Kisah Perumusan Naskah Proklamasi dan Sahur Nasi Goreng di Rumah Maeda

Smallest Font
Largest Font

Proses penyusunan teks proklamasi Kemerdekaan Indonesia berlangsung dalam kurun waktu yang sangat terbatas di tengah suasana bulan suci Ramadan. Rumah dinas Laksamana Tadashi Maeda di Jalan Imam Bonjol Nomor 1, Jakarta Pusat, menjadi lokasi bersejarah terjadinya peristiwa penting tersebut pada 17 Agustus 1945 dini hari.

Peristiwa bersejarah ini juga bertepatan dengan tanggal 9 Ramadan 1364 Hijriah, dilansir dari Detik Travel. Di tempat tersebut, para tokoh nasional berkumpul hingga dini hari untuk merumuskan naskah yang akan dibacakan pada pagi harinya.

Proses penyusunan naskah proklamasi dikerjakan oleh Sukarno, Mohammad Hatta, dan Achmad Soebardjo. Kegiatan perumusan tersebut berlangsung hingga sekitar pukul 03.00 WIB karena keterbatasan waktu menjelang fajar.

Edukator Museum Perumusan Naskah Proklamasi, Fajar Sunandar, menjelaskan bahwa para tokoh baru mulai berkumpul di meja makan sekitar pukul 02.00 WIB. Mengingat mayoritas tokoh yang hadir merupakan Muslim dan sedang berpuasa, proses penyusunan dilakukan secara cepat.

"Jadi memang bener-bener waktunya itu terbatas, sangat singkat," kata Fajar.

Penyusunan naskah tersebut akhirnya rampung menjelang waktu subuh di Batavia yang saat itu jatuh sekitar pukul 04.19 WIB. Setelah teks disepakati, Sayuti Melik memproses pengetikan naskah menggunakan mesin ketik pinjaman. Penandatanganan draft asli kemudian dilakukan oleh Sukarno dan Hatta di atas piano.

Usai pengesahan dokumen proklamasi, Laksamana Tadashi Maeda meminta asistennya, Satsuki Mishima, menyiapkan hidangan sahur bagi para tokoh yang hadir. Langkah ini dilakukan untuk memfasilitasi kebutuhan sahur puluhan tokoh sebelum fajar tiba.

"Sahur pertama Indonesia merdeka itu di rumah ini juga. Jadi ada beberapa menu, yang utama itu nasi goreng," kata Fajar.

Selain nasi goreng, sajian sahur sederhana yang disiapkan secara cepat tersebut dilengkapi dengan roti dan sarden. Makanan ini disajikan untuk mencukupi kebutuhan sekitar 40 hingga 50 tokoh yang hadir di lokasi.

Laksamana Tadashi Maeda merupakan seorang perwira tinggi Angkatan Laut Kekaisaran Jepang. Ia mengizinkan kediaman dinasnya dipakai oleh para pejuang Indonesia demi keamanan proses perumusan kemerdekaan.

Fajar menceritakan bahwa Maeda memiliki ketertarikan mendalam terhadap kebudayaan lokal, khususnya budaya Jawa. Kedekatan emosional tersebut juga dipengaruhi oleh istrinya, Nishimura Fumiko, yang memiliki darah keturunan Jepang-Jawa.

"Nah makanya separuh hati Bapak Maeda itu dah Indonesia sebetulnya, dia sangat suka kebudayaan Jawa," cerita Fajar.

Saat ini, bangunan kediaman Maeda di kawasan Menteng tersebut dialihfungsikan menjadi Museum Perumusan Naskah Proklamasi. Tempat bersejarah ini dibuka untuk umum sebagai ruang rekam jejak perjuangan kemerdekaan Indonesia.

Follow pdiperjuanganbali.id Add to preferred sources on Google
Editors Team
Daisy Floren

What's Your Reaction?

  • Like
    0
    Like
  • Dislike
    0
    Dislike
  • Funny
    0
    Funny
  • Angry
    0
    Angry
  • Sad
    0
    Sad
  • Wow
    0
    Wow

Most viewed