Tim SAR Perluas Pencarian 8 Korban Hilang di Anak Krakatau

Smallest Font
Largest Font

Tim SAR gabungan memperluas area operasi pencarian hingga mencakup luas 6.649 mil laut persegi serta menyisir daratan pulau-pulau sekitar guna menemukan lima jurnalis dan tiga kru kapal yang hilang kontak di perairan Gunung Anak Krakatau, Selat Sunda, sejak Senin (7/9/2026).

Pencarian pada hari ketujuh, Senin (14/9/2026), mengerahkan armada sebanyak 18 kapal laut dan satu unit helikopter HR-3604 milik Basarnas. Wilayah penyisiran dibagi menjadi enam sektor utama, yaitu sektor X, Z, V, W, U, dan Y. Penyisiran paling ketat dipusatkan di sektor X dengan pengerahan 11 kapal karena terdapat beberapa temuan barang sejak hari ketiga pencarian.

"Untuk jumlah alut yang kita gunakan pada hari ketujuh ini alut laut 18 kapal, dan satu unit helikopter HR-3604 milik Basarnas," kata Kasi Ops Basarnas Banten, Rizky Dwiyanto.

Operasi pencarian difokuskan kembali pada area-area yang memiliki indikasi temuan awal.

"Untuk total luas area pencarian pada hari ketujuh ini adalah 6.649 nautical mile persegi," kata Rizky.

Penyisiran darat turut dilakukan mencakup Pesisir Perairan Pantai Carita hingga Pantai Anyar, serta pulau-pulau terdekat dari Gunung Anak Krakatau.

"Untuk sektor X karena memang di wilayah tersebut terdapat beberapa temuan dari mulai hari ketiga hingga kemarin, sehingga itu akan kita lakukan penyisiran ulang dan lebih fokus, mangkanya kita perbanyak alut di wilayah tersebut," katanya.

Tiga pulau utama di sekitar lokasi kejadian menjadi sasaran tim darat.

"Penyisiran darat rencananya akan dilakukan di Pesisir Perairan Pantai Carita sampai Pantai Anyar. Untuk daerah kepulauan, kita tetap laksanakan pencarian penyisiran darat, apalagi di sekitar Gunung Anak Krakatau," ujar Rizky.

Penyisiran tersebut menyasar area daratan di sekeliling Gunung Anak Krakatau.

"Pulau Sertung, Rakata Besar, Pulau Panjang," lanjut dia.

Pada hari keenam pencarian, petugas sempat menemukan sejumlah barang berupa dua terpal, tiga jaket keselamatan warna oranye, dan satu galon air di perairan. Namun, setelah diverifikasi, barang-barang tersebut dipastikan tidak berkaitan dengan para korban.

"Dua terpal, tiga jaket warna oranye dan satu galon," kata Kepala Kantor Pencarian dan Pertolongan Banten, Al Amrad.

Kementerian Komunikasi dan Digital (Komdigi) turut memantau pergerakan sinyal telepon seluler para korban dengan berkoordinasi bersama tiga operator seluler dan Balai Monitoring Banten serta Lampung. Koordinat terakhir telepon para korban terdeteksi berada di area Pulau Sebesi pada tanggal 7 September pukul 15.04 WIB sebelum komunikasi terputus total.

"Komdigi sejak awal, setelah menerima informasi ini, mengajak semua opsel (operator selular) dan infrastruktur yang di bawah Kementerian Komdigi untuk memantau sinyal-sinyal ataupun tanda-tanda dari penggunaan smartphone, misalnya di area yang diduga insiden kehilangan kontak ini terjadi," kata Wamenkomdigi Nezar Patria.

Pemantauan titik sinyal telepon dilakukan secara berkelanjutan.

"Seperti kita ketahui terakhir data yang terima adalah kontak terakhir pada tanggal 7 September, berada di Pulau Sebesi, dengan demikian kita terus memantau terus mencari," imbuhnya.

Koordinasi dengan stasiun transmisi seluler di sekitar Selat Sunda terus berjalan.

"Kalau Komdigi kita sudah berkoordinasi dengan tiga operator selular itu, semua mendeteksi BTS yang ada di seputaran Selat Sunda baik yang ada di Banten maupun yang ada di Lampung melalui balai monitoring yang ada di Banten dan Lampung. Kita terus melakukan pengecekan kalau ada sinyal-sinyal yang tertangkap," katanya.

Data sinyal tersebut langsung diteruskan ke tim SAR sebagai bahan acuan lapangan.

"Dari opsel kita sudah mendapatkan informasi, dan informasi itu sudah kita teruskan kepada SAR dan sudah diproses berupaya kontak terakhir di Pulau Sebesi," tambahnya.

Mengingat hasil pencarian hingga hari ketujuh masih nihil, Tim SAR gabungan resmi memperpanjang masa operasi pencarian selama tiga hari ke depan sesuai hasil evaluasi dan arahan pemerintah daerah.

"Saya menyampaikan evaluasi hasil operasi SAR hari ketujuh, yang kita laksanakan hari ini masih nihil. Dan hasil rapat koordinasi yang disampaikan Pak Gubernur, kita akan lanjutkan selama tiga hari ke depan," kata Kepala Kantor Pencarian dan Pertolongan Banten, Al Amrad.

Evaluasi menyeluruh terus dilakukan untuk memetakan wilayah yang belum terjangkau.

"Seperti biasanya tadi kita sudah sampaikan dari hari pertama sampai dengan hari ketujuh kita evaluasi kembali apa yang menjadi tantangan kita dan objek yang mana yang belum kita lalui," kata Al Amrad.

Selama operasi berlangsung, tim pencari menghadapi kendala cuaca berupa kabut tebal dan hembusan asap vulkanik dari Gunung Anak Krakatau yang membumbung hingga ketinggian 1.500 meter, yang sempat membatasi jarak pandang dan menghambat pemantauan udara.

"Hari ini saya hadir di sini, tadi juga kita dengan sarana udara, kita juga sempat masuk di perairan. Tapi memang kondisi bahwa yang terjadi saat ini jarak pandang memang terbatas dengan kalau kita lihat memang judulnya asap," ujar Kepala Basarnas, Marsekal Madya M Syafii.

Kondisi kabut dan asap tebal membatasi pengamatan visual dari pesawat udara.

"Kalau saya pribadi dengan pesawat tadi memang belum melihat," katanya.

Sebagai bentuk dukungan moral, puluhan jurnalis dari berbagai organisasi profesi seperti PFI, IJTI, AJI, AMSI, dan PWI menggelar aksi doa bersama, menyalakan lilin, dan menuliskan pesan harapan di atas kain putih di Taman Nasional Palu, Sulawesi Tengah, pada Senin malam.

"Sejauh ini untuk satu minggu berlalu, perkembangan terbaru dari teman-teman PFI Pusat belum ada informasi terkini dari rima tekan pewarta tersebut," ujarnya Ketua Pewarta Foto Indonesia (PFI) Palu Muhammad Rifki Hasan.

Dukungan moral diberikan agar proses pencarian berjalan optimal.

"Kami menyampaikan apresiasi dan terima kasih kepada Basarnas dan tim gabungan atas keputusan memperpanjang operasi pencarian selama tiga hari ke depan," kata dia.

Kantor Berita ANTARA yang salah satu jurnalisnya, Bagus Khoirunnas, ikut menjadi korban hilang, menyatakan komitmen penuh dalam mendukung operasi pencarian bersama aparat terkait.

"Dari awal ANTARA sebagai kantor berita memaksimalkan koordinasi dengan Basarnas, Polda Banten, termasuk keluarga mereka yang hingga kini belum ditemukan. Beberapa langkah yang sudah dilakukan ANTARA seperti ikut turun lapangan dalam pencarian bersama Basarnas. Bahkan tadi Direktur Utama Pemberitaan ANTARA juga ikut mencari bersama tim SAR," tuturnya Kepala LKBN ANTARA Biro Sulawesi Tengah Muhammad Zulfikar.

Apresiasi disampaikan atas seluruh pengerahan personel di lokasi musibah.

"Pemerintah telah mengerahkan semua sumber daya SAR, dan kami mengapresiasi kerja kerasnya tim SAR di lapangan," kata dia.

Follow pdiperjuanganbali.id Add to preferred sources on Google
Editors Team

What's Your Reaction?

  • Like
    0
    Like
  • Dislike
    0
    Dislike
  • Funny
    0
    Funny
  • Angry
    0
    Angry
  • Sad
    0
    Sad
  • Wow
    0
    Wow