Saham Teknologi Anjlok Seret Indeks KOSPI Korea Selatan Sepuluh Persen

Smallest Font
Largest Font

Pasar saham Korea Selatan mengalami guncangan besar setelah indeks acuan KOSPI merosot 9,99 persen atau kehilangan 910,71 poin ke level 8.203,84 pada perdagangan Selasa (23/6/2026). Penurunan tajam yang dipicu oleh aksi jual masif investor asing terhadap saham sektor cip ini terjadi setelah regulator memberikan peringatan mengenai potensi pemanasan berlebih pada reksa dana ETF berdaya ungkit (leveraged ETF).

Dilansir dari Reuters, kejatuhan ini menjadi penurunan harian terdalam sejak Maret lalu dan sempat memicu penghentian perdagangan otomatis selama 20 menit di bursa Seoul. Dua raksasa semikonduktor, Samsung Electronics dan SK Hynix, memimpin kemerosotan dengan masing-masing kehilangan nilai pasar lebih dari 12 persen.

Koreksi mendalam ini menggarisbawahi tingginya volatilitas di bursa Korea Selatan yang kini didominasi oleh industri cip. Gejolak bursa ini juga dipengaruhi oleh sentimen negatif dari Wall Street, di mana indeks Nasdaq melemah akibat penurunan saham raksasa teknologi seperti Amazon, Nvidia, Microsoft, serta kejatuhan saham SpaceX milik Elon Musk hingga belasan persen setelah pengumuman rencana penawaran obligasi perdana.

Kepala Strategi Ekuitas CLSA, Alexander Redman menilai situasi ini menunjukkan tingginya keterlibatan investor ritel yang memanfaatkan margin utang untuk membeli saham.

"Volatility has blown out. (This kind of volatility) cannot be explained without heavy retail engagement," kata Alexander Redman, Chief Equity Strategist CLSA.

Redman juga menyoroti kebijakan regulator yang melonggarkan izin bagi ETF berdaya ungkit untuk sekuritas tunggal sehingga memperparah volatilitas pasar.

"What worries me is that retailers are in the driving seat, because they use a lot of margin, though the ratio to market cap is small. What is more worrying is that regulators have now allowed leveraged single security ETFs, pouring fuel onto the fire," ujar Alexander Redman.

Kepala Lembaga Riset Ekonomi Hyundai Research Institute, Joo Won menjelaskan kepada AFP bahwa koreksi ini merupakan respons atas kenaikan harga saham cip yang sebelumnya dinilai terlalu cepat.

"The move appears to reflect South Korean semiconductor stocks having risen too far, too fast, prompting aggressive selling by both foreign investors and domestic institutions," kata Joo Won, Head of the Economic Research Division Hyundai Research Institute.

Joo Won menambahkan bahwa skala penurunan ini mencerminkan adanya tekanan jual lanjutan yang berpotensi membuat investor memilih untuk mengamankan keuntungan terlebih dahulu.

"The scale of the decline also appears excessive. More importantly, the sell-off could signal that investors are beginning a broader process of reducing their positions. In other words, there may still be considerable selling pressure waiting in the wings," tutur Joo Won.

Ia mengamati kecenderungan para pelaku pasar untuk melakukan aksi ambil untung sebelum kembali menilai ulang kondisi pasar modal kedepan.

"Having accumulated sizable gains during the rally, many investors could be inclined to cash out first and reassess later," ucap Joo Won.

Kejatuhan di Seoul merembet ke bursa regional Asia lainnya, di mana indeks Tokyo melemah 3,6 persen yang disusul oleh penurunan di Hong Kong, Shanghai, Taipei, Jakarta, hingga bursa utama Eropa seperti London dan Paris. Di pasar domestik Korea Selatan, imbal hasil obligasi negara bertenor 3 tahun turun menjadi 3,772 persen, sedangkan imbal hasil obligasi 10 tahun turun menjadi 4,179 persen.

Follow pdiperjuanganbali.id Add to preferred sources on Google
Editors Team
Daisy Floren

What's Your Reaction?

  • Like
    0
    Like
  • Dislike
    0
    Dislike
  • Funny
    0
    Funny
  • Angry
    0
    Angry
  • Sad
    0
    Sad
  • Wow
    0
    Wow

Most viewed