Laba Bersih BRMS Semester I-2026 Anjlok 43 Persen
PT Bumi Resources Minerals Tbk (BRMS) membukukan penurunan laba bersih hingga 43,75 persen secara tahunan menjadi US$ 12,92 juta pada semester I-2026. Penurunan profitabilitas emiten tambang emas Grup Bakrie ini dipicu oleh gangguan operasional penambangan serta tingginya pasokan emas di pasar domestik.
Berdasarkan laporan keuangan konsolidasian per 30 Juni 2026, total pendapatan perseroan terkoreksi dari US$ 120,85 juta pada semester I-2025 menjadi US$ 95,85 juta. Penurunan omzet tersebut langsung menekan capaian bottom line perusahaan di tengah pembengkakan beban keuangan.
Peningkatan beban bunga akibat penarikan fasilitas pendanaan ekspansi pabrik pengolahan serta kerugian selisih kurs menjadi faktor utama yang menekan laba bersih perseroan. Meski omzet terkoreksi, BRMS masih mampu membukukan laba usaha sebesar US$ 31,95 juta melalui efisiensi biaya operasional tambang.
Tekanan terbesar terjadi pada kuartal II-2026, di mana BRMS mencatatkan rugi bersih sebesar US$ 5 juta dengan pendapatan yang merosot 62,1 persen secara kuartalan menjadi US$ 26 juta. Produksi emas perseroan pada periode tersebut anjlok 57,4 persen menjadi 6,3 ribu ons troy akibat aktivitas pengupasan area tambang atau pushback di River Reef, Citra Palu Minerals.
Analis KB Valbury Sekuritas, Ashalia Fitri Yuliana, memberikan pandangannya terkait kondisi operasional dan proyeksi harga komoditas yang membayangi kinerja perusahaan.
"Tekanan juga datang dari asumsi harga emas yang lebih rendah," tulis Ashalia dalam risetnya.
Ia menambahkan bahwa ekspansi fasilitas produksi akan menjadi penopang utama pemulihan kinerja perusahaan di masa mendatang.
"Proyek tambang bawah tanah juga diproyeksikan menjadi penopang pertumbuhan kinerja Bumi Resources Minerals," sebut Ashalia.
Aktivitas pushback di Tambang River Reef telah membatasi operasional penambangan sehingga kadar bijih yang diolah turun menjadi 0,9 gram per ton. Selain itu, harga jual rata-rata (ASP) emas BRMS turun 8,3 persen dari US$ 4.512 per ons pada kuartal I-2026 menjadi US$ 4.138 per ons pada kuartal II-2026.
Analis BRI Danareksa Sekuritas, Andhika Audrey, menilai realisasi kinerja keuangan BRMS pada paruh pertama tahun ini masih berada di bawah ekspektasi pasar.
"Realisasi tersebut baru mencapai 12,1% dari proyeksi kami dan 13,2% dari estimasi konsensus untuk laba BRMS tahun 2026," kata Andhika Audrey.
Ia menyoroti penurunan volume produksi sebagai salah satu penyebab utama melemahnya pendapatan perusahaan.
"Produksi emas BRMS pada periode tersebut menyusut 57,4% secara kuartalan menjadi 6,3 ribu ons (thousand ounces/koz)," ujar Andhika Audrey.
Penurunan produksi tersebut bertepatan dengan kondisi pasar domestik yang kebanjiran pasokan emas akibat banyaknya eksportir yang memilih berjualan di dalam negeri. Kondisi ini membuat persediaan emas jadi BRMS pada semester I-2026 membengkak 28 kali lipat menjadi US$ 3,09 juta, dengan tingkat penyerapan pasar domestik hanya sekitar 70 persen dari total produksi pada kuartal II-2026.
Dari total pendapatan semester I-2026 sebesar US$ 95,85 juta, seluruhnya diserap oleh pasar domestik dengan komoditas emas menyumbang US$ 92,81 juta dan perak sebesar US$ 2,98 juta. PT Hartadinata Abadi Tbk menjadi pembeli terbesar dengan nilai US$ 44,71 juta, disusul PT Swarnim Murni Mulia senilai US$ 23,63 juta, serta pembeli baru seperti PT Simba Jaya Utama, PT Aneka Tambang Tbk (ANTM), dan PT Lotus Lingga Pratama.
Guna mengatasi masalah penyerapan pasar, anak usaha BRMS yaitu PT Citra Palu Minerals telah mengamankan perjanjian offtake dengan PT Aneka Tambang Tbk yang berlaku hingga Juni 2028. Seiring selesainya proses pushback pada Juli 2026 dan dimulainya penambangan di bukaan baru, volume produksi emas BRMS diproyeksikan kembali meningkat pada semester II-2026.
What's Your Reaction?
-
0
Like -
0
Dislike -
0
Funny -
0
Angry -
0
Sad -
0
Wow