Kemarau Ekstrem dan Deforestasi Surutkan Air Sungai Barito
Kombinasi cuaca ekstrem dan kerusakan ekologis memicu penurunan debit air secara drastis di Daerah Aliran Sungai (DAS) Barito, Kalimantan Tengah, hingga dasar sungai mengering menyerupai gurun pasir pada Jumat (21/8/2026).
Fenomena yang memicu kemunculan gosong pasir di sekitar Jembatan Kalahien, Kabupaten Barito Selatan tersebut dikonfirmasi oleh Stasiun Meteorologi Tjilik Riwut BMKG Palangka Raya akibat rendahnya curah hujan.
"Curah hujan yang rendah," beber Prakirawan BMKG dari Stasiun Meteorologi Tjilik Riwut Palangka Raya, Chandra, saat dikonfirmasi Kompas.com melalui aplikasi perpesanan, Jumat (21/8/2026).
BMKG memprediksi sifat hujan Bawah Normal di sebagian besar wilayah Kalteng akan mencapai puncaknya pada periode Agustus hingga September 2026. Penurunan debit air ini diketahui telah berlangsung sejak Juli 2026.
"BMKG memprediksi sebagian besar wilayah Kalteng mengalami sifat hujan Bawah Normal. Kondisi yang lebih kering dari biasanya ini diperkirakan mencapai puncaknya pada periode Agustus hingga September 2026," jelasnya.
Chandra menerangkan bahwa besarnya penyusutan air di lapangan sangat bergantung pada respons hidrologis dari setiap Daerah Aliran Sungai.
"Untuk data detail dan terukur mengenai fluktuasi debit air sungai, masyarakat maupun pihak terkait dapat berkoordinasi langsung dengan Dinas PUPR bidang SDA atau Balai Wilayah Sungai (BWS)," ujarnya.
Sementara itu, Wahana Lingkungan Hidup Indonesia (Walhi) Kalteng menilai fenomena ini bukan sekadar peristiwa alam biasa, melainkan dampak fenomena El Nino Godzilla 2026 yang diperparah deforestasi masif.
"Lonjakan suhu ekstrem dan perubahan iklim di DAS Barito tidak lepas dari perubahan bentang alam yang masif, seperti deforestasi. Aktivitas tersebut memicu peningkatan emisi secara signifikan hingga mendorong pemanasan global," tuturnya.
Perubahan ekologis tersebut membuat wilayah DAS Barito menjadi sangat rentan terhadap kekeringan parah yang memicu dampak turunan lainnya bagi lingkungan dan warga.
"Dampak dari fenomena ini tidak hanya berhenti pada mengeringnya sungai dan hilangnya sumber air, tetapi juga meningkatkan risiko kebakaran hutan dan lahan (karhutla) serta krisis air bersih bagi warga sekitar," ujarnya.
Krisis lingkungan yang kian mengkhawatirkan ini membuat Walhi mendesak pihak pemerintah untuk segera mengambil tindakan tanggap darurat di wilayah terdampak.
"Pemerintah diharapkan merumuskan solusi yang tepat, komprehensif, dan berbasis analisis mendalam agar krisis lingkungan ini tidak memicu dampak yang lebih luas bagi masyarakat," tegas Janang.
What's Your Reaction?
-
0
Like -
0
Dislike -
0
Funny -
0
Angry -
0
Sad -
0
Wow