Seniman Kaltim Siapkan Pagelaran Seni Peringati Hari Kebangkitan Nasional

Smallest Font
Largest Font

Seribuan pelaku seni dan budayawan di Kalimantan Timur menjadwalkan aksi pertunjukan kebudayaan dan dialog kebangsaan di halaman Kantor Gubernur Kalimantan Timur, Kota Samarinda, pada Rabu (20/5/2026). Momentum Hari Kebangkitan Nasional tersebut dimanfaatkan sebagai wadah mendesak pemerintah daerah agar meningkatkan perhatian terhadap pelestarian adat lokal.

Acara bertema 'Menuju Kaltim yang Lebih Baik, Beradat, Beradab dan Berbudaya' ini diinisiasi oleh Sanggar Seni Panji Keroan Koetai Bersatoe bersama sejumlah paguyuban seni setempat. Rangkaian kegiatan direncanakan mulai bergulir pada pukul 10.00 WITA tepat setelah upacara resmi kedinasan selesai dilaksanakan.

Pihak penyelenggara mengonfirmasi bahwa sudah ada sembilan paguyuban seni yang dipastikan terlibat, dengan potensi total massa mencapai lebih dari 2.000 orang. Kesenian tradisional dan modern yang akan ditampilkan meliputi tari Jepen, tari perang, tarian Kenyah, reog, campursari, pertunjukan tarsul, hingga aksi flashmob bersama penonton.

Panggung kreativitas ini juga dirancang untuk melibatkan lintas generasi pelaku seni, mulai dari tingkat taman kanak-kanak hingga pelajar sekolah menengah kejuruan. Selain aspek hiburan, perhelatan ini menjadi saluran bagi komunitas kebudayaan setempat untuk mengutarakan keluhan terkait minimnya dukungan fasilitas.

"Kami ingin mengadakan acara ini pas Hari Kebangkitan Nasional, hanya untuk bicara seni. Kebangkitan daripada seni dan budaya Kaltim," ujar Awang Irwan Setiawan, Pembina Sanggar Seni Panji Keroan Koetai Bersatoe kepada Niaga.Asia pada Sabtu (16/5/2026).

Ia menambahkan bahwa seluruh rangkaian penampilan budaya sengaja disatukan untuk menegaskan arah pergerakan moral para seniman daerah.

"Intinya pagelaran seni dan budaya dalam memperingati Hari Kebangkitan Nasional untuk Kaltim yang lebih beradab, beradat dan berbudaya," jelas Awang Irwan Setiawan.

Pihak panitia juga mempersiapkan ruang interaksi bagi penonton untuk ikut menari bersama dalam salah satu sesi pertunjukan utama.

"Mungkin nanti yang hadir bisa 2.000-an lebih," sebut Awang Irwan Setiawan.

Dialog kebudayaan sengaja dimasukkan ke dalam agenda agar suara para penggiat seni didengar langsung oleh jajaran pejabat daerah.

"Nah dialog budaya itu, para unek-unek pecinta seni kami minta menyampaikan aspirasi kepada Pemerintah Provinsi Kaltim," kata Awang Irwan Setiawan.

Evaluasi mengenai tata cara adat juga disoroti akibat adanya insiden kekeliruan pemasangan pakaian adat dalam agenda kunjungan pejabat pusat sebelumnya.

"Apabila ada acara penyambutan, mengerti tentang tata kramanya. Jangan sampai salah-salah. Seperti kemarin, salah menyematkan atribut Dayak perempuan kepada Menteri PKP Maruarar Sirait dan Mendagri Tito Karnavian ," tutur Awang Irwan Setiawan.

Ia mengeluhkan persoalan pembiayaan serta akses ruang kreasi yang dinilai masih sangat terbatas bagi para budayawan lokal.

"Karena seni dan budaya ini kurang perhatian saya lihat. Anggarannya sangat kecil sekali. Tempat untuk kami berkreasi pun tidak segampang," tegas Awang Irwan Setiawan.

Di sisi lain, peringatan Hari Kebangkitan Nasional secara global juga dirayakan publik melalui penyebaran pesan motivasi di media sosial untuk membangun semangat kolektif. Dilansir dari rri.co.id, terdapat sepuluh pesan inspiratif yang beredar di masyarakat, antara lain: "Bangkit bukan soal cepat, tapi soal tidak berhenti.", "Dari sejarah, kita belajar untuk terus melangkah.", "Saatnya generasi muda menjadi penggerak perubahan.", "Kebangkitan dimulai dari langkah kecil yang konsisten.", "Indonesia butuh aksi nyata, bukan sekadar wacana.", "Pelan tidak apa-apa, yang penting tetap berkembang.", "Bangkit itu soal konsistensi, bukan semangat sesaat.", "Jangan hanya menjadi penonton, mulailah ambil peran.", "Upgrade diri adalah bentuk kontribusi untuk negeri.", dan "Terus bergerak, karena masa depan tidak menunggu."

Namun, dalam sudut pandang akademis, momen tahunan ini dinilai membutuhkan refleksi mendalam agar tidak bergeser menjadi sekadar seremoni politik yang kosong dari nilai subtansial. Guru Besar Fakultas Bahasa, Seni, dan Budaya Universitas Negeri Yogyakarta, Prof. Dr. Kasiyan, M.Hum., melalui ulasannya di krjogja.com memberikan kritik tajam terhadap kondisi kemerosotan moral sosial dan hilangnya daya kritis publik saat ini.

Panitia penyelenggara di Samarinda mengonfirmasi telah melayangkan surat pemberitahuan resmi terkait rencana aksi kebudayaan tersebut kepada Pemerintah Provinsi Kalimantan Timur.

Follow pdiperjuanganbali.id Add to preferred sources on Google
Editors Team

What's Your Reaction?

  • Like
    0
    Like
  • Dislike
    0
    Dislike
  • Funny
    0
    Funny
  • Angry
    0
    Angry
  • Sad
    0
    Sad
  • Wow
    0
    Wow

Most viewed