Rupiah Menguat ke Rp17.930 per Dolar AS pada Jumat Pagi
Nilai tukar rupiah bergerak menguat sebesar 59 poin atau 0,33 persen menjadi Rp17.930 per dolar Amerika Serikat (AS) pada perdagangan Jumat (12/6/2026) pagi. Penguatan mata uang Garuda ini dipicu oleh respons positif pasar keuangan terhadap kebijakan mendadak Bank Indonesia yang menaikkan suku bunga acuan.
Kenaikan posisi rupiah pada Jumat pagi terjadi setelah penutupan perdagangan Kamis (11/6/2026) sebelumnya tertahan di level Rp17.989 per dolar AS menurut data ANTARA. Pergerakan mata uang domestik sempat mengalami fluktuasi besar sepanjang pekan kedua Juni 2026 setelah nyaris menyentuh level Rp18.200 per dolar AS pada Senin (8/6/2026) siang.
Research and Development Indonesia Commodity & Derivatives Exchange (ICDX) Muhammad Amru Syifa memberikan analisis mengenai pergerakan mata uang domestik yang mendapat sentimen positif dari kebijakan moneter terbaru.
"Pergerakan rupiah masih mendapat dukungan dari keputusan Bank Indonesia yang menaikkan suku bunga acuan menjadi 5,50 persen. Kebijakan tersebut mendapat respons positif dari investor asing dan turut meningkatkan minat terhadap aset domestik, sehingga membantu menjaga optimisme pelaku pasar terhadap pasar keuangan Indonesia," ungkap Amru kepada ANTARA.
Amru menambahkan bahwa dari sisi eksternal, pergerakan rupiah masih dibayangi tekanan inflasi AS dan perkembangan negosiasi antara AS dan Iran yang berpotensi memengaruhi pasokan energi global.
"Bagi Indonesia yang masih bergantung pada impor minyak, kondisi ini dapat mengurangi tekanan terhadap kebutuhan devisa dan memberikan sentimen positif bagi rupiah. Namun, karena belum ada kesepakatan final, pelaku pasar masih cenderung bersikap hati-hati," ujar Amru.
Analis mata uang Doo Financial Futures Lukman Leong menilai langkah bank sentral menaikkan BI Rate sebesar 25 basis poin menjadi 5,5 persen pada Selasa (9/6/2026) efektif memperbaiki sentimen pasar.
"Langkah BI menaikkan suku bunga dan rapat mingguan ini mensinyalkan bahwa BI akan lebih leluasa untuk kembali menaikkan suku bunga ke depannya," kata Lukman saat diwawancarai CNNIndonesia.com.
Lukman berpendapat bahwa selain faktor moneter, kebijakan pemerintah mengerek harga BBM nonsubsidi jenis Pertamax mulai 10 Juni 2026 turut meringankan beban fiskal.
"Kenaikan harga Pertamax juga positif karena menurunkan beban anggaran," ujarnya.
Pengamat pasar uang Ariston Tjendra menduga ada faktor pendorong lain di luar kebijakan suku bunga acuan yang menjaga stabilitas pasar keuangan domestik.
"Menurut saya ada intervensi dari BI dan pemerintah karena rupiah dan IHSG menguat bersamaan," ujar Ariston kepada CNNIndonesia.com.
Ariston menilai langkah intervensi tersebut diambil sebagai instrumen pendukung agar kebijakan moneter yang diputuskan secara mendadak awal pekan ini dapat bekerja optimal.
"Intervensi ini untuk mendukung kebijakan kenaikan suku bunga acuan BI secara mendadak dua hari lalu," ujarnya.
Wakil Ketua DPR RI Sufmi Dasco Ahmad mengimbau para investor yang masih menimbun mata uang greenback untuk segera melepas kepemilikan mereka ke pasar.
"Saya pikir kepercayaan terhadap pemerintah juga semakin kuat, sehingga itu juga berpengaruh terhadap pasar dan juga terhadap penguatan nilai tukar rupiah," ujar Dasco di Kompleks Parlemen seperti dikutip CNNIndonesia.com.
Dasco menerangkan bahwa penguatan nilai tukar juga didorong oleh perbaikan kinerja perekonomian nasional saat ini.
"Saya juga mendapatkan informasi dari pihak pemerintah dalam minggu ini dan ke depan, ada strategi-strategi khusus yang akan dilakukan oleh pemerintah yang kalau saya sudah dengar akan dan saya yakini akan membuat nilai tukar rupiah menguat," jelas Dasco kepada CNBC Indonesia.
What's Your Reaction?
-
0
Like -
0
Dislike -
0
Funny -
0
Angry -
0
Sad -
0
Wow