Tekanan Global dan Domestik Jatuhkan IHSG ke Level 5.520
Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) anjlok sebesar 779,11 poin atau 1,38 persen ke level 5.520,8 pada perdagangan Senin (8/6/2026) akibat kombinasi tekanan pasar global dan domestik. Penurunan ini bahkan sempat membuat indeks saham domestik merosot hingga lebih dari 3 persen pada awal sesi perdagangan.
Koreksi tajam yang melanda pasar modal Indonesia ini berjalan selaras dengan tekanan yang sedang terjadi di mayoritas bursa global serta regional Asia. Kondisi eksternal tersebut memicu kekhawatiran besar bagi para pelaku pasar modal di dalam negeri.
Head of Retail Research MNC Sekuritas Herditya Wicaksana menjelaskan bahwa IHSG pada awal perdagangan hari ini bahkan sempat terkoreksi hingga melebihi angka 4 persen. Menurutnya, terdapat rilis data ekonomi dari Amerika Serikat yang menjadi pemicu utama datangnya sentimen negatif tersebut.
"Sentimen negatif muncul setelah rilis data tenaga kerja Amerika Serikat (AS) yang jauh lebih kuat dari perkiraan. Kondisi tersebut meningkatkan kekhawatiran pasar bahwa The Fed akan mempertahankan suku bunga tinggi lebih lama (higher for longer),” ungkap Didit kepada Investor Daily, Senin (8/6/2026).
Selain faktor tingginya suku bunga acuan global, pergerakan nilai tukar mata uang domestik juga ikut memberikan dampak negatif bagi bursa saham. Nilai tukar rupiah terpantau masih melanjutkan tren penurunan hingga menyentuh angka Rp18.165 per dolar AS.
"With kondisi tersebut, investor disarankan untuk bersikap lebih berhati-hati dalam menghadapi volatilitas pasar dalam jangka pendek," jelas Didit.
Sementara itu, pergerakan indeks dari sisi analisis teknikal menunjukkan adanya sinyal jenuh jual yang sangat kuat. Penurunan nilai indeks ini juga disertai dengan penyusutan pada volume perdagangan di bursa efek.
Senior Technical Analyst Mirae Asset Sekuritas Indonesia M Nafan Aji Gusta memberikan rekomendasi strategis bagi para pelaku pasar untuk menghadapi situasi fluktuatif ini. Ia menekankan pentingnya pemilihan aset investasi secara ketat.
"Fokus pada saham dengan fundamental solid, valuasi murah, serta yang menunjukkan potensi pembalikan tren. Selain itu, investor juga perlu disiplin dalam menerapkan manajemen risiko," ujar Nafan kepada Investor Daily, Senin (8/6/2026).
Dari dalam negeri, perhatian pasar tertuju pada isu kebijakan pemerintah dan kecemasan terkait revisi Undang-Undang Pengembangan dan Penguatan Sektor Keuangan (P2SK) yang dinilai berisiko mengganggu independensi lembaga keuangan. Pelaku pasar juga menyoroti realisasi defisit APBN hingga Mei 2026 yang menembus Rp180,4 triliun atau 0,7 persen terhadap PDB karena memicu keluarnya modal asing.
Pasar saat ini tengah menantikan rilis data cadangan devisa periode Mei 2026 yang dijadwalkan keluar pada awal pekan ini. Langkah Bank Indonesia dalam menjaga nilai tukar rupiah sangat bergantung pada rilis data tersebut.
"Data tersebut dipandang krusial dalam mendukung langkah Bank Indonesia menjaga stabilitas nilai tukar rupiah yang saat ini bertahan di atas Rp18.000 per dolar AS," tambah Nafan.
Pada aspek global, penambahan Nonfarm Payrolls Mei 2026 di AS tercatat sebanyak 172.000 pekerjaan, jauh melampaui konsensus pasar sebesar 85.000. Data ketenagakerjaan yang kuat ini mendorong lonjakan imbal hasil obligasi negara AS.
"Data tersebut memperkuat ekspektasi bahwa The Fed akan mempertahankan suku bunga tinggi lebih lama, sehingga mendorong kenaikan imbal hasil obligasi AS," jelas Nafan.
Kondisi pasar kian diperparah oleh naiknya sentimen menghindari risiko akibat eskalasi konflik geopolitik di Timur Tengah. Ketidakpastian negosiasi damai AS-Iran serta penolakan gencatan senjata Israel-Lebanon oleh Hizbullah membuat situasi semakin tidak menentu.
"Hal itu membuat investor global cenderung bersikap prudent," tutupnya.
What's Your Reaction?
-
0
Like -
0
Dislike -
0
Funny -
0
Angry -
0
Sad -
0
Wow