Satelit BMKG Tidak Deteksi Debu Vulkanik Gunung Anak Krakatau

Smallest Font
Largest Font

Sebaran debu vulkanik Gunung Anak Krakatau tidak terdeteksi berdasarkan pemantauan satelit pada Senin (14/9/2026) pukul 07.00 WIB. Informasi tersebut disampaikan oleh Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) sebagaimana dilansir dari Detikcom.

Hasil pemantauan tersebut diperoleh melalui analisis citra RGB Himawari-9. Meskipun demikian, BMKG menegaskan bahwa tidak terdeteksinya debu pada analisis satelit bukan berarti material tersebut telah hilang sepenuhnya.

Kondisi wilayah gunung api yang tertutup awan menjadi alasan utama sebaran debu vulkanik belum dapat dipastikan secara penuh oleh BMKG. Di sisi lain, sejumlah warga di kawasan Lampung hingga Jakarta masih melaporkan keberadaan abu vulkanik di lingkungan mereka.

Fenomena ini terjadi setelah tipe erupsi menerus Gunung Anak Krakatau berubah menjadi erupsi Strombolian sejak Minggu (6/9). Badan Geologi Kementerian ESDM menerangkan bahwa erupsi Strombolian bersifat putus-putus serta mengeluarkan jatuhan piroklastik seperti pasir, batu, dan percikan lava yang mengendap di sekitar kawah.

Survei Geologi AS (USGS) menjelaskan mekanisme bertahan dan bergeraknya material tersebut di udara setelah fase erupsi utama berakhir.

Menurut USGS, paparan angin serta aktivitas manusia dapat mengaduk kembali abu yang telah jatuh hingga bertahan selama berbulan-bulan di lingkungan. Campuran partikel batu dan silika tersebut mampu terbawa angin hingga jarak ribuan kilometer dari titik erupsi.

USGS menambahkan bahwa abu vulkanik yang telah mengendap bisa bergerak kembali saat bercampur dengan air atau mengikis. Partikel halus ini sangat mudah terangkat angin, terutama pada area dengan kondisi tanah kering dan berangin kencang, hingga membentuk awan abu baru.

Untuk mengantisipasi dampak kesehatan, masyarakat dianjurkan untuk berada di dalam ruangan dengan pintu serta jendela tertutup rapat. Penggunaan AC atau pompa penghangat yang mengambil udara dari luar juga sebaiknya dihentikan sementara waktu.

Warga yang terpaksa beraktivitas di luar ruangan disarankan menggunakan masker atau kain penutup hidung guna mencegah paparan abu ke saluran pernapasan. Pemakaian kacamata pelindung juga dianjurkan untuk menggantikan lensa kontak demi menghindari risiko kerusakan mata akibat partikel abu yang terperangkap.

Follow pdiperjuanganbali.id Add to preferred sources on Google
Editors Team

What's Your Reaction?

  • Like
    0
    Like
  • Dislike
    0
    Dislike
  • Funny
    0
    Funny
  • Angry
    0
    Angry
  • Sad
    0
    Sad
  • Wow
    0
    Wow

Most viewed