Konflik Global dan Sentimen Domestik Tekan Rupiah ke Rp17.630
Nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat dibuka melemah sebesar 33 poin atau 0,19 persen ke level Rp17.630 pada perdagangan Senin (18/5/2026) pagi. Penurunan dari level penutupan sebelumnya sebesar Rp17.597 ini dipicu oleh eskalasi ketegangan geopolitik di Timur Tengah serta sentimen negatif dari dalam negeri.
Pelemahan ini memperpanjang tren negatif setelah pekan lalu rupiah sempat menyentuh Rp17.503 per dolar Amerika Serikat saat situasi Selat Hormuz memanas. Padahal, menurut data Antara, mata uang Garuda sempat menguat ke Rp17.476 pada penutupan Rabu (13/5/2026), sementara kurs Jakarta Interbank Spot Dollar Rate Bank Indonesia berada di level Rp17.496.
Analis mata uang Doo Financial Futures, Lukman Leong, menjelaskan bahwa pasar merespons negatif hasil pertemuan antara Presiden Amerika Serikat Donald Trump dan Presiden China Xi Jinping. Pertemuan tersebut dinilai mengecewakan investor karena tidak memberikan solusi konkret atas konflik antara Amerika Serikat dan Iran.
"Rupiah berpotensi kembali melemah merespons sentimen risk off global pada hari Jumat (15/5), dolar AS menguat cukup besar di tengah sell off semua aset, termasuk obligasi, saham, crypto, dan mata uang oleh kekecewaan investor pada hasil pertemuan Xi dan Trump yang tidak banyak membahas atau memberikan solusi terhadap perang AS-Iran," ujar Lukman Leong.
Kondisi tersebut memicu kekhawatiran pelaku pasar akan gangguan pasokan energi global yang berpotensi menaikkan harga minyak mentah. Menurut Lukman Leong, situasi ini mendorong investor mengalihkan dana mereka ke aset yang lebih aman demi menghindari risiko inflasi.
"Kedua negara dan dunia menginginkan perang berakhir, namun sepertinya sulit bagi Iran melepas ambisi nuklir mereka, sehingga dalam pertemuan Xi dan Trump lebih banyak membahas hubungan kedua negara," kata Lukman Leong.
Pengamat komoditas dan mata uang, Ibrahim Assuaibi, menambahkan bahwa ketegangan di Selat Hormuz berisiko mengganggu jalur vital perdagangan dunia. Lonjakan harga minyak mentah yang terjadi akibat konflik ini meningkatkan kebutuhan pembiayaan dolar Amerika Serikat di dalam negeri secara signifikan.
"Dengan kenaikan harga minyak mentah yang cukup signifikan, indeks dolar yang juga mengalami penguatan, ini berdampak terhadap kebutuhan dolar yang cukup tinggi dari Indonesia karena Indonesia impor minyak mentah 1,5 juta barel per hari," kata Ibrahim Assuaibi kepada detikcom.
Faktor internal turut memperparah pelemahan mata uang domestik setelah Presiden Prabowo Subianto memberikan pernyataan pada Sabtu (16/5/2026). Presiden menyatakan bahwa pelemahan rupiah tidak berdampak langsung terhadap masyarakat di tingkat pedesaan.
"Ini menjadi simalakama. Pernyataan Presiden Prabowo dijadikan alasan oleh investor di pasar untuk membeli dolar, sehingga rupiah terus melemah secara signifikan," tutur Ibrahim Assuaibi.
Pemerintah dinilai perlu segera mengeluarkan bauran kebijakan nyata untuk menekan dampak tingginya biaya impor minyak fosil. Ibrahim Assuaibi menyoroti pentingnya kejelasan arah kebijakan dari pemerintah dalam menghadapi risiko defisit Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara yang melebar.
"Seharusnya pemerintah memberikan solusi terkait kebutuhan impor minyak mentah yang tinggi, rencana implementasi B50 sebagai pendamping bahan bakar fosil, serta langkah konkret menghadapi krisis agar rupiah kembali menguat. Itu yang seharusnya dilakukan," ujarnya.
Sementara itu, praktisi pasar modal Hans Kwee memaparkan bahwa kenaikan imbal hasil obligasi global juga ikut menekan pergerakan mata uang negara berkembang. Investor global saat ini cenderung memindahkan modal mereka ke instrumen keuangan di Amerika Serikat.
"Yield US Treasury naiknya sudah berlebihan. Investor masuk ke obligasi AS sehingga dolar menguat. Itu yang menekan rupiah," jelas Hans Kwee.
Hingga saat ini, proses diplomasi internasional di Timur Tengah masih menghadapi jalan buntu akibat ketidakpercayaan mendalam antarpihak yang terlibat. Rupiah sendiri diprediksi bergerak pada kisaran Rp17.550 hingga Rp17.650 per dolar Amerika Serikat sepanjang perdagangan hari ini.
What's Your Reaction?
-
0
Like -
0
Dislike -
0
Funny -
0
Angry -
0
Sad -
0
Wow