UBS Proyeksikan Indeks FTSE 100 Sentuh 11.000 Akhir Tahun Ini

Smallest Font
Largest Font

Bank Swiss UBS memproyeksikan indeks acuan saham unggulan Inggris FTSE 100 akan meningkat sebesar 9 persen ke level 11.000 pada akhir tahun 2026 dan mencapai 11.300 pada Juni 2027. Kenaikan performa korporasi yang tangguh dan harga minyak mentah menjadi pendorong utama optimisme pasar ekuitas ini meskipun kondisi ekonomi global masih dibayangi ketidakpastian.

Dilansir dari laporan ii.co.uk dan Proactive Investors, ahli strategi ekuitas UBS Matthew Gilman menjelaskan bahwa valuasi pasar Inggris saat ini berada pada level yang wajar, yakni 12,4 kali perkiraan laba masa depan, sedikit di bawah rata-rata jangka panjang sejak 1990 sebesar 12,8 kali. Pihaknya memperkirakan pertumbuhan laba korporasi di Inggris tahun ini naik menjadi 11 persen, melonjak dibandingkan proyeksi awal tahun 2026 yang hanya sebesar 5 persen, sebelum tumbuh 10 persen pada tahun 2027.

Meskipun memiliki latar belakang yang mendukung, UBS tetap mempertahankan peringkat netral untuk ekuitas Inggris karena lebih memilih pasar yang bersifat siklikal atau memiliki pertumbuhan struktural yang lebih tinggi. Sekitar 75 hingga 80 persen pendapatan FTSE 100 dihasilkan di luar Inggris, sehingga pelemahan nilai tukar pound sterling justru dapat menopang keuntungan dalam mata uang lokal.

UBS memprediksi pergerakan indeks tersebut dalam tiga skenario berbeda yang dipengaruhi oleh komoditas, obligasi, dan dinamika perdagangan global. Dalam skenario optimistis, indeks dapat melonjak 19 persen hingga menyentuh 12.300 pada Juni 2027 apabila didorong pertumbuhan global yang kuat, harga komoditas tinggi, dan pelemahan sterling. Sebaliknya, skenario terburuk menunjukkan potensi penurunan hingga 26 persen ke level 7.700 jika terjadi perang dagang, penurunan harga komoditas, dan lonjakan imbal hasil obligasi.

"This should continue to support UK equities, but we see a brighter outlook for other regions." ujar UBS dalam nota risetnya kepada klien Global Wealth Management.

Pihak bank menambahkan bahwa dalam skenario utama mereka, gangguan energi diperkirakan berlangsung singkat, sehingga potensi keuntungan lebih besar ada pada pasar yang lebih siklikal yang mengalami kelemahan terbesar dalam beberapa bulan terakhir. Selain itu, keterpaparan tinggi Inggris pada sektor energi serta bobot yang relatif rendah di sektor industri membuat kawasan ini mungkin tidak mendapat keuntungan besar dari pemulihan manufaktur yang diantisipasi dari tren kecerdasan buatan (AI), elektrifikasi, dan pengeluaran pertahanan.

Sektor komoditas sendiri menyumbang sekitar 25 persen dari keseluruhan keuntungan di dalam indeks. Di tengah iklim makroekonomi ini, korporasi raksasa seperti Shell Plc menjadi salah satu peluang yang disorot analis karena memiliki model bisnis energi yang terdiversifikasi mulai dari minyak, gas, LNG, hingga energi terbarukan.

Follow pdiperjuanganbali.id Add to preferred sources on Google
Editors Team
Daisy Floren

What's Your Reaction?

  • Like
    0
    Like
  • Dislike
    0
    Dislike
  • Funny
    0
    Funny
  • Angry
    0
    Angry
  • Sad
    0
    Sad
  • Wow
    0
    Wow

Most viewed