagian besar insiden kebakaran hutan dipicu oleh aktivitas manusia, salah satunya praktik pembukaan lahan.

Badan Nasional Penanggulangan Bencana mencatat bahwa tindakan ini memicu munculnya titik api yang sulit dikendalikan. Karakteristik tanah menjadi faktor utama pemicu sulitnya penanganan api. Lahan gambut memiliki lapisan yang memungkinkan api membara di bawah permukaan tanah, sehingga sanggup bertahan lama dan sulit dipadamkan total.

Kondisi iklim kemarau turut memicu percepatan laju api di area terdampak. Musim kering yang memanjang membuat vegetasi hutan menjadi sangat mudah terbakar dan memperluas area kobaran secara signifikan.

Faktor keterlambatan penanganan awal juga kerap memperburuk situasi di lapangan. Kebakaran yang baru teridentifikasi setelah beberapa jam atau beberapa hari membuat ukuran api sudah terlanjur membesar saat petugas tiba. Topografi wilayah ikut memengaruhi kecepatan penyebaran kebakaran hutan secara drastis. Berdasarkan data Komisi Kehutanan BBC News, lahan dengan kemiringan sepuluh persen mampu mempercepat laju api, sedangkan kemiringan dua puluh persen dapat meningkatkan kecepatannya hingga empat kali lipat.

Sejarah mencatat peristiwa karhutla terbesar di Indonesia terjadi saat fenomena El Nino 1997. Peristiwa tersebut menghanguskan lebih dari sembilan juta hektare lahan gambut di wilayah Kalimantan dan Sumatera. Bencana serupa berulang pada tahun 2006, 2013, serta 2015. Catatan bencana tahun 2015 menjadi salah satu periode terburuk setelah melahap 2,6 juta hektare lahan dan menelan puluhan korban jiwa.

Dampak bencana ini tidak hanya merusak harta benda, ternak, serta mengancam keselamatan jiwa. Asap pekat yang dihasilkan dari pembakaran vegetasi tersebut membawa dampak buruk yang luas bagi kesehatan masyarakat. Laporan World Health Organization mencatat bahwa paparan asap kebakaran hutan dapat memicu penyakit paru-paru dan jantung.

Selain itu, kondisi ini berisiko mengganggu fungsi otak, sistem saraf, hingga penurunan kemampuan kognitif dan memori. Ancaman kesehatan lainnya meliputi luka bakar, infeksi saluran pernapasan atas, serta gangguan pada organ mata. Asap berbahaya tersebut juga berpotensi memperburuk kondisi medis pada usus, ginjal, dan organ hati.

Follow pdiperjuanganbali.id Add to preferred sources on Google
Editors Team
Daisy Floren

What's Your Reaction?

  • Like
    0
    Like
  • Dislike
    0
    Dislike
  • Funny
    0
    Funny
  • Angry
    0
    Angry
  • Sad
    0
    Sad
  • Wow
    0
    Wow

Most viewed