Rupiah Tembus Rp17.600 per Dolar AS dan Cetak Rekor Terlemah
Nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) mencetak rekor terlemah sepanjang sejarah setelah menyentuh level Rp17.600 per dolar AS pada Jumat (15/5/2026). Pelemahan tajam ini memicu lonjakan biaya produksi komoditas impor dan mendorong minat masyarakat terhadap investasi valuta asing.
Peneliti di Lembaga Penyelidikan Ekonomi dan Masyarakat (LPEM FEB UI) Teuku Riefky menjelaskan bahwa depresiasi rupiah menyebabkan harga bahan baku impor yang menggunakan transaksi dolar AS terkerek naik. Kondisi tersebut memaksa produsen domestik untuk memilih antara menaikkan harga jual atau memangkas margin keuntungan.
"Ini membuat cost of production (biaya produksi) produsen domestik menjadi semakin mahal," kata Teuku Riefky, peneliti di Lembaga Penyelidikan Ekonomi dan Masyarakat (LPEM FEB UI).
Riefky menambahkan bahwa situasi ini berujung pada peningkatan beban pengeluaran masyarakat dalam memenuhi kebutuhan hidup harian.
"Implikasinya terhadap masyarakat sehari-hari adalah tentu biaya hidup yang akan semakin mahal," katanya.
Faktor eksternal seperti perang AS-Israel dengan Iran sejak 28 Februari 2026 turut memicu aliran modal keluar dari negara berkembang. Di sisi domestik, lembaga Moody's dan Fitch memberikan peringatan prospek negatif akibat tingginya belanja negara di tengah pendapatan yang rendah.
"Faktor eksternal ini dirasakan bukan hanya Indonesia, tapi berbagai negara berkembang itu merasakan arus modal keluar, sehingga itu melemahkan rupiah," kata Riefky.
Dampak lonjakan harga bahan baku dirasakan langsung oleh pelaku usaha kecil seperti perajin tahu di Semarang, Joko Wiyatno, yang mengeluhkan kenaikan harga kedelai dari Rp7.000 menjadi Rp10.500 per kilogram.
"Kalau sekarang mau menaikkan harga, kurang pas juga sih karena daya belinya turun banget," kata Joko kepada wartawan Kamal yang melaporkan kepada BBC News Indonesia.
Sebagai solusi sementara, Joko terpaksa mengecilkan ukuran produk tahu dagangannya demi menyiasati sepinya pembeli di pasar.
"Padahal kalau kita kurangi kan otomatis tahunya jadi tipis atau kurang maksimal lah. Ukurannya agak kecil," ujarnya.
Strategi serupa diterapkan oleh Sururi, perajin tempe di Makassar yang menghadapi kenaikan harga modal kedelai menjadi Rp11.000 per kilogram.
"Kalau saya kasih naik harganya pasti konsumen lari ke tempat yang lain. Habis konsumen saya nanti," kata Sururi kepada wartawan Muh. Aidil yang melaporkan untuk BBC News Indonesia.
Meskipun harga internasional berada di angka Rp6.000 hingga Rp8.100, kajian NEXT Indonesia Center mencatat harga kedelai domestik tetap tinggi akibat kendali segelintir pelaku usaha besar.
"Nanti mau naik lagi [harganya]," kata laki-laki yang sudah membuat tempe selama 30 tahun lebih itu.
Kepala peneliti NEXT Ade Holis menyatakan selisih lebar harga impor domestik yang mencapai Rp13.300 hingga Rp15.100 per kilogram tidak bisa hanya dibebankan pada masalah logistik semata.
"Selisih harga yang lebar ini sulit dijelaskan hanya dengan alasan ada tambahan biaya logistik dan distribusi," Kepala peneliti NEXT, Ade Holis, mengatakan kajiannya itu masih relevan dengan depresiasi rupiah terhadap dolar yang terus terjadi.
Dosen Universitas Gadjah Mada, Hani Perwitasari, menilai rantai pemasaran yang panjang memicu terjadinya asimetris harga pada komoditas pangan impor.
"Kita namanya saluran pemasaran ya. dari petani ke pengepul, pengepul ke konsumen, bahkan mulai dari impor. Nah itu semakin panjang, itu kemungkinan asimetris harganya semakin tinggi," katanya.
Pakar ekonomi Universitas Hasanuddin Profesor Hamid Paddu menyebutkan pelemahan ini juga membebani sektor energi, mengingat Indonesia mengimpor lebih dari 50 persen kebutuhan minyaknya.
"Impor tentu dibeli dengan nilai mata uang, valuta asing, dalam hal ini dolar AS. Makanya, nilai tukar sangat mempengaruhi harga BBM," ujar dia dalam keterangannya di Jakarta, Sabtu.
Realisasi harga minyak dunia senilai 105 dolar AS per barel dan kurs saat ini telah melampaui asumsi APBN 2026 yang dipatok sebesar 70 dolar AS per barel dan Rp16.500 per dolar AS.
"Berarti untuk impor, beban energi minyak sudah kena dua kali. Pertama kena dari harga minyak dunia kemudian dari kurs," katanya.
Hamid menilai penyesuaian harga BBM nonsubsidi oleh Pertamina merupakan langkah otomatis pasar demi menghindari dampak finansial yang berat pada BUMN.
"Itu otomatis, karena ini kan market. Sejak lima tahun lalu, badan usaha swasta dan Pertamina selalu menyesuaikan harga BBM Non Subsidi dengan harga pasar. Jadi begitu bahan bakunya naik, dia harus menaikkan BBM," ujarnya.
Masyarakat dinilai telah memiliki literasi energi yang cukup baik sehingga perubahan harga BBM nonsubsidi jarang memicu gejolak sosial.
"Makanya sekian tahun tidak pernah ada gejolak kalau harga BBM nonsubsidi berubah. Masyarakat sudah tahu bahwa BBM nonsubsidi sesuai mekanisme pasar. Kalau naik harga bahan baku-nya, BBM-nya juga naik," ujarnya.
Di sisi lain, perencana keuangan Aidil Akbar Madjid melihat fenomena pelemahan mata uang ini mendorong minat investasi dolar AS sebagai instrumen lindung nilai.
"Sekarang ini masyarakat Indonesia sedang berada di titik terendah terhadap tingkat kepercayaan pada pemerintahannya. Kondisi semakin penuh ketidakpastian," ujar Aidil kepada CNNIndonesia.com, Kamis (14/5).
Jika Bank Indonesia dan Kementerian Keuangan tidak melakukan intervensi signifikan, dolar AS diprediksi tetap menguat.
"Kalau ini tidak ada perubahan signifikan di luar intervensi Bank Indonesia maupun Kementerian Keuangan, saya masih melihat dolar cukup kuat bertengger di angka Rp17.400-Rp17.500, bahkan kecenderungannya bisa melemah lagi (rupiahnya)," katanya.
Namun, investor pemula diingatkan untuk mengecek kondisi arus kas dan memastikan ketersediaan dana darurat sebelum membeli valas.
"Apakah dia sudah punya emergency fund, kemudian apakah investasi dolarnya bagian dari dana darurat, kondisi cashflow-nya oke atau tidak, apakah ada kelebihan dana setiap bulannya yang bisa diinvestasikan," ujarnya.
Ketidaksiapan terhadap risiko fluktuasi kurs dapat memicu kerugian jangka pendek bagi para pemegang modal.
"Kalau ternyata mereka investasi sekarang terus dolarnya turun ke Rp16.500, berarti akan ada kerugian dalam jangka pendek. Jadi harus siap dulu dengan risiko turunnya nilai dolar," katanya.
Aidil merekomendasikan kepemilikan dolar fisik atau simpanan valas yang likuid agar investor bisa mencairkan keuntungan sewaktu-waktu.
"Kalau saya melihatnya sekarang lebih baik pegang yang liquid, artinya dolar fisik atau valas," ujarnya.
Melalui kepemilikan instrumen likuid, momentum kenaikan nilai tukar yang tinggi bisa dimanfaatkan secara optimal.
"Kalau tiba-tiba harganya naik ke Rp18 ribu atau Rp20 ribu per dolar AS, bisa juga take profit di situ," katanya.
Investasi mata uang asing ini dinilai aman untuk simpanan jangka panjang dengan rata-rata kenaikan tahunan berkisar 5 hingga 6 persen.
"Dolar ini hampir sama seperti emas. Disimpan jangka panjang pun enggak masalah karena rata-rata kenaikannya sekitar 5-6 persen per tahun," ujarnya.
Aidil juga menyarankan metode pencicilan secara bertahap daripada membeli sekaligus dalam jumlah besar.
"Jangan langsung beli all in. Dicicil saja supaya kalau tiba-tiba dolar turun, kerugiannya enggak terlalu besar," katanya.
Sementara itu, perencana keuangan OneShildt Consulting Agustina Fitria menegaskan bahwa investasi valas memerlukan target keuangan jangka panjang yang jelas.
"Investasi apa pun sebaiknya dilakukan untuk jangka panjang dan tujuan yang terarah," ujar Fitria kepada CNNIndonesia.com.
Bagi masyarakat yang memiliki pendapatan langsung dalam mata uang dolar AS, investasi dapat dilakukan secara konsisten.
"Jika sumber pemasukan dalam dolar, maka juga bisa langsung diinvestasikan dalam dolar tanpa melihat apakah dolar sedang naik atau turun," katanya.
Fitria mengingatkan agar investor tidak menunda pembelian hanya demi menunggu momentum penurunan kurs.
"Yang sering terjadi adalah menunggu momentum dolar turun baru berinvestasi, malah uangnya sudah keburu terpakai untuk konsumsi," ujarnya.
Sebagai alternatif tabungan konvensional, instrumen reksa dana dolar atau obligasi dolar dapat dipilih, meskipun penjualan obligasi sebelum jatuh tempo memiliki risiko penurunan harga.
"Menjual obligasi sebelum jatuh tempo berisiko penurunan harga dan juga kesulitan likuiditas," katanya.
What's Your Reaction?
-
0
Like -
0
Dislike -
0
Funny -
0
Angry -
0
Sad -
0
Wow