Rupiah Melemah ke Rp17.611 Jelang Rapat FOMC Federal Reserve

Smallest Font
Largest Font

Nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat mengakhiri perdagangan pekan lalu dengan pelemahan 0,36 persen ke level Rp17.611 per dolar AS pada Jumat (11/9/2026). Penurunan mata uang Garuda terjadi menjelang rapat Federal Open Market Committee atau FOMC yang digelar awal pekan ini.

Data Refinitiv mencatat rupiah sempat tertekan hingga level terendah harian Rp17.620 per dolar AS sebelum memangkas sebagian pelemahan di akhir sesi perdagangan. Kendati melemah secara harian, pergerakan nilai tukar rupiah tercatat masih membukukan penguatan 0,26 persen dalam sepekan terakhir.

Penguatan indeks dolar AS yang mengukur greenback terhadap enam mata uang utama dunia turut memicu tekanan pada mata uang negara berkembang. Sementara itu, lonjakan harga energi di tengah memanasnya konflik Timur Tengah dan ketegangan Rusia-Ukraina meningkatkan ekspektasi kenaikan suku bunga acuan Federal Reserve.

Pengamat Ekonomi, Mata Uang, dan Komoditas Ibrahim Assuaibi menilai pergerakan rupiah pada pekan depan sejalan dengan indeks dolar AS yang diproyeksikan berada pada rentang 90,30 hingga 100,20. Kondisi fundamental global dan potensi lonjakan harga minyak West Texas Intermediate hingga 103,50 dolar AS per barel memicu kekhawatiran inflasi.

"Untuk rupiah sendiri kemungkinan mengalami pelemahan ya mencapai Rp 17.850-an, bisa saja lebih dari Rp 17.850-an," ujar Ibrahim Assuaibi, Pengamat Ekonomi, Mata Uang, dan Komoditas.

Gangguan jalur pelayaran strategis di kawasan Timur Tengah diproyeksikan bakal melambungkan harga komoditas energi global. Tekanan inflasi tersebut berpotensi menggerus daya beli serta mempersempit ruang tabungan masyarakat kelas menengah.

"Ini yang membuat harga minyak mentah terus mengalami kenaikan yang cukup signifikan," ujar Ibrahim Assuaibi, Pengamat Ekonomi, Mata Uang, dan Komoditas.

Berdasarkan indikator CME FedWatch, probabilitas kenaikan suku bunga The Fed sebesar 25 basis poin pada pertemuan 15-16 September 2026 kini mencapai 71,3 persen. Pelaku pasar saat ini mencermati rilis data inflasi konsumen AS yang akan menjadi petunjuk arah kebijakan moneter selanjutnya.

Follow pdiperjuanganbali.id Add to preferred sources on Google
Editors Team
Daisy Floren

What's Your Reaction?

  • Like
    0
    Like
  • Dislike
    0
    Dislike
  • Funny
    0
    Funny
  • Angry
    0
    Angry
  • Sad
    0
    Sad
  • Wow
    0
    Wow

Most viewed