Keraton Yogyakarta Gelar Wayang Kulit Gedhog Langka pada Malam 1 Suro

Smallest Font
Largest Font

Kawedanan Kridhamardawa Karaton Ngayogyakarta Hadiningrat menggelar pertunjukan wayang kulit langka Pergelaran Ringgit Wacucal Gedhog Cariyos Panji Lampahan "Jaya Berdangga" di Kagungan Dalem Bangsal Kamandungan Kidul, Alun-Alun Kidul Yogyakarta pada Selasa (16/6/2026) pukul 19.00 WIB hingga 23.00 WIB.

Pementasan seni tradisional yang dipimpin oleh dalang MB. Cermo Wignyoutomo ini dilangsungkan tepat sebelum tradisi lampah budaya Mubeng Beteng dalam rangka memperingati Tahun Baru Jawa atau 1 Suro.

Dilansir dari kumparan, kehadiran pergelaran ini menjadi bentuk partisipasi aktif dari Kawedanan Kridhamardawa dalam menyemarakkan pergantian tahun masyarakat Jawa tersebut.

"Biasanya menyambut Tahun Baru Jawa ini kan Paguyuban Abdi Dalem menyelenggarakan Hajad Kawula Dalem Mubeng Beteng. Nah tahun ini, kami dari Kawedanan Kridhamardawa turut mangayubagya dengan menghadirkan pementasan wayang kulit gedhog yang digelar sebelum jalannya lampah budaya mubeng beteng tersebut," kata MB. Cermo Gupito, Abdi Dalem Dalang Kawedanan Kridhamardawa.

Pertunjukan seni ini membawa misi edukasi dan spiritual spiritual bagi para penontonnya. Cermo Gupito menjelaskan bahwa kisah dalam pewayangan ini memiliki kegunaan praktis sebagai media kontemplasi diri.

"Pementasan wayang dalam rangka mencari 'sangu' untuk introspeksi diri, karena tentu saja dalam gelaran cerita wayang banyak falsafah kehidupan yang termuat," katanya.

Setelah menyaksikan pertunjukan dan merenungkan maknanya, masyarakat disarankan melanjutkan prosesi spiritual dengan mengikuti ritual Mubeng Beteng. Langkah tersebut dipandang sebagai puncak penyucian diri.

"Menempa diri dengan cara berjalan dalam kondisi terdiam, namun di dalam batin tak henti ikhlas berdoa dan berserah diri kepada Sang Penyebab," katanya.

Koleksi wayang gedhog milik Keraton Yogyakarta ini tergolong sebagai aset kebudayaan yang langka karena mementaskan cerita Panji, bukan kisah Mahabharata ataupun Ramayana. Melalui momentum 1 Suro ini, pihak keraton berupaya mengenalkan kembali sekaligus melestarikan kesenian yang sudah jarang dijumpai di wilayah Yogyakarta tersebut.

Lakon "Jaya Berdangga" sendiri mengisahkan perjuangan penyamaran Raden Panji demi memenuhi prasyarat dari istrinya yang sedang hamil, Dewi Sekartaji, demi masa depan Kerajaan Jenggala dan Kediri meskipun harus menghadapi rintangan dari senopati seberang.

"Pemilihan penampilan wayang gedhog ini tentunya mempertimbangkan dari segi cerita yang tidak kalah menarik dengan wayang purwa. Cariyos Panji Lampahan Jaya Berdangga dipilih karena bobot dan isi cerita tersebut sangat kompleks dan erat dengan realitas ke kehidupan masyarakat Jawa," katanya.

Kompleksitas kisah ini memuat berbagai nilai esensial mulai dari nilai perjuangan, kesetiaan, edukasi pembuatan gamelan, hingga konsep kesuburan Tanah Jawa.

"Mulai dari mengajarkan perjuangan hidup, kesetiaan seseorang terhadap pasangan, mengedukasi masyarakat perihal proses produksi gamelan, dan yang terakhir menghadirkan dan mengingatkan kembali konsep kesuburan Tanah Jawa yang termuat dalam wayang gedhog, yaitu Raden Panji Asmarabangun dengan Dewi Sekartaji atau Candra Kirana, yang ini selaras dengan upaya Keraton Yogyakarta untuk selalu Hamemayu Hayuning Bawana," ujarnya.

Masyarakat dapat menyaksikan pagelaran ini secara langsung dengan mengenakan pakaian bebas yang rapi dan sopan, atau melalui siaran digital di kanal YouTube Keraton Yogya.

Follow pdiperjuanganbali.id Add to preferred sources on Google
Editors Team
Daisy Floren

What's Your Reaction?

  • Like
    0
    Like
  • Dislike
    0
    Dislike
  • Funny
    0
    Funny
  • Angry
    0
    Angry
  • Sad
    0
    Sad
  • Wow
    0
    Wow

Most viewed