Konsep Lift Luar Angkasa Berpotensi Pangkas Waktu Perjalanan ke Mars
Pengembangan infrastruktur transportasi antariksa terus mengalami kemajuan melalui pengkajian konsep lift luar angkasa atau space elevator. Teknologi ini dirancang untuk mengangkut muatan dan manusia tanpa bergantung pada roket pembakar propelan.
International Space Elevator Consortium (ISEC) menguji gagasan ini sebagai sarana transportasi permanen menuju orbit. Hal ini dilansir dari Detik iNET yang mengutip pernyataan Pete Swan selaku presiden ISEC.
"Kami benar-benar mendorong pembangunan infrastruktur permanen, seperti jembatan yang menggantikan feri untuk menyeberangi sungai," kata Swan seperti dikutip dari The New York Post.
Mekanisme kerja lift luar angkasa mengandalkan kabel superkuat yang terpasang dari ekuator Bumi hingga melewati orbit geostasioner (GEO). Struktur kabel tersebut dijaga tetap tegang oleh kombinasi rotasi Bumi dan gaya sentrifugal dari pemberat di ujungnya.
Kendaraan pengangkut yang disebut climber dapat bergerak naik dan turun di sepanjang jalur kabel menggunakan tenaga listrik. Penggunaan energi listrik ini mampu memangkas konsumsi bahan bakar yang biasa dihabiskan oleh roket konvensional.
Pengembangan material kabel menjadi tantangan teknis paling krusial dalam pengerjaan proyek ini. Spesifikasi material kabel harus memiliki kekuatan tarik luar biasa agar tidak putus, sekaligus berbobot sangat ringan guna mencegah struktur runtuh.
Riset terkini mengarah pada pemanfaatan graphene polikristalin yang memiliki struktur jaringan kristal karbon dua dimensi. Jenis graphene ini dinilai lebih cocok untuk diproduksi massal dalam skala panjang ribuan kilometer dibanding varian kristal tunggal.
Graphene polikristalin sepanjang 1.000 meter dengan lebar setengah meter telah berhasil diproduksi para insinyur di Korea Selatan. Proses pembuatan material tersebut diklaim mencatatkan kecepatan produksi sekitar dua meter setiap menitnya.
Desain teknis ISEC merencanakan penataan kabel sepanjang 100.000 kilometer dari tumpukan ribuan lembaran graphene. Struktur raksasa dari khatulistiwa hingga luar GEO ini diperkirakan hanya tampak sebagai pantulan kilat cahaya tipis dari permukaan Bumi.
Operasional sistem lift di atas orbit geostasioner (35.786 kilometer) akan memanfaatkan gaya rotasi Bumi untuk melempar muatan. Mekanisme peluncuran pasif ini sanggup memangkas durasi perjalanan menuju Bulan menjadi sekitar 14 jam saja.
Efisiensi serupa berlaku untuk ekspedisi menuju Mars. Perhitungan ISEC menunjukkan waktu tempuh menuju Planet Merah dapat disingkat menjadi 61 hingga 120 hari dengan frekuensi keberangkatan yang lebih fleksibel.
"Saya yakin sepuluh tahun pertama lift luar angkasa akan menjadi misi logistik, hanya memindahkan barang ke atas," ujar Swan dengan yakin.
"Setelah kita melewati tahap itu dan bulan mulai dihuni dan Mars membutuhkan lebih banyak lagi, kita akan mulai memiliki lift dua arah, membawa barang ke bawah. Setelah 15 atau 20 tahun, kita bisa mengangkut orang," tutupnya.
What's Your Reaction?
-
0
Like -
0
Dislike -
0
Funny -
0
Angry -
0
Sad -
0
Wow