Kualitas Udara Kalimantan Tengah dan Barat Capai Level Berbahaya
Kementerian Lingkungan Hidup mencatat kualitas udara di sejumlah wilayah Kalimantan Tengah dan Kalimantan Barat berada pada tingkat berbahaya dengan Indeks Standar Pencemar Udara mencapai angka 491 pada Minggu, 6 September 2026, pukul 08.30 WIB akibat kebakaran hutan dan lahan.
Berdasarkan pemantauan resmi pemerintah, Kabupaten Murung Raya dan Kabupaten Gunung Mas di Kalimantan Tengah serta Pontianak Tenggara di Kalimantan Barat menjadi area dengan tingkat polusi terburuk di Indonesia. Konsentrasi partikulat halus PM2,5 di wilayah terdampak menembus batas kritis hingga puluhan kali lipat dari ambang batas aman Organisasi Kesehatan Dunia.
Bencana kabut asap yang meluas di Kalimantan dan Sumatera ini melumpuhkan aktivitas warga, memicu pemberlakuan sekolah daring di Pontianak, serta menelan korban jiwa seorang relawan pemadam kebakaran di Palangka Raya. Selain itu, tim Basarnas harus meluncurkan operasi evakuasi untuk menyelamatkan warga yang terjebak di tengah kepungan api.
Badan Nasional Penangan Bencana mengimbau warga di pulau Kalimantan dan Sumatera untuk memantau Indeks Standar Pencemaran Udara secara berkala guna mengantisipasi ancaman bahaya polutan.
"Masyarakat dapat melihat kualitas udara di kabupaten atau tempat tinggal, sehingga informasi ini tentu melindungi diri kita dari bahaya polutan karena asap yang ada di sekitar kita," kata Plt Kepala Pusat Data, Informasi, dan Komunikasi Kebencanaan BNPB, Berton SP Panjaitan.
Berton menjelaskan bahwa konsentrasi asap pekat diperkirakan masih terus bergerak meluas berdasarkan analisis pergerakan cuaca.
"Ini anak-anak di rumah sudah dari beberapa pekan lalu batuk pilek," kata Tursih, warga Kota Pontianak, Kalimantan Barat.
Tursih menjelaskan bahwa ia dan keluarganya membatasi aktivitas keluar rumah untuk menghindari paparan kabut asap.
"Adanya yang ini yang kami beli," katanya.
Ia menambahkan bahwa proses pembelajaran sekolah terpaksa dialihkan ke moda jarak jauh demi keamanan anak-anak.
"Kabut asap tebal. Sekolah masih libur, belajar daring," kata Tursih.
Dampak kepungan asap juga dirasakan langsung oleh warga Palangka Raya yang berada dekat dengan titik kebakaran lahan.
"Ketika api mulai padam, asap dan abu justru masuk ke dalam rumah dan menempel di seluruh permukaan barang. Kondisi tersebut membuat kami sesak dan pusing. Kami juga takut keluar karena khawatir kebakaran semakin parah. Posisi kami benar-benar terjebak," katanya Selasa (1/9/26).
Ancaman keselamatan jiwa akibat karhutla mendapat penekanan khusus dari aparat penegak hukum setempat.
"Kita semua harus menjadi perhatian bahwa karhutla itu dirasakan masyarakat bukan hanya berdampak pada sisi kesehatan, juga mengancam nyawa," katanya, 28 Agustus lalu sembari sampaikan belasungkawa kepada keluarga korban.
Meningkatnya paparan asap berdampak langsung pada lonjakan kasus infeksi saluran pernapasan akut di berbagai daerah terdampak.
"Yang mengalami udaranya sangat jelek itu di Kalimantan Barat dan Jambi. Sekarang Jambi udah mulai bagus. Tinggal di Kalimantan Barat yang udaranya jelek.
Kita konsentrasi di situ. ISPA-nya memang agak meningkat di daerah yang mengalami karhutla," jelas Dante saat ditemui wartawan usai agenda Temu Media di RS Soeharto Heerdjan, Jakarta Barat, Jumat (4/9).
Untuk meredam dampak kesehatan, Kementerian Kesehatan menyalurkan bantuan logistik medis ke tingkat daerah.
"Udah kita bagikan. Kita bagi 5,3 juta masker. Ini masker-masker ini ada di ibu kota provinsi dan kabupaten. Bahkan ada di dinas kabupaten untuk anak-anak ini," ungkap Dante.
Kemenkes juga terus memantau perkembangan penanganan kesehatan di daerah secara harian.
"Kita melakukan penanganan, kita konsolidasi, kita punya data up to date setiap hari kita integrasikan dengan pusat krisis kesehatan di Kemenkes. Bantuan obat-obat, masker, dan fasilitas kesehatan, tenaga medis, terus kita kerahkan supaya mereka tidak tambah parah," jelas dia.
Dante menambahkan bahwa infeksi pernapasan menyerang warga tanpa memandang batasan usia.
"Campur-campur sih. Usia sekolah banyak juga. Dewasa banyak juga," tuturnya.
Ia mengimbau masyarakat untuk tetap berada di dalam ruangan selama kualitas udara belum membaik.
"Kalau ada paparan udaranya jelek, diharapkan untuk tidak keluar rumah," kata Dante.
Para pakar kesehatan mengingatkan bahwa partikel debu dan asap kemarau sangat mudah terhirup masuk ke paru-paru.
"Adanya peningkatan ISPA di periode musim kemarau itu karena pada saat kemarau tentu saja akan banyak partikel debu. Partikel-partikel debu kecil yang terbawa oleh angin berada di udara bebas dan kemudian terhirup di pernapasan," kata dr Ika dalam keterangan tertulis, dikutip pada Sabtu (5/9/2026).
Dr Ika menambahkan bahwa infeksi saluran pernapasan ringan akibat pemaparan asap biasanya berangsur pulih dalam hitungan hari.
"Kalau untuk ISPA ringan yang disebabkan paparan debu dan asap sesaat. Umumnya kondisinya dapat membaik dalam tiga hingga lima hari," ujar dr Ika.
Kategori kelompok rentan seperti penderita penyakit paru kronis, lansia, dan anak-anak disarankan segera mendatangi fasilitas kesehatan primer jika mengalami gejala batuk berdahak, demam, atau sesak napas yang memburuk.
"Pemeriksaan dapat dimulai di fasilitas kesehatan tingkat pertama seperti puskesmas atau layanan kesehatan primer. Patokannya bukan ISPA dari infeksi virus atau bakteri itu mana yang paling berat, tetapi pada gejalanya," kata dia.
Pakar pulmonologi juga memberikan penjelasan teknis mengenai bahaya partikel halus PM2,5 yang memicu kerusakan paru-paru hingga pneumonia.
“Pertanyaan yang sering sampai ke saya, kenapa asap bisa sampai berujung pada pneumonia, padahal asap bukan kuman? Jawabannya ada pada apa yang dilakukan asap terhadap pertahanan paru kita,” tulis Prof. Erlina, dikutip Kamis (3/9/2026).
| No | Lokasi | ISPU | Parameter |
|---|---|---|---|
| 1 | Kabupaten Murung Raya, Kalimantan Tengah | 491 | PM2,5 |
| 2 | Kabupaten Gunung Mas, Kalimantan Tengah | 481 | PM10 |
| 3 | Pontianak Tenggara, Kalimantan Barat | 431 | PM10 |
| 4 | Kabupaten Katingan, Kalimantan Tengah | 371 | PM2,5 |
| 5 | Kabupaten Kotawaringin Timur, Kalimantan Tengah | 365 | PM2,5 |
| 6 | Kabupaten Sintang (Baning Kota), Kalimantan Barat | 285 | PM10 |
| 7 | Kabupaten Kubu Raya (Kapuas), Kalimantan Barat | 285 | PM10 |
| 8 | Kabupaten Penukal Abab Lematang Ilir, Sumatra Selatan | 242 | PM2,5 |
| 9 | Pekanbaru (Tenayan Raya), Riau | 237 | PM2,5 |
| 10 | Palembang (Bukit Kecil), Sumatra Selatan | 230 | PM2,5 |
Kementerian Kesehatan mencatat akumulasi kasus ISPA di kawasan terdampak kebakaran hutan dan lahan telah mencapai 50.891 kasus sepanjang periode Juli hingga Agustus 2026.
What's Your Reaction?
-
0
Like -
0
Dislike -
0
Funny -
0
Angry -
0
Sad -
0
Wow