Kinerja Emiten Poultry Kuartal II-2026 Terancam Tekanan Margin Biaya
Prospek profitabilitas emiten sektor perunggasan atau poultry pada kuartal II-2026 diproyeksikan menghadapi tantangan penyusutan margin keuntungan. Berdasarkan laporan Kontan.co.id pada Senin (25/5/2026), kondisi ini dipicu oleh pelemahan nilai tukar rupiah, lonjakan harga bahan baku pakan, serta normalisasi permintaan pasca-Lebaran.
Tantangan tersebut mengintai di tengah pencapaian positif pada awal tahun, di mana emiten seperti PT Charoen Pokphand Indonesia Tbk (CPIN), PT Japfa Comfeed Indonesia Tbk (JPFA), dan PT Malindo Feedmill Tbk (MAIN) membukukan pertumbuhan solid yang melampaui ekspektasi pasar pada kuartal I-2026. Keberhasilan awal tahun itu ditopang oleh tingginya harga ayam hidup (live bird) dan day old chick (DOC) serta efisiensi operasional yang ketat.
Situasi pada kuartal pertama tersebut dikonfirmasi oleh laporan Investasi pada Jumat (22/5/2026) yang dipublikasikan ulang oleh pojokpapua.id. Penguatan efisiensi pada awal tahun berhasil menekan pertumbuhan beban pokok penjualan tetap berada di bawah pertumbuhan pendapatan emiten.
"Kinerja Kuartal I-2026 solid dan di atas ekspektasi. Penopangnya harga live bird dan DOC yang tinggi serta efisiensi operasional yang mampu menekan kenaikan COGS (cost of goods sold) di bawah pertumbuhan pendapatan," ujarnya Muhammad Wafi, Head of Research KISI Sekuritas.
Muhammad Wafi menambahkan bahwa komponen pakan mengonsumsi sekitar 50 persen dari total biaya produksi emiten poultry, di mana mayoritas bahan baku seperti bungkil kedelai dan feed additive masih bergantung pada impor menggunakan mata uang dolar AS.
"Dampaknya signifikan terhadap struktur biaya dan margin. Emiten terintegrasi seperti CPIN dan JPFA relatif lebih mampu menyerap tekanan dibandingkan MAIN," tambahnya Muhammad Wafi, Head of Research KISI Sekuritas.
Memasuki periode kuartal II-2026, pergerakan kinerja sektor ini diperkirakan mulai bervariasi karena adanya kompresi margin yang tidak terhindarkan.
"Kuartal II akan cenderung mixed. Permintaan masih terjaga, tetapi margin akan terkompresi akibat normalisasi harga ayam pasca high season serta kenaikan biaya bahan baku berbasis dolar AS," kata Muhammad Wafi, Head of Research KISI Sekuritas.
Selain masalah bahan baku, industri ini juga dihadapkan pada keterbatasan ruang untuk mengerek harga jual ke tingkat peternak karena sensitivitas daya beli masyarakat yang tinggi.
"Kemampuan pass-through terbatas. Harga live bird memang masih tinggi karena suplai terkendali, tetapi ruang menaikkan harga ke peternak sempit," ujar Muhammad Wafi, Head of Research KISI Sekuritas.
Melihat ketahanan fundamental secara individual, CPIN dinilai memiliki posisi paling tangguh di antara kompetitornya.
"CPIN paling resilien dengan DER (debt to equity ratio) 0,32 kali, kas Rp7,43 triliun, dan ROE (return on equity) 28%. JPFA juga cukup kuat dari sisi diversifikasi segmen, sementara MAIN relatif lebih rentan terhadap tekanan biaya," jelas Muhammad Wafi, Head of Research KISI Sekuritas.
Pandangan optimistis mengenai stabilitas permintaan domestik juga dikemukakan untuk kuartal pertama lalu.
"Kinerja emiten poultry pada Kuartal I-2026 masih solid, didukung membaiknya harga ayam hidup, permintaan domestik yang stabil, serta efisiensi operasional," jelas Abdul Azis Setyo Wibowo, Analis Kiwoom Sekuritas Indonesia.
Meskipun demikian, pergerakan nilai tukar tetap menjadi variabel krusial yang dapat mengoreksi tingkat profitabilitas emiten akibat ketergantungan bahan baku impor.
"JPFA relatif paling resilien karena memiliki diversifikasi pendapatan dan eksposur hilir yang cukup besar," ujarnya Abdul Azis Setyo Wibowo, Analis Kiwoom Sekuritas Indonesia.
What's Your Reaction?
-
0
Like -
0
Dislike -
0
Funny -
0
Angry -
0
Sad -
0
Wow