Zelensky Tolak Pemilu Ukraina di Tengah Situasi Perang

Smallest Font
Largest Font

Presiden Volodymyr Zelensky menegaskan penolakannya terhadap penyelenggaraan pemilihan umum di Ukraina selama masa perang melawan invasi Rusia. Sikap tersebut disampaikan dalam taklimat pers bersama para jurnalis pada Sabtu (22/8/2026) di Kiev, menyusul munculnya seruan dari mantan Menteri Pertahanan Mykhailo Fedorov. Ukraina resmi menangguhkan pemilu berdasarkan aturan darurat militer sejak invasi Rusia dimulai pada 2022.

Langkah penangguhan ini sejauh ini didukung oleh mayoritas masyarakat yang fokus pada pertahanan negara. "Saya yakin bahwa dalam perang seperti ini, pemilihan umum merupakan risiko yang sangat besar. Pemilu saat ini ibarat tsunami bagi negara yang akan memecah belah Ukraina," ujar Zelensky, Presiden Ukraina.

Penolakan tegas tersebut berpotensi memicu konsekuensi politik di tengah tingginya tekanan perang. Zelensky menilai ide menggelar pemungutan suara di masa konflik hanya akan membawa kehancuran internal.

"Jika kita ingin menghancurkan negara ini, maka kita bisa melangkah ke arah penyelenggaraan pemilu di masa perang seperti sekarang," tambah Zelensky, Presiden Ukraina. Gagasan pemilu masa perang sebelumnya dilontarkan oleh Mykhailo Fedorov pada 18 Agustus 2026 setelah dicopot dari jabatannya. Langkah politisi yang mempelopori strategi perang nirawak itu mengejutkan publik karena tidak disertai peta jalan yang jelas.

Pencopotan Fedorov pada 15 Juli 2026 dipicu konflik internal yang sangat serius dengan Panglima Angkatan Bersenjata Oleksandr Syrskyi. Zelensky menyebut perselisihan itu terjadi akibat tumpang tindih pembagian tanggung jawab antara Kementerian Pertahanan dan komando militer. Panglima Syrskyi kemudian turut diganti oleh Mykhailo Drapatyi pada 21 Juli 2026. Kendati demikian, gelombang protes sempat muncul di jalanan Kiev menuntut pengembalian posisi Fedorov.

Para pakar menilai pelaksanaan pemilu sulit direalisasikan akibat teknis pemungutan suara bagi jutaan pengungsi, prajurit di garis depan, serta ancaman disinformasi Rusia. Jajak pendapat Institut Sosiologi Kyiv mencatat hanya 15 persen warga yang menginginkan pemilu sebelum perang berakhir. "Sejak kapan pemasaran mulai mengalahkan orang-orang yang mengorbankan nyawa mereka?" kata Zelensky, Presiden Ukraina.

Zelensky mengingatkan agar demonstrasi masyarakat tidak sampai menunjukkan sikap tidak hormat kepada angkatan bersenjata. Ia menegaskan prioritas utama saat ini adalah menjaga persatuan nasional di tengah peningkatan intensitas serangan rudal dan drone Rusia.

"Saya percaya bahwa masyarakat dan tentara tidak boleh dipisahkan," kata Zelensky, Presiden Ukraina.

Follow pdiperjuanganbali.id Add to preferred sources on Google
Editors Team

What's Your Reaction?

  • Like
    0
    Like
  • Dislike
    0
    Dislike
  • Funny
    0
    Funny
  • Angry
    0
    Angry
  • Sad
    0
    Sad
  • Wow
    0
    Wow

Most viewed