Aksi Jual Massal Jatuhkan IHSG ke Level 5342
Aksi jual massal oleh para pelaku pasar modal memicu kemerosotan tajam Indeks Harga Saham Gabungan hingga menyentuh level 5.342,14 pada akhir perdagangan Senin (8/6/2026).
Dilansir dari cnbcindonesia.com, indeks nasional tersebut anjlok sebesar 252,63 poin atau setara 4,52 persen setelah sempat menyentuh titik terendah harian di level 5.317,91. Penurunan masif ini memperpanjang tren koreksi bursa domestik dalam tiga bulan terakhir, sekaligus mengakumulasi pelemahan hingga 38 persen sejak awal tahun 2026.
Mengutip data RTI via 20.detik.com, tekanan sudah terlihat sejak pembukaan perdagangan pagi hari ketika indeks langsung terkoreksi 3,26 persen ke posisi 5.412,32. Kepanikan investor membuat gelombang pelepasan saham terjadi secara agresif hanya dalam kurun waktu 10 menit pertama perdagangan.
Sentimen negatif global bersumber dari eskalasi konflik di Timur Tengah setelah Iran meluncurkan serangan rudal ke wilayah Israel pada Minggu (7/6/2026). Selain itu, investor asing mengkhawatirkan ketahanan fiskal dalam negeri di tengah lonjakan harga energi dunia serta penguatan indeks dolar AS yang memicu arus modal keluar dari pasar berkembang.
Tekanan jual melanda hampir seluruh sektor di bursa dengan koreksi terdalam dipimpin oleh saham-saham sektor teknologi, kesehatan, dan konsumer non-primer. Sejumlah emiten berkapitalisasi besar seperti TLKM, BBRI, serta saham perbankan besar seperti BBCA dan BMRI kompak menjadi pemberat utama indeks saham hari ini.
Tercatat sebanyak 661 saham mengalami pelemahan, sedangkan saham yang menguat dan stagnan masing-masing hanya berjumlah 78 saham. Transaksi perdagangan harian bursa domestik membukukan nilai total Rp 21,73 triliun dengan volume mencapai 32,52 miliar lembar saham.
Di tengah tekanan eksternal tersebut, pemerintah menyatakan kondisi keuangan negara masih berada dalam koridor yang aman sesuai dengan target rancangan tahunan.
"Realisasi APBN sampai Mei 2026 terus menunjukkan positif," kata Purbaya, Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa.
Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa menjelaskan posisi defisit anggaran per Mei 2026 berada di angka Rp 180,4 triliun atau berkisar 0,70 persen dari PDB. Pengelolaan pembiayaan anggaran dipastikan tetap berjalan secara fleksibel, prudent, dan efisien demi merespons dinamika pasar keuangan global yang sedang bergejolak.
Di sisi lain, pergerakan nilai tukar rupiah terpantau mengalami tekanan hebat hingga melemah ke posisi Rp 18.000 per dolar AS dalam sepekan terakhir akibat tingginya permintaan valuta asing di dalam negeri.
"Selain itu kebutuhan (dolar) domestik masih cukup besar sesuai dengan pola repatriasi dividen dan pembayaran ULN," kata Destry, Deputi Gubernur BI Destry Damayanti.
Deputi Gubernur BI Destry Damayanti menambahkan bahwa ketegangan geopolitik di Timur Tengah menghambat prospek perdamaian global serta mengerek naik harga minyak dunia. Kondisi tersebut memicu risiko inflasi global yang pada akhirnya mendorong investor mengalihkan dana mereka dari negara berkembang.
What's Your Reaction?
-
0
Like -
0
Dislike -
0
Funny -
0
Angry -
0
Sad -
0
Wow