Kejahatan Deepfake AI Meningkat Lonjakan Serangan Capai 1400 Persen
Lonjakan serangan penipuan berbasis kecerdasan buatan (AI) tipe deepfake dan pemalsuan suara (voice cloning) mencapai 1.400 persen sepanjang rentang tahun 2024 hingga 2025. Perkembangan teknologi generatif ini mempermudah pelaku kejahatan memanipulasi konten suara maupun video untuk menyasar korban demi keuntungan finansial. Data eskalasi ancaman digital tersebut disampaikan CEO Cyberkarta Ismail Hakim dalam kegiatan BPSDM Komdigi Yogyakarta pada 31 Januari 2026.
Menurut Wakil Menteri Komunikasi dan Digital Nezar Patria, kemajuan teknologi terkini memungkinkan penipu meniru wujud visual dan karakter vokal kerabat korban secara sangat meyakinkan. Praktik manipulasi suara umumnya menggunakan potongan audio yang diambil dari unggahan media sosial target. Modus kejahatan yang memicu rasa panik ini makin marak terjadi di berbagai kawasan digital global.
Lembaga Perdagangan Federal (FTC) memaparkan pola kejahatan rekayasa sosial ini acap kali memanfaatkan rekaman audio publik untuk menyusun skenario darurat buatan. Pelaku sengaja mendesak korban agar segera menransfer dana tanpa sempat berpikir jernih.
Selain ancaman kloning suara, studi Westerlund (2019) berjudul The Emergence of Deepfake Technology menggarisbawahi bahaya pemalsuan identitas hingga pencurian data pribadi. World Economic Forum melalui laporan Global Risks Report 2024 turut menegaskan bahwa distribusi materi palsu kini kian mudah diproduksi akibat pesatnya AI generatif. Sektor keamanan siber mencatat bahwa teknik pancingan informasi atau phishing berbasis AI ikut mengalami perbaikan tata bahasa sehingga makin sulit dibedakan dari institusi resmi. Laporan 2024 Data Breach Investigations Report dari Verizon mengonfirmasi metode rekayasa sosial tetap mendominasi kebocoran data di berbagai entitas bisnis.
Guna menangkal aksi kejahatan siber berbasis AI, masyarakat diimbau untuk konsisten menjalankan langkah verifikasi langsung melalui saluran telepon resmi, mengaktifkan autentikasi dua faktor (2FA), serta menetapkan kata sandi khusus keluarga untuk situasi darurat. Satgas PASTI OJK pada 15 November 2025 juga menekankan agar publik tidak mudah menyerahkan kode OTP, PIN, atau data perbankan hanya karena suara penelepon terdengar familier.
What's Your Reaction?
-
0
Like -
0
Dislike -
0
Funny -
0
Angry -
0
Sad -
0
Wow