Suku Bunga Federal Reserve Tetap Picu Kejatuhan Bursa Wall Street
Bursa saham Wall Street di Amerika Serikat mengalami penurunan tajam dan nilai mata uang dolar AS melonjak pada Kamis (17/6/2026) setelah bank sentral Federal Reserve memutuskan untuk tidak mengubah suku bunga acuan mereka. Kebijakan moneter dalam rapat perdana di bawah kepemimpinan Ketua Baru Kevin Warsh tersebut memicu kekhawatiran pasar karena disertai sinyal kuat mengenai potensi kenaikan biaya pinjaman sebelum akhir tahun 2026 di tengah inflasi yang tetap tinggi. Berdasarkan data ekonomi kuartalan terbaru, Federal Reserve juga menghapus klausul pelonggaran kebijakan moneter yang sebelumnya ada, di mana sembilan pejabat bank sentral kini mengantisipasi adanya kenaikan suku bunga.
Para pembuat kebijakan di bank sentral Amerika Serikat tersebut terpantau semakin pesimistis terhadap laju inflasi dengan menaikkan proyeksi inflasi PCE akhir tahun menjadi 3,6 persen, naik signifikan dari perkiraan sebesar 2,7 persen pada bulan Maret lalu.
Langkah pengetatan moneter ini langsung berdampak pada sektor jasa komunikasi dan saham-saham cip di bursa, sementara imbal hasil obligasi pemerintah Amerika Serikat merangkak naik dan harga komoditas emas bergerak ke zona negatif setelah keputusan tersebut diumumkan. Mantan Presiden Donald Trump turut memberikan respons singkat mengenai arah kebijakan suku bunga di bawah kepemimpinan Kevin Warsh yang memilih untuk menahan tingkat suku bunga pada pertemuan kali ini.
"It's all right. Whatever." kata Donald Trump. Pernyataan singkat tersebut menjadi tanggapan atas langkah awal Kevin Warsh yang juga menolak memberikan proyeksi jalur suku bunga pribadi dan memilih untuk meluncurkan tinjauan ulang terhadap sistem komunikasi bank sentral ke publik.
What's Your Reaction?
-
0
Like -
0
Dislike -
0
Funny -
0
Angry -
0
Sad -
0
Wow