William Saliba Siap Bela Prancis Lawan Senegal di Piala Dunia 2026
Bek tengah Arsenal, William Saliba, dipastikan siap memperkuat Tim Nasional Prancis dalam pertandingan pembuka Grup I Piala Dunia 2026 melawan Senegal di East Rutherford, New Jersey, pada Selasa malam waktu setempat setelah pulih dari cedera punggung.
Kondisi kebugaran pemain berusia 25 tahun tersebut sempat memicu kekhawatiran karena ia mengalami cedera punggung menjelang akhir musim domestik dan harus menjalani pemindaian medis awal bulan ini. Kendati demikian, Saliba tetap tampil penuh selama 120 menit dalam laga final Liga Champions di Budapest pada 30 Mei saat Arsenal takluk dari Paris Saint-Germain, sebelum akhirnya bergabung dengan pemusatan latihan Les Bleus.
Pelatih Timnas Prancis, Didier Deschamps, menegaskan bahwa Saliba tetap menjadi bagian penting dari rencana strateginya di lini pertahanan Prancis. Deschamps juga menyadari adanya persaingan ketat di dalam skuad karena seluruh pemain berambisi untuk masuk ke dalam daftar susunan pemain utama.
"William is fine and will be managed," kata Didier Deschamps, Pelatih Prancis kepada ESPN.
"They all want to be in the starting lineup. We'll be mindful of the frustration that this can create. Also, because of the specific situation in the United States, the gap between each match, we'll learn other things," tambah Didier Deschamps.
Saliba, yang menempati peringkat kedua dalam daftar bek tengah terbaik dunia versi FourFourTwo, tercatat telah bermain sebanyak 54 kali untuk klub dan negara sepanjang musim ini. Perjalanan kariernya menuju level elite diwarnai perjuangan berat, termasuk saat ia kehilangan ibunya di usia 19 tahun dan sempat diasingkan ke tim Arsenal U-23 oleh manajer Mikel Arteta pada musim 2020/2021.
“95 % of players who would have experienced what he went through would have given up“, ujar Fabio Frasconi, mantan pelatih masa kecil Saliba di Bondy.
“It was something we rarely talked about, it was so hard for him”, kenang Ateef Konaté, sahabat masa kecil Saliba dan mantan gelandang Nottingham Forest.
“With the loss of my mother, nothing was going right and everything was difficult. It was the worst year of my life“, ungkap William Saliba kepada L'Equipe mengenai masa-masa sulitnya.
“With all due respect to anyone, it wasn't the Arsenal of today. I cost €30m and I found myself playing with the U23s. It was tough, my mood was really low because I knew that, even if I trained well, I wouldn't play,” tutur William Saliba.
Setelah melewati masa pinjaman yang sukses di Nice dan Marseille, Saliba kembali ke London utara dan bertransformasi menjadi pilar pertahanan kokoh yang disegani di Liga Premier Inggris. Dalam wawancara terpisah dengan GQ, Saliba merefleksikan statusnya saat ini dan ambisinya untuk meraih trofi-trofi besar demi mengukuhkan reputasinya secara global.
“Trophies are what make people remember you,” kata William Saliba kepada GQ.
“Football is a team sport. I’m still missing the big titles, and once I’ve got those, it’ll be even better. I believe I am one of the best defenders in the world,” lanjut William Saliba.
“God decided I’d be a centre-back, and I’m very happy with that,” jelas William Saliba mengenai posisi bermainnya.
“When you’re a kid, you tend to watch the strikers more - the ones who score, who make the decisive passes; they’re the ones who get you most excited. If I’d been able to, I’d have been a striker and scored 30 goals a season. I’m not a star like Mbappé or Dembélé, but in my position I’m one of the best,” cetus William Saliba membandingkan ketenarannya dengan para penyerang.
“It’s clear that I’m not someone who’s going to speak up in the locker room like Maignan or Mbappé,” aku William Saliba mengenai gaya kepemimpinannya.
“But as a defender, I operate on the principle that you have to talk a lot to your teammates on the pitch, because you see everything. So I try to do that. And then play well and win my duels. That’s how you make your mark on a team,” jabar William Saliba.
“Argentina. When a team beats you the way they beat us, you want to play them again. You want revenge,” tegas William Saliba mengutarakan ambisi pembalasan dendamnya atas kekalahan di final Piala Dunia 2022.
Setelah menghadapi Senegal, Timnas Prancis dijadwalkan akan bertolak ke Philadelphia untuk melawan Irak pada Senin, disusul dengan laga terakhir fase grup melawan Norwegia di Boston pada Jumat, 26 Mei.
What's Your Reaction?
-
0
Like -
0
Dislike -
0
Funny -
0
Angry -
0
Sad -
0
Wow