Masoud Pezeshkian Ungkap Hambatan Komunikasi dengan Mojtaba Khamenei

Smallest Font
Largest Font

Presiden Iran Masoud Pezeshkian mengungkapkan bahwa hubungan komunikasi dengan Pemimpin Tertinggi Iran Mojtaba Khamenei sangat sulit untuk dilakukan saat ini akibat situasi konflik militer yang sedang berlangsung. Pernyataan tersebut disampaikan oleh Masoud Pezeshkian dalam sebuah wawancara yang disiarkan oleh televisi pemerintah Iran pada Rabu (5/8/2026), sekaligus untuk memperingati dua tahun masa pelantikannya sebagai presiden. Kondisi ini memicu spekulasi mengenai keretakan hubungan di antara pejabat tinggi Teheran, terlebih Mojtaba belum pernah muncul di hadapan publik sejak menggantikan mendiang ayahnya, Ayatollah Ali Khamenei, yang tewas akibat serangan udara gabungan Amerika Serikat dan Israel pada 28 Februari 2026.

Meskipun demikian, Pezeshkian membantah isu keretakan tersebut dan menegaskan bahwa dirinya tetap dapat menggelar pertemuan yang produktif dengan pemimpin tertinggi yang dilaporkan mengalami luka parah di bagian kaki.

"Sangat sulit untuk berkomunikasi dengannya saat ini, namun bagaimanapun juga, keberadaannya merupakan sumber kekuatan yang sangat besar bagi kami untuk terus melangkah," kata Pezeshkian dalam pernyataannya yang dilansir dari AFP. Pezeshkian juga menambahkan bahwa dalam diskusi tersebut dirinya disambut dengan baik dan logika yang masuk akal dari sang pemimpin tertinggi.

"Sayangnya, situasi saat ini memungkinkan pihak-pihak yang berniat buruk untuk menggambarkan sosoknya secara berbeda dan menampilkan citra yang keliru tentang dirinya," ucap Pezeshkian. Selain membahas isu suksesi kepemimpinan, Pezeshkian turut merespons tekanan domestik atas isu nota kesepahaman gencatan senjata 14 poin yang sempat ditandatangani bersama Presiden AS Donald Trump pada Juni 2026 namun akhirnya gagal bulan lalu.

"Konflik, baik di area sekitar, kota, negara, maupun antar negara, merupakan penyakit yang muncul," ucap Pezeshkian saat berbicara kepada media pemerintah Iran yang dilansir dari Iran Internasional. Pezeshkian menegaskan kedaulatan negaranya dan membantah klaim sepihak Donald Trump mengenai adanya permintaan negosiasi ulang dari pihak Iran. "Kami akan mempertahankan perbatasan kami, namun kami tidak berniat memperluas perang ataupun melanjutkannya," tegas Pezeshkian.

Presiden Iran tersebut juga menepis rumor dari lingkaran dalam ulama senior Mohammed-Bagher Kharrazi yang menyebut dirinya telah mengajukan surat pengunduran diri sebanyak 28 kali kepada kantor Pemimpin Tertinggi.

"Di tengah situasi ini, kita harus berupaya membangun masyarakat yang sehat, agar musuh tidak tergoda untuk menyusup, merusak tatanan sosial kita, dan menghancurkannya," cetusnya. Ia berjanji akan tetap teguh berada di posisinya untuk berkoordinasi penuh dengan pasukan militer Iran dalam menghadapi situasi tersulit sejak Revolusi Islam 1979. "Kami berkoordinasi sepenuhnya dengan pasukan militer. Saya tidak akan mundur, dan saya akan tetap teguh," kata Pezeshkian.

Ia menyatakan akan bersikap transparan kepada publik jika situasi politik memaksanya mengambil keputusan besar.

"Jika saya mundur, saya akan mengumumkannya secara resmi," imbuhnya.

Follow pdiperjuanganbali.id Add to preferred sources on Google
Editors Team
Daisy Floren

What's Your Reaction?

  • Like
    0
    Like
  • Dislike
    0
    Dislike
  • Funny
    0
    Funny
  • Angry
    0
    Angry
  • Sad
    0
    Sad
  • Wow
    0
    Wow

Most viewed