Rupiah Melemah ke Level Rp17.547 per Dolar AS
Nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat ditutup melemah 36 poin atau 0,21 persen ke level Rp17.547 per dolar AS pada Kamis (10/9/2026). Penurunan ini dipicu oleh sikap kehati-hatian investor yang menantikan rilis data ekonomi penting dari Amerika Serikat.
Data Refinitiv juga mencatat rupiah terdepresiasi 0,17 persen dan mengakhiri perdagangan di posisi Rp17.530 per dolar AS. Pergerakan ini membalikkan penguatan signifikan yang terjadi pada hari sebelumnya, ketika rupiah sempat parkir di posisi Rp17.511 per dolar AS.
Analis Research and Development Indonesia Commodity & Derivatives Exchange, Muhammad Amru Syifa, menjelaskan bahwa pelaku pasar cenderung mengambil posisi menanti menjelang rilis data indeks harga produsen serta indeks harga konsumen Amerika Serikat.
"Pergerakan rupiah dipengaruhi oleh sikap investor yang cenderung menunggu sebelum mengambil posisi baru. Pasar saat ini menantikan rilis PPI AS pada Kamis malam dan CPI AS pada Jumat (11/9) malam," kata Muhammad Amru Syifa, Research and Development Indonesia Commodity & Derivatives Exchange.
Ia menuturkan bahwa laporan indikator inflasi tersebut akan berpengaruh besar terhadap kebijakan suku bunga The Federal Reserve. Selain itu, pendorongan imbal hasil obligasi pemerintah AS tenor 10 tahun ke kisaran 4,84 persen turut meningkatkan daya tarik aset berdenominasi dolar.
"Meskipun sentimen domestik masih positif dan dolar AS secara umum masih berada dalam tekanan, kenaikan yield US Treasury 10 tahun ke sekitar 4,84 persen kembali meningkatkan daya tarik aset berbasis dolar dan menahan penguatan rupiah," ujar Muhammad Amru Syifa.
Kenaikan harga minyak mentah Brent yang bertahan di atas level 100 dolar AS per barel juga memberikan porsi ketidakpastian tambahan. Kondisi ini dipicu oleh eskalasi ketegangan geopolitik dan konflik pelayaran di Selat Hormuz.
"Dalam jangka pendek, rupiah masih berpeluang melanjutkan penguatan dan diperkirakan bergerak di kisaran Rp17.450-Rp17.600 per dolar AS. Penguatan menuju area Rp17.450 akan lebih terbuka apabila pelemahan dolar berlanjut, sementara data inflasi AS yang lebih tinggi dari ekspektasi dapat kembali memberikan tekanan terhadap rupiah," kata Muhammad Amru Syifa.
Dari dalam negeri, penguatan ekonomi didukung oleh indeks keyakinan konsumen yang mencapai level 118,5 pada Agustus. Capaian tersebut menjadi angka tertinggi sejak awal tahun dan memicu optimisme pencapaian target pertumbuhan ekonomi nasional.
"Di luar ekspektasi, indeks keyakinan konsumen itu lebih tinggi dibandingkan di bulan Juli, yaitu di 118,5. Kenaikan ini adalah kenaikan terbaik dari bulan Januari tahun 2026," kata Ibrahim Assuaibi, Pengamat Mata Uang dan Komoditas.
Sementara itu, lonjakan harga minyak dunia dipastikan tidak langsung mengganggu ketahanan anggaran belanja negara dalam waktu dekat.
"Anggarannya masih cukup seperti yang kita hitung sebelumnya," kata Purbaya Yudhi Sadewa, Menteri Keuangan.
Pemerintah menegaskan bahwa kerangka fiskal APBN telah memperhitungkan potensi kenaikan harga minyak hingga 100 dolar AS per barel, sehingga belum ada rencana untuk menambah kuota subsidi energi saat ini.
What's Your Reaction?
-
0
Like -
0
Dislike -
0
Funny -
0
Angry -
0
Sad -
0
Wow