Beban Utang AS dan Gejolak Obligasi Tekan Bursa Wall Street
Bursa saham Wall Street mencatat penurunan mingguan setelah pergerakan pasar terus tertekan oleh lonjakan imbal hasil obligasi Treasury AS dan peningkatan beban pembayaran bunga utang pemerintah pada perdagangan yang berakhir Jumat (21/8/2026).
Indeks S&P 500 terkoreksi 1,43 persen dan Nasdaq melemah 2,05 persen sepanjang pekan, menghentikan tren kenaikan tiga pekan berturut-turut. Sementara itu, Dow Jones Industrial Average merosot 0,85 persen, mencatatkan penurunan mingguan untuk pekan kedua berturut-turut.
Tekanan di pasar obligasi dipicu oleh kekhawatiran terhadap defisit anggaran AS serta melonjaknya imbal hasil surat utang bertenor 30 tahun yang sempat menyentuh level 5,27 persen pada akhir Juli. Lonjakan tersebut berdampak langsung pada pembengkakan biaya penerbitan utang baru pemerintah.
Untuk meredam gejolak likuiditas dan menekan kenaikan imbal hasil, Departemen Keuangan AS melipatgandakan nilai pembelian kembali (buyback) obligasi Treasury menjadi 4 miliar dolar AS per operasi. Langkah intervensi ini dijadwalkan berlangsung mulai 9 September hingga 4 November.
Dalam 12 bulan terakhir, pemerintah AS telah menghabiskan sekitar 1,4 triliun dolar AS hanya untuk membayar bunga utang. Beban tersebut diperkirakan terus membengkak hingga mencapai 1,7 triliun dolar AS per tahun pada November 2028 jika kenaikan suku bunga terus berlanjut.
Kenaikan imbal hasil obligasi ini merembet ke sektor riil, termasuk mendorong potensi kenaikan suku bunga hipotek perumahan di AS hingga menembus 7 persen serta meningkatkan biaya kredit bagi dunia usaha.
Meskipun demikian, sentimen pasar saham sempat membaik pada sesi akhir pekan setelah didukung oleh pertumbuhan kuat sektor jasa AS pada Agustus dan kenaikan proyeksi target S&P 500 oleh UBS Global Wealth Management ke level 8.100.
Kondisi pasar keuangan global kini juga memicu kekhawatiran terkait potensi volatilitas arus modal ke negara berkembang, meskipun pasar Surat Berharga Negara (SBN) Indonesia diperkirakan masih memiliki daya tahan yang relatif stabil.
"Di pertengahan pekan, investor saham khawatir imbal hasil obligasi akan terus naik tanpa henti. Dengan pengumuman dari Departemen Keuangan, investor sekarang tidak terlalu khawatir lagi," kata Chris Zaccarelli, Chief Investment Officer Northlight Asset Management di Charlotte, North Carolina.
Fokus para pelaku pasar selanjutnya tertuju pada rilis laporan keuangan kuartalan produsen chip AI Nvidia serta publikasi data Personal Consumption Expenditures (PCE) untuk mengukur arah kebijakan suku bunga Federal Reserve mendatang.
What's Your Reaction?
-
0
Like -
0
Dislike -
0
Funny -
0
Angry -
0
Sad -
0
Wow