Akademisi Universitas Johns Hopkins Kritik Sikap Pasif Otoritas Harvard
Pengajar sejarah Yahudi modern dari Universitas Johns Hopkins, James Loeffler, mengkritik respons pasif otoritas universitas terhadap isu antisemitisme dalam simposium di Rubenstein Treehouse, Allston, Kamis, 14 Hari 2026.
Kritik tersebut disampaikan dalam pertemuan bertajuk Antisemitisme dan Universitas yang diselenggarakan oleh Universitas Harvard untuk mengkaji tantangan komunitas Yahudi di lingkungan pendidikan tinggi.
Loeffler menyoroti adanya dualisme rasa kepemilikan yang dialami oleh akademisi saat mendukung konsentrasi studi etnis di institusi tersebut.
"a sense of belonging and not belonging," ujar James Loeffler, pengajar sejarah Yahudi modern.
Kritik tajam kemudian diarahkan Loeffler pada sikap otoritas kampus yang dinilai tidak responsif saat unjuk rasa kelompok nasionalis kulit putih pecah di Charlottesville pada tahun 2017.
"What was also shocking to me," kata James Loeffler, pengajar sejarah Yahudi modern.
Pimpinan universitas saat itu dinilai sengaja menghindari penggunaan istilah antisemitisme secara eksplisit dalam pernyataan publik mereka, sebuah pola yang dianggapnya diikuti oleh institusi lain.
"Jews will not replace us," kenang James Loeffler, Sejarawan Universitas Johns Hopkins.
Lebih lanjut, Loeffler memperingatkan adanya risiko birokratisasi penanganan antisemitisme yang dapat mengalihkan perhatian dari bentuk diskriminasi lain seperti rasisme serta seksisme.
"did not mention Jews or antisemitism," papar James Loeffler, Sejarawan Universitas Johns Hopkins.
Sikap ragu-ragu dari kepemimpinan politik turut disayangkan oleh Loeffler, yang menegaskan perlunya konsistensi universitas dalam menegakkan komitmen keberagaman.
"the silence was also deafening," tambah James Loeffler, Sejarawan Universitas Johns Hopkins.
Menurutnya, mereduksi penanganan kebencian menjadi sebuah kebijakan tunggal yang kaku berpotensi mencederai upaya kolektif seluruh komunitas akademik kampus.
"very fine people on both sides," tutur James Loeffler, Sejarawan Universitas Johns Hopkins.
Kendati demikian, Loeffler tetap memandang institusi pendidikan tinggi sebagai ruang terbaik untuk menyelesaikan kebuntuan sosial melalui pencarian kebenaran yang jujur.
"Fighting antisemitism became a policy…to the point of elevating it to a primary concern while simultaneously downgrading other hatreds and other concerns," ujar James Loeffler, pengajar sejarah Yahudi modern.
Upaya universitas dalam membangun ruang akademik yang inklusif diakui masih membutuhkan proses panjang yang dinamis.
"The university is unfinished," kata James Loeffler, pengajar sejarah Yahudi modern.
"but the work of fearless inquiry, respect for difference, the pursuit of truth that unites rather than divides, that work continues," lanjut James Loeffler, pengajar sejarah Yahudi modern.
Pada sesi pembukaan, Profesor Universitas Porter, Noah Feldman, memaparkan dinamika sejarah Harvard terkait kebijakan pembatasan kuota mahasiswa Yahudi pada era 1920-an di bawah Presiden A. Lawrence Lowell.
"I was raised with two stories about Harvard, both of which I believe to be true," ujar Noah Feldman, Profesor Universitas Porter.
Feldman menilai persilangan rekam jejak historis tersebut harus dipahami oleh sivitas akademika dalam menyikapi dinamika sosial yang berkembang di dalam kampus saat ini.
"to come to terms with changing circumstances in the world and on campus and their effects on Jewish experience here," kata Noah Feldman, Profesor Universitas Porter.
Sementara itu, Profesor studi Yahudi Dartmouth, Susannah Heschel, menyamakan situasi sosiologis kampus Amerika saat ini dengan ambivalensi di universitas-universitas Jerman pada abad ke-19.
Sejarawan Universitas Ben-Gurion, Arieh Saposnik, menambahkan bahwa narasi anti-Zionis dalam demonstrasi mahasiswa terkait perang di Gaza sering kali mendiskreditkan hak historis masyarakat Yahudi.
"From the river to the sea," sebut Arieh Saposnik, Sejarawan Universitas Ben-Gurion.
Saposnik berargumen bahwa simplifikasi tersebut secara bias menyamakan identitas Yahudi dengan kekuatan kolonial Eropa masa lalu.
"assume the status of Jews as unequivocally foreign invaders who have no interest in Palestine that is in any way different from the interests of European imperial powers in the territories they captured," ujar Arieh Saposnik, sejarawan Universitas Ben-Gurion.
Di sisi lain, Intercollegiate Sailing Association (ICSA) mengumumkan daftar All-Academic Team 2025-26 yang meloloskan sejumlah atlet dari Universitas Harvard, Universitas Brown, dan Universitas Hawaiʻi at Mānoa di tengah berlangsungnya kompetisi Kejuaraan Nasional Fleet Racing ICSA di St. Petersburg, Florida.
What's Your Reaction?
-
0
Like -
0
Dislike -
0
Funny -
0
Angry -
0
Sad -
0
Wow