William Saliba Siap Tahan Nyeri demi Prancis di Piala Dunia 2026

Smallest Font
Largest Font

Bek tengah tim nasional Prancis, William Saliba, menegaskan kesiapannya untuk bertanding menahan rasa sakit akibat cedera punggung demi membela negaranya pada ajang Piala Dunia 2026 yang berlangsung pada Juni 2026.

Kondisi fisik pemain asal klub Arsenal tersebut dikonfirmasi belum mencapai tingkat kebugaran penuh menjelang pertandingan kedua fase grup melawan Irak.

Meskipun demikian, pelatih Prancis Didier Deschamps memastikan sang pemain tetap siap untuk diturunkan dalam laga krusial tersebut guna mengejar rekor kemenangan beruntun Les Bleus.

Berdasarkan prediksi superkomputer Opta, Prancis saat ini menjadi tim yang paling difavoritkan untuk mengangkat trofi dengan peluang sekitar 15 persen.

"Piala Dunia hanya datang sekali dalam empat tahun. Karena itu, Anda harus tetap berjuang dan menahan rasa sakit jika diperlukan," kata William Saliba kepada media harian.disway.id.

Pemain berusia 25 tahun itu menyadari bahwa situasi kebugaran yang kurang ideal juga dialami oleh para pesepak bola lain di tengah kompetisi yang padat.

"Saya memang belum berada dalam kondisi terbaik, tetapi banyak pemain lain yang juga tidak 100 persen fit. Jadi saya tidak ingin mencari alasan," tambah William Saliba.

Di sisi lain, Saliba juga memendam motivasi tambahan dalam turnamen ini setelah hanya mendapatkan menit bermain yang sangat minim pada edisi sebelumnya di Qatar.

"I’m someone who prefers to speak only when there’s something to say," kata William Saliba kepada GQ.

Ia merasa bahwa seorang pemain sepak bola harus lebih dulu membuktikan kualitasnya lewat raihan trofi yang nyata sebelum banyak berbicara kepada publik.

"Trophies are what make people remember you," cetus William Saliba.

Selain ambisi internasional, bek kelahiran Bondy ini juga merefleksikan perjalanannya yang sempat terpuruk pada akhir tahun 2020 akibat duka mendalam pasca-kepergian ibunya dan proses adaptasi yang berat.

"I was really bad, I was never in the group," ungkap William Saliba kepada L'Equipe.

Kini, setelah berhasil membawa Arsenal menjuarai Liga Inggris musim 2025/2026, ia mencanangkan target besar untuk meraih gelar juara secara konsisten pada setiap musim baru.

"I’m shifting into a mindset where, every year from now on, we have to win at least one trophy," ujar William Saliba kepada Daily Cannon.

Ia mengingatkan rekan-rekan setimnya di London Utara agar tidak cepat puas dan langsung mengalihkan fokus pada kompetisi musim depan, termasuk laga Community Shield melawan Manchester City pada Agustus mendatang.

"The worst thing would be to stop and savor the moment. It’s fantastic, we won, we celebrated the title. But as soon as the season starts again, we’re back to winning again. There’s no question of stopping here," tutur William Saliba.

Pemain bernomor punggung dua tersebut mengincar status sebagai legenda klub dengan cara membangun era dominasi yang panjang di kancah domestik maupun Eropa.

"We’ve made Arsenal history, but I want to become a legend. To do that, we need to create a dynasty, to win again," ucap William Saliba.

Di dalam skuad, Saliba sangat memahami posisinya yang bermain sebagai pemain bertahan, sehingga popularitasnya cenderung berbeda jika dibandingkan dengan barisan penyerang bintang.

"God decided I’d be a centre-back, and I’m very happy with that. Even if I’d had to be a goalkeeper to turn professional, I would have done it. When you’re a kid, you tend to watch the strikers more — the ones who score, who make the decisive passes; they’re the ones who get you most excited.

If I’d been able to, I’d have been a striker and scored 30 goals a season. I’m not a star like Mbappé or Dembélé, but in my position I’m one of the best," urai William Saliba.

Bagi pertahanan Les Bleus sendiri, ia memilih gaya kepemimpinan yang lebih taktis melalui komunikasi intensif di lapangan pertandingan ketimbang menjadi sosok vokal di dalam ruang ganti.

"It’s clear that I’m not someone who’s going to speak up in the locker room like Mike [Maignan] or Kylian [Mbappé]," aku William Saliba.

Menurutnya, posisi bek tengah memberikan keuntungan visual yang luas sehingga sangat krusial untuk mengorganisasi pergerakan rekan setim demi memenangkan duel.

"But as a defender, I operate on the principle that you have to talk a lot to your teammates on the pitch, because you see everything. So I try to do that. And then play well and win my duels. That’s how you make your mark on a team," pungkas William Saliba.

Saliba juga tidak menutup diri mengenai ambisinya untuk membawa Prancis membalaskan kekalahan menyakitkan dari tim nasional Argentina pada laga final Piala Dunia edisi empat tahun lalu.

"Argentina. When a team beats you the way they beat us, you want to play them again. You want revenge," tandas William Saliba kepada Goal.

Prancis tercatat selalu memenangkan dua laga awal fase grup dalam tiga edisi Piala Dunia sebelumnya, dan kini berpeluang memperpanjang rekor tersebut saat menghadapi Irak.

Follow pdiperjuanganbali.id Add to preferred sources on Google
Editors Team
Daisy Floren

What's Your Reaction?

  • Like
    0
    Like
  • Dislike
    0
    Dislike
  • Funny
    0
    Funny
  • Angry
    0
    Angry
  • Sad
    0
    Sad
  • Wow
    0
    Wow

Most viewed