Spanyol Kirim Pasukan Militer Perketat Perbatasan Ceuta dari Imigran

Smallest Font
Largest Font

Pemerintah Spanyol memobilisasi bala bantuan militer beserta ratusan aparat kepolisian ke wilayah eksklave Ceuta guna menahan gelombang kedatangan ribuan imigran ilegal asal Maroko yang menyeberang melalui jalur laut dan darat pada Kamis (30/7/2026).

Pengerahan pasukan tambahan sebanyak 200 personel polisi khusus dan 60 tentara dari daratan utama Spanyol tersebut dilakukan untuk menopang aparat keamanan lokal yang mulai kewalahan. Langkah pengetatan keamanan ini diambil seiring meningkatnya eskalasi di area perbatasan Afrika Utara, termasuk insiden kerusuhan di pintu perlintasan Beni Ansar, Melilla, yang mengakibatkan tiga kendaraan terbakar serta jatuh korban luka.

Aksi penyeberangan massal menuju wilayah Spanyol seluas 18,5 kilometer persegi tersebut diwarnai bentrokan. Petugas keamanan Maroko di Fnideq sempat menembakkan meriam air untuk menghalau massa. Kendati demikian, sebagian imigran berhasil menembus barikade dan memasuki kawasan Ceuta.

"Ini sangat sulit. Polisi mencoba menghentikan kami. Tetapi kemauan dan tekad kami memungkinkan kami untuk datang ke sini," kata Jadid Zacaria, seorang imigran.

Rangkaian upaya penyeberangan berisiko tinggi tersebut mencatatkan sembilan korban jiwa akibat tenggelam di laut. Secara keseluruhan, jumlah imigran yang tewas dalam upaya penerobosan perbatasan di wilayah itu telah mencapai 60 orang selama beberapa bulan terakhir.

Selain faktor keamanan, gelombang kedatangan migran ini terdorong oleh faktor ekonomi serta daya tarik kebijakan Perdana Menteri Spanyol Pedro Sanchez. Pemerintah Spanyol meluncurkan program legalisasi imigran guna mengisi kebutuhan tenaga kerja asing dan mendukung penerimaan pajak negara.

Dampak penyerobotan perbatasan memicu kecemasan warga lokal dan pelaku usaha di Ceuta. Banyak pemilik toko memilih menghentikan aktivitas operasional mereka guna mengantisipasi potensi penjarahan.

"Saya tidak akan buka siang ini karena situasinya sangat tegang... Hal pertama yang harus saya lakukan adalah melindungi bisnis dan keluarga saya," kata Enrique Serrano, seorang pemilik toko pakaian wanita.

Hingga saat ini, otoritas Spanyol terus menyisir area perbatasan guna mengamankan wilayah eksklave tersebut, sementara jajaran kepolisian berjaga ketat di sekitar pemecah gelombang Tarajal.

Follow pdiperjuanganbali.id Add to preferred sources on Google
Editors Team
Daisy Floren

What's Your Reaction?

  • Like
    0
    Like
  • Dislike
    0
    Dislike
  • Funny
    0
    Funny
  • Angry
    0
    Angry
  • Sad
    0
    Sad
  • Wow
    0
    Wow

Most viewed