Analis Prediksi IHSG Melemah Akibat Rupiah Terdepresiasi

Smallest Font
Largest Font

Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) diproyeksikan melanjutkan tren pelemahan pada perdagangan Selasa, 19 Mei 2026 akibat tekanan depresiasi kurs rupiah dan lonjakan yield US Treasury. Kondisi tersebut memicu kekhawatiran terjadinya aliran modal keluar atau capital outflow dari pasar saham domestik.

Riset harian BRI Danareksa Sekuritas memaparkan bahwa indeks saham domestik tertekan oleh imbal hasil US Treasury yang berada di kisaran 4,6 persen dan penguatan dolar AS. Selain itu, nilai tukar rupiah yang melemah ke area Rp17.680 per dolar AS turut memperparah tekanan terhadap pasar emerging markets.

"Selain itu, pasar juga mencermati potensi peninjauan indeks FTSE Russell yang dapat meningkatkan volatilitas saham domestik," tulis BRI Danareksa dalam riset hariannya.

Secara analisis teknikal, indeks dinilai sedang berada dalam fase konsolidasi bearish. Kendati demikian, indikator jenuh jual atau oversold dinilai tetap membuka peluang terjadinya penguatan jangka pendek atau technical rebound.

"IHSG diproyeksikan bergerak pada rentang support 6.500 dan resistance 6.720, dengan fokus pasar tertuju pada keputusan suku bunga Bank Indonesia (BI) di tengah tekanan nilai tukar rupiah," tulisnya.

Sentimen domestik utama minggu ini tertuju pada pelaksanaan Rapat Dewan Gubernur (RDG) Bank Indonesia yang dijadwalkan berlangsung pada 19-20 Mei. Analisis dari MNC Sekuritas turut memproyeksikan pergerakan indeks masih rawan koreksi untuk menguji level 6.307 hingga 6.379.

"Hal ini berarti, IHSG masih akan rawan melanjutkan koreksinya untuk menguji 6.307-6.379," tulis MNC Sekuritas.

Lembaga sekuritas tersebut menetapkan area batas bawah atau support IHSG berada pada kisaran 6.270 sampai 6.148. Sementara itu, area batas atas atau resistance indeks dipatok pada level 6.588 hingga 6.707.

Dari sudut pandang teknikal lain, Senior Technical Analyst Mirae Asset Sekuritas Nafan Aji Gusta menjelaskan indikator RSI menunjukkan posisi indeks yang jenuh jual dan telah berhasil menguji target wave tertentu. Nafan menyoroti respons pelaku pasar terhadap pelemahan nilai tukar rupiah terhadap dolar AS.

"Sementara itu, Stochastics K_D menunjukkan sinyal negatif, namun volume mulai mengalami penaikan," ujar dia dalam riset hariannya.

Pelemahan mata uang garuda hingga menembus kisaran Rp17.668 ke Rp17.681 per dolar AS mencetak rekor terendah baru. Menurut Nafan, situasi ini meningkatkan persepsi risiko investasi di pasar aset Indonesia dan memicu proyeksi kebijakan moneter yang ketat.

"Melemahnya Rupiah ini menyebabkan terjadinya spekulasi kuat di pasar bahwa BI berpeluang besar menaikkan suku bunga acuan (BI Rate) sebesar 25 bps menjadi 5 persen dalam RDG BI yang dijadwalkan berlangsung pada 19–20 Mei 2026," jelasnya.

Intervensi berupa kenaikan suku bunga tersebut dinilai berpotensi menahan kejatuhan indeks lebih dalam jika direspons positif oleh pasar. Selain isu domestik, aktivitas penanam modal juga dipengaruhi oleh penataan ulang portofolio pada indeks global.

"Di sisi lain, pergerakan IHSG pada hari ini juga akan diwarnai oleh sikap antisipatif investor terhadap sentimen _rebalancing_ indeks global seperti MSCI dan FTSE," katanya.

Faktor eksternal lain yang membayangi pergerakan pasar saham berasal dari dinamika politik luar negeri antara Amerika Serikat dan Iran. Meskipun kedua negara melakukan penyesuaian proposal damai, kesepakatan diplomatik dinilai masih belum tercapai sepenuhnya.

"Bahkan Presiden Trump menegaskan untuk menunda serangan militer terhadap Iran yang direncanakan untuk hari Selasa ini," pungkasnya.

Follow pdiperjuanganbali.id Add to preferred sources on Google
Editors Team
Daisy Floren

What's Your Reaction?

  • Like
    0
    Like
  • Dislike
    0
    Dislike
  • Funny
    0
    Funny
  • Angry
    0
    Angry
  • Sad
    0
    Sad
  • Wow
    0
    Wow

Most viewed