Pengusaha Ungkap Strategi Merancang Mal untuk Pikat Pengunjung

Smallest Font
Largest Font
Table of Contents
[ Show ]

Pusat perbelanjaan atau mal dirancang secara khusus untuk menarik minat masyarakat serta memberikan kenyamanan agar pengunjung betah menghabiskan waktu di dalamnya. Pemilihan nama hingga tata letak setiap toko memperhitungkan strategi bisnis matang, seperti dilansir dari Detikcom.

Ketua Umum Asosiasi Pengelola Pusat Belanja Indonesia (APPBI) Alphonzus Widjaja menjelaskan bahwa tidak ada pedoman baku dalam penamaan pusat perbelanjaan. Penggunaan istilah asing seperti mall, square, atau plaza murni mengacu pada konsep kreativitas dan inovasi pengembang.

"Penamaan pusat perbelanjaan adalah lebih bersifat sangat bebas," kata Alphonzus kepada Detikcom.

Mayoritas gedung pusat perbelanjaan dibuat melebar secara horizontal dibandingkan menjulang tinggi secara vertikal. Ketua Ikatan Arsitek Indonesia (IAI) Jakarta Teguh Aryanto mengungkapkan bahwa kecenderungan pergerakan pengunjung mal lebih dominan ke arah horizontal.

"Kecenderungan pengunjung tidak bergerak secara vertikal namun lebih ke arah horizontal," ujar Teguh kepada Detikcom pada Minggu (16/8/2026).

Panduan khusus untuk desain mal memang tidak ada, tetapi aspek sirkulasi pengunjung dan keunikan rancangan menjadi prioritas utama. Luas lahan yang tersedia juga mempengaruhi keputusan apakah mal dibangun melebar atau meninggi.

Alphonzus menambahkan bahwa bentuk horizontal mempermudah pengunjung mengelilingi seluruh area mal. Kendati demikian, beberapa pusat perbelanjaan modern yang terdiri dari belasan lantai tetap ramai dikunjungi masyarakat.

"Bukan berarti tidak ada pusat perbelanjaan yang vertikal. Cukup banyak pusat perbelanjaan yang terdiri dari lebih 10 lantai dan ramai dikunjungi," lanjut Alphonzus.

Pengelompokan Tenant dan Penempatan Bioskop

Pengelola mal menerapkan sistem zoning atau pengelompokan tenant yang sejenis dalam satu area. Penataan lokasi toko pada umumnya fleksibel, kecuali untuk fasilitas area hiburan seperti bioskop.

Bioskop hampir selalu ditempatkan di lantai paling atas gedung mal. Persyaratan teknis ruang bioskop membutuhkan spesifikasi konstruksi khusus yang berbeda dari toko ritel biasa.

"Kecuali memang bioskop pada umumnya ditempatkan di lantai paling atas karena memerlukan ketinggian atap yang jauh lebih daripada toko-toko lainnya dan harus terbebas dari tiang-tiang," terang Alphonzus.

Teguh menyampaikan hal serupa terkait kebutuhan teknis ruang pemutaran film di dalam area mal. Struktur lantai berundak serta plafon tinggi membuat posisi paling atas menjadi lokasi paling ideal.

"Bioskop diperlukan level atap atau plafon yang tinggi dengan lantai yg berundak sehingga lantai paling atas adalah lantai yang paling memungkinkan di dalam sebuah mal," tutur Teguh.

Follow pdiperjuanganbali.id Add to preferred sources on Google
Editors Team
Daisy Floren

What's Your Reaction?

  • Like
    0
    Like
  • Dislike
    0
    Dislike
  • Funny
    0
    Funny
  • Angry
    0
    Angry
  • Sad
    0
    Sad
  • Wow
    0
    Wow

Most viewed