RC Lens Hadapi OGC Nice di Final Coupe de France

Smallest Font
Largest Font

Racing Club de Lens dijadwalkan bertanding melawan OGC Nice dalam laga final Coupe de France pada Jumat, 22 Mei 2026 malam waktu setempat di Stade de France, Saint-Denis. Pertandingan perebutan juara ini menjadi momentum besar bagi Lens untuk mencetak sejarah baru setelah berkiprah selama 120 tahun.

Sekitar 50.000 pendukung Lens dilaporkan bakal memadati stadion berkapasitas besar tersebut demi memberikan dukungan langsung. Jumlah suporter yang berangkat ini melebihi total populasi kota Lens sendiri yang tercatat hanya memiliki 32.000 penduduk.

Di kubu lawan, OGC Nice tetap menampilkan kekuatan utama mereka meskipun dihadapkan pada jadwal babak penentuan degradasi Ligue 1 yang akan berlangsung pada 26 hingga 29 Mei 2026. Pelatih Nice, Claude Puel, memutuskan untuk tidak merotasi skuad dan memasang kiper Dupé serta memberikan kejutan dengan memainkan Coulibaly di lini tengah.

Pelatih RC Lens, Pierre Sage, yang baru saja meraih penghargaan pelatih terbaik Ligue 1, bertekad mempersembahkan trofi ini untuk melengkapi pencapaian musim mereka sebagai wakil juara liga. Sage juga memiliki ambisi pribadi setelah sebelumnya menelan kegagalan di kompetisi yang sama saat masih melatih Olympique Lyonnais.

"Ce serait la cerise sur le gâteau" ujar Adrien Thomasson, Gelandang RC Lens.

Thomasson menyampaikan pandangannya tersebut dalam sesi konferensi pers menjelang pertandingan melawan Nice. Dia berharap seluruh anggota tim bisa mendapatkan penghargaan yang setimpal atas kerja keras mereka di sepanjang musim ini.

"La finale n'est pas un cadeau empoisonné" kata Claude Puel, Pelatih OGC Nice.

Pernyataan tersebut menegaskan bahwa laga final ini bukan sebuah beban bagi Nice meskipun situasi tim sedang sulit di kompetisi domestik. Puel melihat laga ini sebagai peluang besar bagi skuadnya sebelum fokus menghadapi babak playoff untuk bertahan di kasta utama Prancis.

"On s'est dit que ce serait bien d'être la première génération à le faire" cetus Pierre Sage, Pelatih RC Lens.

Sage menyadari sejarah panjang Lens yang belum pernah memenangi trofi ini sejak klub didirikan. Baginya, status juara Liga Prancis 1998 yang disandang Lens terasa kurang lengkap tanpa adanya gelar Coupe de France dalam lemari piala mereka.

"Que représente la Coupe de France à vos yeux ? Une compétition que j'ai disputée à la fois en tant que joueur et entraîneur, la seule que j'ai en commun avec les joueurs qui composent mon vestiaire, car la Ligue 1, j'en étais bien loin. (Rires.) Je n'ai jamais connu d'épopée sur le terrain, mais je me rappelle quand même avoir sorti Lyon-La Duchère, une CFA 2, aux tirs au but avec Oyonnax, en 2003. Comme j'étais gardien et que j'ai arrêté deux penalties, on en avait plutôt parlé. Mais la Coupe, c'est aussi un échec pour moi en tant qu'entraîneur, puisque j'ai échoué deux fois avec l'OL, contre le PSG en finale mais aussi et surtout face à une équipe de niveau bien inférieur de National 3, l'année dernière, Bourgoin-Jallieu, aux tirs au but (2-2, 2-4 aux t.a.b., le 15 janvier 2025). Cette année, c'est l'occasion de vivre des jours plus heureux dans cette compétition représentative de l'entièreté du foot français." tambah Pierre Sage, Pelatih RC Lens.

Sage kemudian mengenang kembali momen dramatis saat timnya menyingkirkan Lyon di babak perempat final melalui drama adu penalti yang menegangkan pada 5 Maret lalu. Saat lawan menyamakan kedudukan pada menit akhir, pelatih berusia 47 tahun itu harus berusaha menenangkan mental para pemainnya di lapangan.

"La saison de rêve, ç'aurait été de faire le doublé avec la Ligue 1" tutur Pierre Sage, Pelatih RC Lens.

Meskipun demikian, Sage menilai keberhasilan membawa pulang piala akhir pekan ini akan tetap menjadikan musim ini terasa luar biasa bagi publik Lens. Berdasarkan laporan Franceinfo, atmosfer antusiasme yang sangat tinggi juga sudah menyelimuti seluruh area luar Stadion Bollaert-Delelis hingga ke toko-toko kue lokal di wilayah utara Prancis.

"On va gagner, on va gagner..." tegas Pierre Sage, Pelatih RC Lens.

Kalimat motivasi itu diulang berkali-kali oleh Sage kepada tim sebelum babak adu penalti melawan Lyon dilaksanakan. Kini, Lens yang lebih diunggulkan akan menghadapi Nice yang sedang berjuang keluar dari ancaman turun kasta ke Ligue 2.

"Quand le match va commencer, ça sera du 50-50" sebut Franck Haise, Mantan Pelatih OGC Nice dan Lens.

Pertandingan final ini akan dipimpin oleh wasit nasional dan disiarkan secara langsung melalui saluran televisi France TV dengan komentator olahraga Fabien Lévêque.

Follow pdiperjuanganbali.id Add to preferred sources on Google
Editors Team
Daisy Floren

What's Your Reaction?

  • Like
    0
    Like
  • Dislike
    0
    Dislike
  • Funny
    0
    Funny
  • Angry
    0
    Angry
  • Sad
    0
    Sad
  • Wow
    0
    Wow

Most viewed